Ulasan
Mematahkan Stigma Keliru tentang Peran Istri di Novel Jadi Ibu
Novel Jadi Ibu karya Revalina Naya mengangkat cerita tentang pertukaran jiwa yang membawa seseorang ke kehidupan yang sama sekali berbeda. Ceritanya memadukan unsur fantasi, komedi, romansa, dan masalah keluarga yang membuat alurnya tidak hanya berfokus pada kisah cinta.
Diterbitkan oleh Penerbit Loveable, novel ini juga membahas kehidupan rumah tangga dan hubungan antara orang tua dengan anak. Lewat tokoh utamanya, pembaca diajak melihat berbagai persoalan keluarga dari sudut pandang yang berbeda.
Kisah Malika Menjadi Ibu Secara Tak Terduga
Malika Radiyah adalah mahasiswi tingkat akhir yang sudah kewalahan menghadapi revisi skripsi. Saking stresnya, ia sampai berpikir kalau menikah dan menjadi ibu rumah tangga mungkin lebih mudah daripada harus terus berkutat dengan tugas kuliah. Namun, setelah mengalami kecelakaan, hidup Malika justru berubah jauh dari yang pernah ia bayangkan.
Saat terbangun, Malika mendapati dirinya berada di tubuh perempuan bernama Delilah. Bukan cuma wajah dan tubuhnya yang berubah, ia juga mendapati dirinya sudah memiliki suami bernama Abraham dan dua anak kecil. Padahal, Malika sendiri belum pernah menikah, apalagi mengurus anak.
Kehidupan barunya ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Kedua anak Delilah selalu terlihat takut saat Malika mencoba mendekati mereka, sementara Abraham bersikap dingin dan cenderung acuh tak acuh. Malika pun harus beradaptasi dengan kehidupan keluarga yang asing baginya, sekaligus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangga Delilah.
Seiring berjalannya waktu, Malika mulai memahami bahwa menjadi istri dan ibu bukanlah hal yang mudah. Ia berusaha mendekatkan diri kepada kedua anak Delilah dan memperbaiki hubungannya dengan Abraham. Di tengah semua kebingungan itu, Malika juga harus mencari cara untuk kembali ke tubuhnya sendiri.
Review Novel Jadi Ibu
Membaca novel ini rasanya rasanya menonton drama Korea bergenre komedi fantasi yang membawa banyak pesan moral tersirat di dalamnya. Pilihan kata yang digunakan oleh Revalina Naya sangat mengalir dan penuh dengan celetukan kocak yang membuat pembaca tidak bosan.
Karakter Malika yang mendadak harus mengurus rumah tangga digambarkan dengan sangat natural, lengkap dengan segala kecerobohan dan kebingungannya yang sukses memancing tawa di sepanjang bab awal hingga pertengahan cerita.
Secara pribadi, saya suka bagaimana buku ini menyentil realita sosial tentang ekspektasi berlapis terhadap peran seorang wanita di dalam rumah tangga. Lewat sudut pandang Malika yang awalnya mengira kehidupan domestik itu mudah, kita diajak melihat langsung betapa beratnya beban mental pengasuhan anak dan mengelola hubungan dengan suami.
Hanya saja, perkembangan romansa antara Malika dengan Abraham terasa agak sedikit dipaksakan dan berjalan terlalu cepat di beberapa bagian, sehingga transisi perasaan mereka kurang begitu halus.
Meskipun dinamika hubungan romansanya terasa agak buru-buru, bagian interaksi antara Malika dengan kedua anak Delilah justru ditulis dengan sangat manis dan menyentuh hati. Penulis sangat andal dalam membangun kedekatan emosional yang perlahan-lahan mencair antara seorang ibu pengganti dengan anak-anak yang haus akan kasih sayang tulus.
Buku setebal 320 halaman ini berhasil memberikan resolusi konflik yang cukup memuaskan bagi pembaca, sekaligus menyisipkan pesan hangat tentang pentingnya komunikasi yang sehat di dalam keluarga.
Melalui tulisan ini, saya menilai novel Jadi Ibu sangat layak untuk dibaca oleh remaja maupun orang dewasa yang menyukai cerita fiksi bertema keluarga dengan bumbu fantasi. Konfliknya sama sekali tidak akan membuat pusing karena porsinya pas untuk menghibur sekaligus memberikan refleksi kecil tentang kehidupan pasca-pernikahan.
Buku ini juga menjadi sebuah pengingat yang menyenangkan bahwa tidak ada peran yang mudah di dunia ini, baik itu menjadi seorang mahasiswa tingkat akhir maupun menjadi seorang ibu seutuhnya.