Ulasan
Poret Pendidikan di Pinggiran Kuala Mesuji dalam Novel Anak-Anak Kuala
Gara-gara belum mendapatkan antrean Pareidolia, saya malah bertemu Anak-Anak Kuala. Dari sampulnya saja saya sempat mengira novel karya Fajar Mesaz ini akan membawa saya pada cerita tentang laut. Desainnya juga sederhana, penuh ruang putih dengan setitik gambar di sudut kanan atas. Ternyata dugaan saya meleset. Laut memang ada, tetapi yang lebih banyak saya temukan justru cerita tentang sekolah, guru, dan anak-anak yang berusaha belajar di tengah keterbatasan.
Di Kuala Mesuji, Lampung, pergi ke sekolah bukan perkara tinggal berjalan kaki atau menunggu kendaraan lewat. Anak-anak harus naik perahu dan sebagian mendayung sendiri. Sampai di sekolah pun mereka belum menemukan keadaan yang jauh lebih baik. Bangunannya sudah rusak dan rapuh. Guru hanya sedikit. Beberapa kelas bahkan harus digabung karena keterbatasan tenaga pengajar. Sekolah tetap berjalan, tetapi seperti sedang bertahan dari hari ke hari.
Melalui Bunda Lin, kehidupan anak-anak Kuala perlahan terbuka. Lin sendiri datang bukan dengan masa lalu yang baik-baik saja. Ia pernah hidup di lingkungan lokalisasi yang kemudian ditutup. Suaminya tidak bertanggung jawab. Uang pesangon yang diberikan ibunya untuk mendaftar haji malah hilang karena ditipu. Hidupnya berantakan sebelum akhirnya membawanya ke Kuala Mesuji.
Di tempat yang jauh dari kehidupan lamanya itu, Lin justru menemukan alasan untuk bertahan. Ia memilih mengurus anak-anak dan ikut mengajar meski pendidikan formalnya hanya sampai SMA. Padahal, sejak sekolah dulu Lin dikenal sebagai anak yang cerdas. Pilihannya untuk mengabdi terasa seperti usaha untuk membuat sesuatu dari hidup yang sempat berantakan.
Ada pula Jebat, seorang nelayan yang menyelamatkan Lin ketika ia tenggelam. Hubungan keduanya tumbuh perlahan. Ibu Jebat pun telah lama merindukan kehadiran seorang anak perempuan. Akan tetapi, kisah Lin dan Jebat bukan bagian yang paling membuat saya berhenti membaca. Yang lebih mengganggu pikiran justru sekolah dan anak-anak Kuala.
Sebab, persoalannya bukan cuma sekolah yang hampir roboh. Untuk mendapatkan pendidikan saja, anak-anak harus menempuh perjalanan dengan perahu. Guru yang datang dari luar daerah pun tidak selalu bertahan lama. Ada yang datang dengan niat ingin mengabdi dan mencerdaskan anak bangsa, tetapi kemudian pergi karena berbagai alasan. Akhirnya, pendidikan di Kuala kembali bergantung pada orang-orang yang tinggal di sana dan bersedia bertahan.
Kondisinya semakin rumit karena masyarakat Kuala tidak hanya berhadapan dengan keterbatasan pendidikan. Mereka juga hidup di tengah persoalan lingkungan, mulai dari kerusakan hutan hingga pencemaran limbah. Alam yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka perlahan ikut berubah. Di tengah semua itu, sekolah seharusnya menjadi salah satu jalan agar anak-anak mempunyai pilihan hidup yang lebih luas.
Bagian ini mengingatkan saya pada cerita-cerita Tere Liye tentang anak-anak di daerah terpencil yang harus berjuang demi sekolah. Namun, Anak-Anak Kuala membuat saya melihat perjuangan itu dari sisi yang sedikit berbeda. Kita sering mengagumi anak-anak yang tetap mau belajar meski harus menempuh perjalanan jauh, belajar dengan fasilitas seadanya, atau berada di tempat yang serba terbatas. Kita menyebut mereka tangguh. Kita terharu melihat semangat mereka.
Tetapi ada pertanyaan yang lebih mengusik: mengapa seorang anak harus terlebih dahulu menjadi tangguh hanya untuk mendapatkan pendidikan yang layak?
Anak-anak Kuala tidak meminta sekolah yang mewah. Mereka hanya ingin belajar. Mereka mendayung perahu, datang ke sekolah, dan tetap duduk di ruang kelas meski bangunannya tidak lagi kokoh. Guru-guru mencoba mengajar, masyarakat ikut membantu, sementara lingkungan di sekitar mereka terus menghadapi persoalannya sendiri.
Itulah bagian paling kuat dari novel ini. Fajar Mesaz tidak hanya menunjukkan anak-anak yang berjuang mengejar pendidikan. Ia juga memperlihatkan keadaan yang membuat perjuangan tersebut menjadi begitu panjang. Di balik anak-anak yang tetap datang ke sekolah, ada fasilitas yang terbatas, guru yang tidak selalu bertahan, lingkungan yang rusak, dan jarak yang membuat Kuala terasa jauh dari perhatian.
Yang membuat saya terus memikirkan Anak-Anak Kuala bukan hanya kisah sekolah di tepian sungai, tetapi kenyataan bahwa bagi sebagian anak, pendidikan masih harus diperjuangkan sedemikian keras. Saya yang tinggal di Jawa kadang masih mengeluh ketika kendaraan sulit didapat atau perjalanan ke sekolah terasa jauh. Padahal, anak-anak Kuala Mesuji harus naik perahu, bahkan mendayung sendiri, untuk sampai ke sekolah.
Pendidikan seharusnya tidak bergantung pada tempat seseorang dilahirkan. UUD 1945 menegaskan bahwa setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan dan pemerintah berkewajiban menyelenggarakan sistem pendidikan nasional. Karena itu, anak-anak di daerah terpencil tidak cukup hanya diminta untuk tangguh. Mereka juga membutuhkan sekolah yang layak, guru yang cukup, dan akses pendidikan yang aman. Janji tentang pendidikan jangan berhenti menjadi ucapan saat pemilu; ia harus benar-benar sampai ke anak-anak yang selama ini masih mendayung untuk bersekolah.
Identitas buku:
Anak-Anak Kuala — Fajar Mesaz
Basabasi, 2019 | 280 halaman
ISBN 6025783764 / 9786025783760
Bonus: Sekilas Mirip Cover Pareidolia

Kalau dari segi isi, Pareidolia dan Anak-Anak Kuala memang tidak memiliki hubungan. Namun, jika dibandingkan dengan karya Tere Liye lainnya, ada kemiripan yang cukup terasa, terutama dengan Si Anak Badai. Keduanya sama-sama membawa pembaca ke kehidupan anak-anak di kawasan perairan dan memperlihatkan perjuangan mereka untuk mendapatkan pendidikan di tengah keterbatasan. Si Anak Badai berlatar Kampung Manowa, perkampungan terapung di atas air, sementara Anak-Anak Kuala memiliki persoalan serupa di Kuala Mesuji.