Kolom
Gen Z Bikin Bahasa Baru, namun Apa Kesalahan Menulis Harus Ikut Dimaklumi?
Media sosial membuat bahasa berkembang dengan cara yang semakin menarik. Kata-kata yang sebelumnya tidak pernah kita dengar tiba-tiba muncul di linimasa, digunakan berulang kali, lalu menjadi bahan percakapan banyak orang. Sebut saja bagusn’t dan becusn’t, dua istilah yang memadukan kosakata bahasa Indonesia dengan akhiran bahasa Inggris -n’t untuk menghasilkan ungkapan bernada penolakan atau sindiran.
Bagi sebagian orang, istilah semacam ini mungkin terdengar aneh. Namun, bagi penggunanya, justru keanehan itulah yang membuatnya menarik. Ada permainan kata, unsur humor, sekaligus kreativitas dalam menyampaikan pendapat tanpa harus menggunakan kalimat panjang.
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa bahasa bukan sesuatu yang selalu diam di tempat. Penuturnya terus menemukan cara baru untuk berkomunikasi, termasuk melalui media sosial yang memungkinkan sebuah istilah menyebar dalam waktu singkat.
Namun, di tengah kreativitas itu, ada persoalan lain yang membuat saya cukup gemas. Ketika istilah baru sengaja diciptakan untuk menghasilkan humor, kesalahan penulisan yang mendasar justru kerap dianggap tidak perlu dipermasalahkan. Seolah-olah selama orang lain masih memahami maksudnya, ketepatan menulis tidak lagi penting.
Bagi saya, keduanya merupakan persoalan berbeda. Bahasa memang boleh berkembang mengikuti kreativitas penuturnya. Namun, apakah perkembangan itu harus membuat kita semakin permisif terhadap kesalahan yang sebenarnya bisa diperbaiki?
Media Sosial dan Kreativitas Bahasa Gen Z
Media sosial kini bukan sekadar tempat berbagi foto, video, atau cerita keseharian. Ruang digital juga menjadi tempat orang bereksperimen dengan bahasa. Sebuah istilah bisa muncul dari satu unggahan, digunakan oleh sejumlah pengguna, lalu menyebar ke berbagai platform ketika dianggap lucu atau relevan dengan situasi tertentu.
Gen Z yang tumbuh bersama internet memiliki ruang luas untuk menciptakan bentuk komunikasi semacam itu. Bahasa digunakan bukan hanya untuk menyampaikan informasi, tetapi juga membangun identitas, menunjukkan kedekatan, dan menyampaikan sindiran.
Kalau Singapura mengenal Singlish, yakni ragam bahasa informal yang berkembang melalui percampuran unsur bahasa, fenomena di media sosial Indonesia juga memperlihatkan kecenderungan serupa. Istilah Inglish, misalnya, dapat digunakan secara santai untuk menggambarkan permainan bahasa Indonesia dan Inggris dalam percakapan digital.
Tentu saja, istilah tersebut bukan berarti bahasa Indonesia dan Inggris sedang membentuk bahasa baru yang sudah memiliki aturan baku. Sebutan itu lebih tepat dipahami sebagai cara menggambarkan fenomena campur bahasa yang menarik perhatian di media sosial.
Kata bagusn’t menjadi salah satu contoh yang menggelitik. Kata bagus dipadukan dengan akhiran bahasa Inggris -n’t untuk menghasilkan ungkapan yang terasa berbeda dari bentuk bahasa Indonesia yang lazim. Hal serupa terlihat pada becusn’t, yang bisa digunakan untuk menyampaikan sindiran dengan cara yang lebih ringkas dan jenaka.
Saya tidak melihat kreativitas semacam ini sebagai ancaman yang harus segera dibendung. Justru, permainan kata tersebut memperlihatkan bahwa penutur bahasa memiliki kemampuan untuk mengolah kosakata sesuai kebutuhan komunikasinya.
Bahasa informal tidak harus selalu mengikuti pola tulisan resmi. Dalam percakapan santai, unsur humor dan konteks sering kali menjadi bagian penting dari cara sebuah ungkapan dipahami.
