Ulasan
Review I Play Rocky: Kisah Stallone Kalah Besar dari Karakter Fiksinya
Rocky sudah begitu melekat di era masa kini sampai nama itu lebih besar dari orang yang menciptakannya. I Play Rocky muncul dengan kesempatan menarik untuk membalik keadaan: membawa kita melihat Sylvester Stallone sebelum menjadi Rocky, ketika dia masih aktor yang kesulitan mencari pekerjaan dan harus mempertaruhkan segalanya demi satu peran. Sayangnya, semakin film ini mendekati proses lahirnya Rocky, malah tenggelam di balik nama besar yang sudah telanjur kita kenal.
I Play Rocky merupakan drama biografi arahan Peter Farrelly, dengan skenario buatan Peter Gamble. Film ini diproduksi Baha Productions dan Fireside Films, lalu didistribusikan Amazon MGM Studios. Anthony Ippolito menjadi Sylvester Stallone muda, bersama AnnaSophia Robb sebagai Sasha Czack, P.J. Byrne sebagai Irwin Winkler, Toby Kebbell sebagai Robert Chartoff, Matt Dillon sebagai Frank Stallone Sr., Stephan James sebagai Carl Weathers, Jay Duplass sebagai John Avildsen, dan Kiki Seto sebagai Talia Shire. Durasi film sekitar 128 menit dan rilis pertama kali Toronto International Film Festival 2026 (TIFF).
Ceritanya membawa penonton ke masa ketika Sylvester Stallone masih berjuang sebagai aktor. Pekerjaan sulit didapat, uang terbatas, sementara ambisinya jauh lebih besar dari kesempatan yang tersedia. Di tengah kehidupan yang serba pas-pasan, dia menulis skrip berjudul Rocky, tentang Rocky Balboa, petinju kecil yang tiba-tiba mendapat kesempatan bertarung melawan juara dunia.
Naskah itu kemudian menarik perhatian produser Irwin Winkler dan Robert Chartoff. Masalah muncul ketika studio menginginkan aktor terkenal untuk memerankan Rocky. Stallone malah bersikeras memainkan karakter ciptaannya sendiri. Tawaran untuk membeli naskahnya terus naik hingga ratusan ribu dolar. Bagi aktor yang sedang kesulitan hidup, uang sebesar itu jelas menggoda. Sylvester Stallone tetap bertahan.
Dari sinilah film sebenarnya punya bumbu drama yang luar biasa. Sylvester Stallone belum tahu Rocky akan sukses. Dia juga belum tahu dirinya bakal jadi bintang besar. Yang dia punya cuma keyakinan bahwa karakter tersebut harus dimainkan olehnya.
Anthony Ippolito jadi alasan utama bagian awal film begitu hidup. Dia berhasil menangkap suara, gestur, kegugupan, dan keras kepala Stallone muda tanpa menjadikannya sekadar imitasi. Kehadiran Sasha juga memberi ruang bagi sisi Stallone yang lebih lembut dan personal. Kita melihat manusia yang sedang mengejar kesempatan, bukan sosok besar yang sudah tahu masa depannya.
Masalah mulai muncul ketika produksi Rocky berjalan. Film berubah jadi parade cerita di balik layar. Daging beku yang dipukul Stallone membuat tangannya bermasalah. Adegan arena seluncur es menghadirkan persoalan tersendiri. Penggunaan Steadicam ikut membantu produksi menghadapi keterbatasan waktu dan anggaran.
Semua itu menarik. Penggemar akan menikmati setiap detailnya. Namun buatku, rangkaian trivia tersebut perlahan menggeser pusat cerita. Film yang semula berbicara tentang Sylvester Stallone mulai lebih sibuk berbicara tentang Rocky si karakter fiksi itu.
I Play Rocky memiliki kisah tentang pria yang berani mempertahankan identitasnya dan keyakinannya ketika Hollywood ingin menentukan masa depan karakter fiksi itu diperankan orang lain. Namun filmnya sendiri perlahan kehilangan keberanian untuk fokus mengulik sosok Sylvester Stallone itu sendiri.
Kita sudah tahu Rocky akan booming, Sylvester Stallone akan mendapat peran itu, dan filmnya kemudian jadi salah satu karya paling dikenal dalam sejarah Hollywood. Karena hasil akhirnya sudah berada di depan mata, ketegangan seharusnya datang dari perjalanan Sylvester Stallone menuju titik tersebut.
Di bagian awal, film mampu membuat perjuangan itu terasa personal. Paruh berikutnya, sayangnya semakin sering ngajak kita mengagumi karakter Rocky lewat nostalgia. Adegan ikonik, proses syuting, dan berbagai fakta produksi jadi daya tarik utama yang disuguhkan. Akibatnya, perjuangan Sylvester Stallone seperti jalan menuju monumen yang sudah selesai dibangun.
Buatku, di situlah I Play Rocky kehilangan sebagian daya pikatnya. Kisah aktor yang mempertaruhkan ratusan ribu dolar demi memerankan karakter ciptaannya sendiri sebenarnya sudah cukup menarik tanpa harus terus meminjam kemegahan Rocky si karakter fiksi itu.
Intinya, kisah tentang Sylvester Stallone sebelum menjadi Rocky seharusnya bisa dibuat jauh lebih berani, lebih personal, dan lebih lama tinggal di sisi manusia yang mempertaruhkan semuanya. Kendati di pertengahan fokusnya cenderung lebih fokus ke karakter fiksi itu (Rocky), film in tetap layak dikulik lebih dalam buat Sobat Yoursay yang selama ini ngefans banget sama sang aktor. Selamat menonton.