Ulasan
Kerinduan Saya pada Panggung Teater yang Akhirnya Terbayar di Surabaya
Hampir lima tahun berlalu sejak terakhir kali saya menikmati magisnya panggung teater Cak Nun di Yogyakarta lewat naskah Mlungsungi. Sejak saat itu, kerinduan menyaksikan pertunjukan secara langsung seperti mengendap begitu saja. Lucunya, meski sudah dua tahun tinggal di Surabaya, saya justru belum pernah sekalipun mampir ke Gedung Teater Cak Durasim.
Kesempatan itu akhirnya datang beberapa pekan lalu melalui Pagelaran Teater Kampus Seni Indonesia (PTKSI) XIII. Acara ini menghadirkan delegasi dari 11 kampus seni se-Indonesia. Menariknya, pertunjukan bisa dinikmati secara gratis, meski kesempatan masuk gedung tetap terbatas oleh kuota penonton.
Awalnya, saya membayangkan tinggal datang, menunjukkan tiket, lalu duduk manis menunggu pertunjukan dimulai. Ternyata, kenyataannya tidak sesederhana itu. Selama ini, saya hanya membaca cerita tentang tiket Cak Durasim yang ludes dan antrean panjang di media sosial. Malam itu, saya akhirnya merasakan sendiri bagaimana antusiasme orang-orang untuk menonton teater.
Antrean Panjang yang Menyimpan Cerita

Melihat antrean mengular di Kompleks Taman Budaya Jawa Timur, saya cukup terkejut. Ratusan orang rela berdiri demi mendapatkan kesempatan menyaksikan pertunjukan. Saya bahkan sempat berpikir, ternyata berburu tiket teater juga membutuhkan keberuntungan, hampir seperti berburu tiket konser.
Beruntung, saya masih mendapatkan nomor antrean 67 dari 100 kuota free seating atau tempat duduk lesehan. Bagi saya, tidak masalah harus duduk di lantai. Setelah hampir lima tahun absen dari panggung teater, kesempatan untuk kembali menikmati pertunjukan secara langsung jauh lebih penting daripada urusan posisi duduk.
Namun, ada hal lain yang membuat saya senang. Antusiasme penonton malam itu menjadi pengingat bahwa teater belum kehilangan peminatnya. Di tengah pilihan hiburan modern yang semakin beragam, masih banyak orang yang bersedia meluangkan waktu untuk menikmati seni pertunjukan.
Apalagi, PTKSI XIII mempertemukan delegasi dari 11 kampus seni di berbagai daerah di Indonesia. Kehadiran mereka membuat acara ini terasa lebih dari sekadar pertunjukan rutin. Ada pertemuan gagasan, kreativitas, dan pengalaman berkesenian yang dibawa dari lingkungan kampus masing-masing.
Kekaguman saya berlanjut ketika memasuki gedung. Dari luar, bangunannya tampak sederhana. Namun, begitu melewati pintu, saya menemukan ruang pertunjukan yang tertata rapi, dengan pencahayaan dan akustik yang mendukung pengalaman menonton.
Ternyata, Cak Durasim menyimpan kejutan yang tidak bisa dinilai hanya dari tampilan luarnya. Pengalaman pertama ini membuat saya semakin memahami mengapa ruang pertunjukan seperti ini penting untuk terus dihidupkan.
Dari Bancaan sampai Alien Nyasar

Malam itu, ada dua pementasan yang meninggalkan kesan berbeda. Pertama, Bancaan dari Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya sebagai tuan rumah. Pertunjukan ini mengangkat potongan kehidupan masyarakat dan anak-anak masa kini, sekaligus menyelipkan kritik terhadap ketergantungan pada internet hingga perilaku oknum pemangku kebijakan.
Pesannya terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ada humor, kritik sosial, dan nilai kebersamaan yang disampaikan tanpa kesan menggurui. Bagi saya, inilah salah satu hal menarik dari teater: persoalan yang serius bisa dibicarakan melalui pertunjukan yang tetap menghibur.
Pementasan berikutnya datang dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan judul Lampor 404. Sebagai penikmat horor, saya semula berharap akan disuguhi suasana mistis dari legenda keranda terbang. Apalagi, pertunjukannya dibuka dengan tembang Jawa yang menghadirkan atmosfer cukup serius.
Namun, angka 404 rupanya bukan sekadar pemanis judul. Alih-alih bertemu hantu yang saya bayangkan, penonton justru disuguhi alien nyasar. Suasana mistis itu mendadak berubah menjadi komedi absurd yang mengundang gelak tawa.
Di balik kelucuannya, Lampor 404 turut menyentil persoalan kemanusiaan, kecerdasan buatan atau AI, hingga realitas politik. Akting para pemain dan komedi yang tepat sasaran membuat kritik di dalamnya terasa lebih mudah diterima tanpa kehilangan daya gigit.
Tawa dan tepuk tangan penonton malam itu menjadi bagian yang paling saya ingat. Dua pertunjukan dengan pendekatan berbeda ternyata sama-sama mampu mengajak penonton berpikir sekaligus menikmati cerita.
Teater Masih Punya Tempat di Hati Penonton

Meski pengalaman menonton terasa menyenangkan, ada satu catatan yang saya rasakan, yakni informasi jadwal dan penukaran tiket yang membingungkan. Awalnya, acara diinformasikan dimulai pukul 17.00 WIB, kemudian diperbarui menjadi pukul 19.00 WIB. Namun, menjelang pelaksanaan, gerbang pemeriksaan tiket justru ditutup pukul 17.00 WIB.
Informasi seperti itu semestinya disampaikan secara konsisten agar penonton bisa mengatur perjalanan dengan lebih baik, terlebih bagi mereka yang harus menghadapi kemacetan Surabaya. Antusiasme sebesar itu layak diimbangi pengelolaan acara yang lebih tertata.
Terlepas dari catatan tersebut, pengalaman pertama menonton teater di Cak Durasim berhasil mengobati kerinduan saya. Lebih dari itu, saya pulang dengan kesan bahwa seni pertunjukan masih memiliki ruang di tengah kehidupan masyarakat modern.
Bagi saya, pemandangan antrean panjang malam itu sama menariknya dengan pertunjukan di atas panggung. Orang-orang datang, menunggu, dan meluangkan waktu untuk menikmati karya seni. Sementara delegasi dari berbagai kampus seni memperlihatkan bahwa semangat berkesenian terus tumbuh di banyak daerah.
Surabaya ternyata bukan cuma tentang gedung tinggi, kemacetan, atau kesibukan kota. Ada panggung budaya yang mempertemukan banyak orang melalui cerita dan gagasan. Setelah malam itu, saya justru berharap bisa kembali ke Cak Durasim, bukan hanya untuk menuntaskan rindu, tetapi juga untuk menyaksikan bagaimana teater terus menemukan penontonnya seperti saya ini.