Ulasan

Refleksi Mariposa: Pentingnya Orang Tua Memahami Mental dan Hati Anak

Refleksi Mariposa: Pentingnya Orang Tua Memahami Mental dan Hati Anak
Novel Mariposa karya Luluk HF. (Gramedia)

Dunia cerita remaja sempat diramaikan oleh satu judul novel romantis anak sekolah yang sangat populer. Cerita itu berjudul Mariposa, karya penulis Luluk HF. Sejak pertama kali terbit dalam bentuk buku fisik, kisah ini langsung menarik perhatian banyak pembaca karena alurnya yang seru, menghibur, dan sangat dekat dengan kehidupan anak SMA.

Daya tarik yang membuat pembaca penasaran dari awal jelas ada pada arti judulnya. Kata "Mariposa" diambil dari bahasa Spanyol yang artinya kupu-kupu. Istilah ini dipakai penulis untuk menggambarkan sifat si tokoh utama cowok.

Filosofinya sederhana tetapi sangat mendalam: jika kita semakin heboh mengejar kupu-kupu, dia pasti akan terbang menjauh. Namun uniknya, jika kita diam dan menunggu dengan sabar, bisa jadi kupu-kupu itu malah datang sendiri dan hinggap di bahu kita.

Kisah Perjuangan Acha Meluluhkan Hati Sang Kupu-Kupu

Cerita di novel ini fokus pada kehidupan seorang siswi SMA bernama Natasha Kay Loovi, yang biasa dipanggil Acha. Acha adalah tipe siswi yang menyenangkan; selain ramah dan ceria, dia juga genius di pelajaran sains, terutama kimia. Hidup Acha yang tadinya biasa saja mendadak berubah total setelah dia bertemu dengan Iqbal Guanna Freedy di sebuah camp pelatihan olimpiade. Bagi Acha, Iqbal adalah cinta pandangan pertamanya karena Iqbal sangat tampan, pintar, tetapi memiliki sifat yang kaku dan dingin.

Melihat Iqbal yang sangat cuek, Acha tidak langsung minder atau mundur. Berbeda dari kebanyakan siswi yang malu-malu kalau menyukai seorang cowok, Acha justru sangat berani untuk mendekati Iqbal duluan. Dia melakukan berbagai cara unik, mulai dari memberikan perhatian-perhatian kecil yang cerewet sampai sengaja ikut dalam kegiatan yang diikuti Iqbal. Sayangnya, hati Iqbal tidak semudah itu luluh. Setiap usaha Acha hampir selalu dibalas dengan tatapan datar dan penolakan ketus.

Namun, lama-kelamaan konflik cerita jadi makin seru dan tidak hanya soal kejar-kejaran cinta saja. Pembaca mulai diajak melihat sisi lain dari Iqbal yang ternyata memiliki beban berat dari keluarganya. Iqbal dituntut oleh ayahnya untuk selalu menjadi nomor satu di sekolah dan tidak boleh gagal sedikit pun. Tekanan inilah yang membuat Iqbal tumbuh menjadi cowok yang menutup diri dan malas memikirkan urusan berpacaran. Di sinilah Acha datang membawa warna baru untuk mencairkan sifat kaku Iqbal.

Menjelang akhir cerita, kedua tokoh utama ini mulai menunjukkan kedewasaan mereka. Acha belajar untuk lebih menahan diri dan menghargai ruang pribadi Iqbal. Di sisi lain, Iqbal juga perlahan mulai menurunkan egonya dan mau membuka hati untuk Acha. Hubungan mereka berubah menjadi saling mendukung satu sama lain.

Puncaknya, mereka berdois sama-sama berjuang membawa nama sekolah di kompetisi olimpiade tingkat nasional, membuktikan kalau jatuh cinta bisa membuat seseorang semakin berprestasi.

Review novel Mariposa 

Nilai plus dari novel Mariposa ada pada karakter Acha. Biasanya di novel romantis remaja, karakter ceweknya sering digambarkan lemah, pasrah, dan gampang menangis. Tapi di sini, Acha tampil sebagai cewek yang percaya diri, pintar, aktif, dan tahu apa yang dia mau. Karakter Acha seolah kasih pesan kalau cewek juga boleh kok berjuang demi kebahagiaannya sendiri asal tetap tahu batas.

Gaya bahasa yang dipakai di novel ini juga santai, dan penuh dengan dialog lucu. Penulis juga jago memainkan perasaan pembaca. Kadang kita dibuat ketawa melihat kelakuan kocak Acha dan teman-temannya, tapi kemudian dibuat gemas sendiri karena sikap Iqbal yang cueknya kebangetan.

Hebatnya lagi, novel ini juga menyelipkan pesan moral tentang hubungan anak dan orang tua. Lewat konflik keluarga Iqbal, kita disadarkan kalau menuntut anak secara berlebihan dalam urusan nilai sekolah itu enggak baik buat mental si anak. Pelajaran berharga ini membuat novel ini enggak cuma seru dibaca oleh remaja saja, tapi juga cocok buat para orang tua biar bisa lebih mengerti isi hati anak-anak mereka.

Meski seru, menurutku novel ini tetap punya sedikit kekurangan kecil. Di beberapa bab bagian tengah, alur ceritanya agak berulang-ulang karena polanya mirip, yaitu Acha yang maju mendekat lalu ditolak lagi oleh Iqbal. Buat pembaca yang suka cerita sat-set atau bertempo cepat, bagian ini mungkin agak sedikit membosankan. Untungnya, rasa bosan itu bisa tertutupi berkat kehadiran tokoh pendukung seperti Glen, Rian, dan Amanda yang selalu sukses memecah suasana dengan lawakan mereka.

Kesimpulannya, Mariposa adalah novel remaja yang manis tapi tetap punya pesan yang mendalam. Buku ini juga menggambarkan kalau cinta yang baik itu adalah cinta yang bikin kita tumbuh jadi pribadi yang lebih dewasa dan lebih baik, bukan malah bikin malas.

Buat sobat Yoursay yang mencari bacaan santai, menghibur, banyak lucunya, sekaligus punya pesan moral yang bagus tentang keluarga dan cita-cita, novel ini sangat direkomendasikan untuk masuk daftar bacaanmu!

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda