Ulasan
Tadabbur Novel Pareidolia: Hidup Sejatinya adalah Permainan dan Senda Gurau
Selalu ada banyak cara untuk lebih memahami hakikat dunia ini, salah satunya lewat novel Tere Liye berjudul Pareidolia. Mungkin judul ini terdengar asing di telinga sebagian orang. Memang, istilah ini bukan istilah yang umum digunakan dalam percakapan sehari-hari.
Pareidolia sendiri secara istilah memiliki makna kecenderungan otak manusia melihat pola atau wajah bermakna pada benda acak. Dalam novel terbarunya ini, Tere Liye menganalogikan Pareidolia sebagai pemujaan semu dan ilusi manusia terhadap harta, takhta, dan kesenangan duniawi.
Pada dasarnya, novel Pareidolia ini mengambil beberapa ayat Al-Qur’an untuk dijadikan sebagai peringatan. Lewat tokoh Bagus, aku jadi belajar bahwa setiap keputusan yang kita ambil, seluruh perbuatan kita, baik besar ataupun kecil, akan berdampak pada diri kita sendiri.
Setelah menamatkan novel setebal 416 halaman ini, aku belajar banyak hal terutama tentang merasa cukup dan tidak serakah. Berikut beberapa poin inti pesan utama yang bisa aku tangkap dari novel terbaru Tere Liye ini.
1. Dunia adalah permainan dan senda gurau
Novel ini mengusung konsep yang unik yakni ‘layar permainan’ untuk menggambarkan dengan akurat keserakahan manusia modern yang kerap terjebak dalam delusi buatannya sendiri.
Manusia terus mengejar angka-angka semu seperti rezeki dan validasi, seolah hal-hal tersebut adalah segalanya.
Hal ini terasa relevan dengan ayat Al-Qur’an surah Al-Hadid : 20 yang artinya:
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga-bangga di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan...”
2. Saat kesenangan mengaburkan rasa syukur
Tokoh utama dalam novel ini, Bagus, diberi kemudahan demi kemudahan materi melalui misi-misi ajaib. Namun bukannya bersyukur dan merasa cukup, ia justru makin tenggelam dalam kesombongan.
Dalam Islam, jebakan berupa melimpahnya kenikmatan yang membuat seseorang makin jauh dari Tuhan disebut dengan istilah Istidraj.
“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.” (Q.S. Al-An’am: 44).
3. Hakikat rezeki sudah diatur oleh Tuhan
Lewat novel terbarunya ini, Tere Liye juga gencar menyisipkan pesan tentang rezeki yang sudah diatur oleh Tuhan. Takdir rezeki dan kekuasaan adalah rahasia serta hak prerogatif Tuhan, bukan sekadar hitungan matematik manusia yang dangkal.
“Dan Allah melebihkan sebagian kamu atas sebagian yang lain dalam hal rezeki...” (Q.S. An-Nahl: 71).
4. Manusia sering berpaling ketika diberi kekayaan
Karakter Bagus mencerminkan sikap manusia yang kerap berpaling dari kebaikan setelah diberi kekayaan. Ia yang dulunya terlahir dari keluarga miskin, bisa dengan mudah menyingkirkan orang-orang yang dianggap mengganggu kepentingannya semudah menjentikkan tangan.
Tokoh utama novel ini seakan menjadi representasi nyata dari sifat dasar manusia yang sering kali lupa diri ketika diberi kenikmatan.
“Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, dia berpaling dan menjauhkan diri dengan sombong; tetapi apabila dia ditimpa malapetaka, maka dia banyak berdoa.” (Q.S. Fussilat: 51).