Ulasan

Nasehat Mbah Kakung yang Reformis: Kritik Tajam di Tengah Kemerosotan Moral

Nasehat Mbah Kakung yang Reformis: Kritik Tajam di Tengah Kemerosotan Moral
Nasehat Mbah Kakung yang Reformis (Dok.Pribadi/Oktavia)

Perubahan zaman sering kali membawa kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan. Teknologi semakin canggih, akses informasi semakin mudah, dan kesempatan untuk meraih kesuksesan terbuka lebar. Namun, kemajuan tersebut tidak selalu berjalan seiring dengan peningkatan moral. Di tengah masyarakat yang semakin kompetitif, perilaku menyimpang justru terkadang dianggap lumrah selama dapat mendatangkan keuntungan. Fenomena inilah yang menjadi salah satu sorotan dalam buku Nasehat Mbah Kakung yang Reformis karya Soejitno Irmim Abdul Rochim.

Buku ini diterbitkan oleh Aseyma Media dan dicetak oleh Percetakan Megah pada Juli 2004. Melalui nasihat seorang tokoh yang disebut Mbah Kakung, penulis mengajak pembaca merenungkan kembali nilai-nilai luhur dalam falsafah Jawa yang mulai ditinggalkan. Meski lahir lebih dari dua dekade lalu, persoalan yang diangkat tetap relevan untuk membaca perilaku masyarakat masa kini.

Isi Buku

Salah satu gagasan penting dalam buku ini adalah gambaran tentang zaman yang semakin sulit membedakan kebenaran dan kesalahan. Ketika masyarakat terus-menerus menyaksikan perilaku buruk, sesuatu yang semula dianggap menyimpang perlahan dapat diterima sebagai kebiasaan. Ungkapan Jawa “zaman edan, sing ora edan ora keduman” menggambarkan keadaan ketika orang merasa harus ikut melakukan hal yang salah agar tidak kehilangan kesempatan memperoleh keuntungan.

Pola pikir tersebut menunjukkan bagaimana lingkungan dapat memengaruhi standar moral seseorang. Ketika korupsi, penyalahgunaan jabatan, dan praktik tidak jujur dianggap sebagai hal biasa, orang yang memilih bersikap lurus justru berisiko dicap tidak realistis atau terlalu idealis. Mbah Kakung hadir sebagai suara yang mengingatkan bahwa perubahan zaman tidak seharusnya menjadi alasan untuk meninggalkan prinsip hidup. Kemajuan semestinya membuat manusia semakin bijaksana dalam bertindak, bukan justru semakin pandai mencari pembenaran atas kesalahan.

Kritik paling menonjol dalam kutipan buku ini berkaitan dengan budaya aji mumpung. Istilah tersebut merujuk pada sikap memanfaatkan kesempatan selagi ada, tanpa mempertimbangkan batas moral maupun dampaknya terhadap orang lain.

Dalam gambaran yang disampaikan penulis, seseorang yang memperoleh jabatan bisa tergoda menggunakan kekuasaannya untuk memperkaya diri. Kesempatan melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) dianggap sebagai keuntungan yang sayang dilewatkan. Bahkan, berbagai cara yang tidak halal dapat ditempuh demi mendapatkan posisi atau mempertahankan kekuasaan.

Pembenaran yang digunakan pun terdengar akrab: semua orang melakukannya, kesempatan tidak datang dua kali, dan orang yang terlalu jujur akan tertinggal. Pola pikir semacam ini memperlihatkan bagaimana kepentingan pribadi ditempatkan di atas tanggung jawab kepada masyarakat.

Padahal, kesempatan seharusnya dimanfaatkan untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, bukan menjadi alasan untuk merugikan orang lain. Jabatan, misalnya, merupakan amanah yang menuntut tanggung jawab, bukan fasilitas untuk memenuhi kepentingan pribadi. Kritik tersebut juga mengingatkan bahwa keberhasilan yang diperoleh melalui cara curang tidak dapat dipisahkan dari persoalan etika.

Kelebihan dan Kekurangan

Melalui sosok Mbah Kakung, buku ini mengangkat kembali ajaran dan ungkapan Jawa sebagai sumber refleksi moral. Nilai-nilai tradisional tersebut bukan sekadar warisan budaya yang patut dikenang, melainkan dapat menjadi pedoman dalam menghadapi persoalan kehidupan modern.

Salah satu pesan yang dapat ditarik dari kritik terhadap aji mumpung adalah pentingnya mengendalikan hawa nafsu. Keinginan untuk memperoleh kekayaan, kedudukan, dan pengakuan memang manusiawi. Namun, keinginan itu perlu dibatasi oleh kejujuran, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap hak orang lain.

Sikap teguh memegang prinsip juga tidak berarti menolak perubahan. Seseorang tetap dapat bersikap fleksibel, mengikuti perkembangan zaman, dan memanfaatkan peluang tanpa harus mengorbankan integritasnya.

Pesan Moral

Nasehat Mbah Kakung yang Reformis mengajak pembaca melihat bahwa kemerosotan moral tidak selalu muncul karena seseorang tidak mengetahui mana yang benar dan salah. Terkadang, orang memahami batas tersebut, tetapi memilih mengabaikannya demi keuntungan sesaat. Lebih jauh, perilaku itu dipertahankan dengan alasan bahwa keadaan memang sudah berubah dan semua orang melakukan hal serupa.

Buku ini menawarkan pengingat sederhana bahwa perubahan sosial perlu diimbangi dengan keteguhan nilai. Reformasi bukan hanya tentang perubahan sistem dan pergantian kekuasaan, tetapi juga tentang keberanian memperbaiki perilaku serta menolak praktik yang merugikan sesama.

Pada akhirnya, nasihat Mbah Kakung mengajak pembaca untuk tidak menjadikan keadaan sebagai pembenaran atas kesalahan. Kesempatan memang berharga, tetapi cara memperolehnya jauh lebih menentukan nilai sebuah keberhasilan. Sebab, manusia tidak hanya dinilai dari apa yang berhasil diraih, melainkan juga dari prinsip yang tetap dijaga ketika kesempatan untuk berbuat curang terbuka di hadapannya.

Identitas Buku

  • Judul: Nasehat Mbah Kakung yang Reformis
  • Penulis: Soejitno Irmim Abdul Rochim
  • Penerbit: Aseyma Media
  • Percetakan: Percetakan Megah
  • Cetakan: Pertama
  • Tahun terbit: Juli 2004
  • Genre: Esai sosial, kritik moral, dan refleksi budaya Jawa

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda