Ulasan
Big Mouth: Drakor tentang Penjara yang Mirip Berita di Indonesia
Ada kalanya drakor lama mendadak terasa terlalu dekat dengan berita hari ini. Setelah membaca pemberitaan tentang pemeriksaan Ombudsman di Lapas Kelas IIA Cibinong, saya justru teringat Big Mouth, drama Korea yang dibintangi Lee Jong-suk dan Yoona. Dulu tahun 2022 saya menontonnya sebagai tontonan thriller tentang pengacara bernasib sial yang tiba-tiba dituduh sebagai Big Mouse, penjahat kelas kakap yang konon mengendalikan banyak hal dari balik layar. Sekarang, yang muncul di kepala saya justru kehidupan di balik jeruji dalam drama itu.
Di Big Mouth, penjara bukan hanya tempat orang menjalani hukuman. Di sana ada uang, kekuasaan, kelompok yang saling menguasai, perlakuan berbeda, sampai petugas yang tahu apa yang terjadi tetapi tidak selalu menghentikannya. Park Chang-ho masuk sebagai pengacara kelas bawah yang nyaris tidak punya kuasa. Ia bahkan dikenal sebagai pengacara yang tingkat kemenangannya rendah dan memiliki banyak utang.
Keadaan berubah setelah Chang-ho dijebak sebagai Big Mouse. Ia dituduh sebagai penjahat misterius yang selama ini menjadi buruan banyak pihak. Masuk penjara dengan tuduhan tersebut membuat Chang-ho berada dalam posisi yang aneh. Ia bukan lagi pengacara gagal yang mudah diremehkan. Para tahanan justru menganggapnya sebagai sosok berbahaya dan mulai memperlakukannya dengan hormat. Untuk bertahan hidup, Chang-ho pun memanfaatkan kesalahpahaman itu dan berpura-pura menjadi Big Mouse.
Dari sinilah permainan kekuasaan dimulai. Di penjara, Chang-ho berhadapan dengan Park Yoon-gab, kepala penjara yang tidak sekadar menjaga para tahanan. Ia memiliki kepentingan sendiri dan terlibat dalam berbagai permainan di balik jeruji. Chang-ho juga bertemu Jerry, tahanan yang begitu mengagumi Big Mouse dan kemudian menjadi salah satu orang yang membantunya.
Di luar penjara, istrinya, Go Mi-ho, tidak tinggal diam. Mi-ho yang bekerja sebagai perawat mulai menyelidiki kasus yang membuat suaminya dipenjara. Penyelidikan itu membawa dirinya pada kasus kematian Profesor Seo Jae-yong dan penelitian berbahaya yang ternyata berkaitan dengan orang-orang berkuasa di Gucheon.
Ada pula Choi Do-ha, wali kota Gucheon yang pada awalnya terlihat seperti orang yang membantu Chang-ho. Namun, semakin jauh cerita berjalan, semakin jelas bahwa ia mempunyai kepentingan dalam permainan besar tersebut. Gong Ji-hoon, pemimpin NR Forum, juga menjadi bagian dari kelompok elite yang terlibat dalam perebutan pengaruh dan kekuasaan.
Sementara itu, misteri terbesar tetap sama: siapa sebenarnya Big Mouse? Jawabannya tidak sesederhana yang dibayangkan. Big Mouse ternyata bukan sekadar satu penjahat dengan identitas rahasia, tetapi berkaitan dengan jaringan yang memiliki pengaruh luas. Noh Park, salah satu tahanan yang terlihat sederhana, ternyata mempunyai peran penting dalam misteri tersebut. Chang-ho yang awalnya hanya ingin membersihkan namanya kemudian memilih menggunakan identitas Big Mouse untuk menghadapi orang-orang yang selama ini bermain dari balik layar.
Masalahnya, perjuangan itu tidak berakhir dengan kemenangan yang benar-benar manis. Mi-ho akhirnya meninggal setelah penyakitnya memburuk akibat paparan zat berbahaya yang berkaitan dengan penelitian Seo Jae-yong. Chang-ho memang berhasil mengambil posisi sebagai Big Mouse dan menghadapi orang-orang yang selama ini merugikan banyak pihak, tetapi kematian Mi-ho membuat kemenangan tersebut terasa mahal.
Bagian awal drama ini sangat kuat. Identitas Big Mouse menjadi teka-teki yang membuat penonton terus menebak. Perubahan Chang-ho dari pengacara yang diremehkan menjadi sosok yang disegani juga menarik untuk diikuti. Akting Lee Jong-suk dan Yoona ikut membuat hubungan Chang-ho dan Mi-ho terasa penting bagi cerita, bukan hanya tempelan di tengah konflik kriminal.
Namun, semakin mendekati akhir, cerita mulai kehilangan sebagian kekuatannya. Perebutan kekuasaan yang awalnya membuat penasaran menjadi semakin rumit, sementara beberapa persoalan terasa diselesaikan terlalu cepat. Kematian Mi-ho juga membuat sebagian penonton mempertanyakan arah akhir cerita. Setelah begitu banyak permainan kekuasaan, hukuman dan konsekuensi bagi para tokoh yang melakukan kejahatan tidak semuanya terasa sebanding dengan kekacauan yang sudah mereka buat.
Pemberitaan mengenai Lapas Kelas IIA Cibinong memang tidak membuktikan bahwa kenyataan di sana sama dengan Big Mouth. Ombudsman menyampaikan temuan dan dugaan yang masih harus ditindaklanjuti melalui pemeriksaan. Tetapi ketika fasilitas yang disebut mewah di kawasan lapas ramai dibicarakan, lengkap dengan komentar netizen yang membandingkannya dengan kondisi rumah sendiri, saya kembali teringat bagaimana Big Mouth menggambarkan penjara sebagai tempat yang tidak sesederhana tembok dan jeruji.
Ada uang. Ada nama. Ada kekuasaan. Ada orang yang mendapat perlakuan berbeda.
Tentu saja, Big Mouth adalah fiksi dan Lapas Cibinong adalah kenyataan. Keduanya tidak bisa disamakan begitu saja. Namun, sebuah tontonan memang kadang baru terasa menarik ketika cerita lama tiba-tiba menemukan pantulannya dalam berita hari ini.
Saya sendiri bingung, tulisan ini sebenarnya mau dibawa ke mana. Mau jadi kolom tentang kabar sidak lapas, kok malah berujung membahas drakor lama. Mau jadi ulasan Big Mouth, kenapa tiba-tiba nyambung dengan berita hari ini?
Drakor lama adalah drakor baru bagi siapa saja yang belum pernah menontonnya. Terutama untuk netizen yang hari ini sedang geram melihat berita tentang lapas yang viral, Big Mouth mungkin bisa menjadi tontonan selingan. Selain bisa melihat Lee Jong-suk beraksi sebagai Park Chang-ho, kita juga diajak melihat bagaimana kehidupan di balik penjara digambarkan dalam sebuah cerita thriller: ada uang, kekuasaan, permainan pengaruh, dan perlakuan yang bisa berubah ketika seseorang memiliki nama besar.
Tentu saja, Big Mouth tetaplah fiksi dan tidak bisa dijadikan gambaran harfiah tentang kehidupan penjara di Indonesia. Namun, kalau berita hari ini membuat kita bertanya-tanya seperti apa dunia di balik tembok penjara, tidak ada salahnya melihat bagaimana drama ini mengemasnya. Siapa tahu, setelah selesai menonton, kita tidak hanya mendapatkan hiburan, tetapi juga bahan untuk bertanya kembali tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik jeruji.