Kreatif Berbahasa Berbeda dengan Keliru Menulis
Persoalannya bukan pada kemunculan istilah baru, melainkan pada kebiasaan mencampuradukkan kreativitas dengan ketidakcermatan. Kata yang sengaja dimodifikasi untuk menghasilkan efek humor tentu berbeda dari kata yang ditulis keliru karena penggunanya belum mengetahui bentuk yang tepat.
Contoh sederhana dapat ditemukan dalam penggunaan kata depan di dan imbuhan di-. Kita masih sering menjumpai penulisan dirumah untuk menunjukkan tempat, padahal bentuk yang tepat adalah di rumah. Sebaliknya, kata kerja pasif seperti dibaca dan dicuci justru harus ditulis serangkai.
Kesalahan semacam ini tidak berkaitan dengan kreativitas menciptakan istilah baru. Ada aturan dasar yang dapat dipelajari, tetapi penerapannya masih kerap diabaikan.
Ketika seseorang mengingatkan kekeliruan tersebut, tidak jarang muncul tanggapan bahwa media sosial bukan tempat untuk terlalu memikirkan kaidah bahasa. Koreksi ejaan bahkan dianggap sebagai tindakan berlebihan atau tanda bahwa seseorang terlalu kaku dalam berkomunikasi.
Padahal, mengetahui aturan bahasa tidak berarti kita harus menggunakannya secara formal dalam setiap kesempatan. Seseorang tetap bisa bercanda, menggunakan bahasa gaul, dan mengikuti tren tanpa kehilangan kemampuan menulis dengan tepat ketika situasinya membutuhkan.
Menurut saya, memahami aturan justru memberikan keleluasaan. Kita bisa mengetahui kapan sebuah kata sengaja diubah untuk menciptakan efek tertentu dan kapan penulisannya perlu diperbaiki.
Saya juga tidak bermaksud menuntut setiap orang menulis komentar seperti makalah akademik. Salah ketik bisa terjadi kepada siapa saja, termasuk orang yang terbiasa menulis. Namun, ada perbedaan antara melakukan kesalahan sesekali dan terus mengulang kekeliruan yang sama sambil menganggapnya tidak penting.
Jika semua kesalahan bisa dibenarkan sebagai gaya komunikasi, lantas bagaimana kita membedakan permainan bahasa yang disengaja dengan kekeliruan yang sebenarnya dapat dihindari?
Bebas Bereksperimen, tetapi Jangan Berhenti Belajar
Saya memahami bahwa media sosial mengutamakan kecepatan. Orang bisa mengetik sambil melakukan aktivitas lain, membalas komentar dengan spontan, atau mengunggah pendapat ketika sedang bersemangat. Tidak realistis jika setiap tulisan harus melewati proses penyuntingan panjang sebelum dipublikasikan.
Namun, membiasakan diri membaca ulang tulisan sebelum mengunggahnya bukanlah pekerjaan yang sulit. Ketika ragu terhadap sebuah kata, kita juga bisa memeriksa kamus atau sumber kebahasaan tepercaya. Langkah sederhana tersebut dapat membantu kita mengurangi kesalahan yang sebenarnya tidak perlu terjadi.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah kesediaan menerima koreksi. Mengingatkan kesalahan penulisan seharusnya tidak menjadi alasan untuk mempermalukan orang lain. Sebaliknya, koreksi yang disampaikan dengan baik juga tidak perlu langsung dianggap sebagai serangan pribadi.
Saya sendiri tidak kebal terhadap kesalahan. Karena itu, persoalan ini bukan tentang siapa yang paling pintar atau paling benar dalam berbahasa. Yang lebih penting adalah kemauan untuk terus belajar dan memperbaiki kebiasaan menulis.
Kita juga tidak perlu menganggap semua bentuk bahasa informal sebagai sesuatu yang buruk. Istilah seperti bagusn’t dan becusn’t boleh saja berkembang selama digunakan dalam konteks yang sesuai. Kreativitas anak muda tidak harus dikorbankan hanya demi mempertahankan bahasa dalam bentuk formal.
Namun, kebebasan bereksperimen semestinya berjalan bersama pemahaman terhadap bahasa yang digunakan. Kita bisa menciptakan istilah baru sekaligus mempelajari aturan penulisan dasar. Keduanya bukan pilihan yang saling meniadakan.
Tentu saja saya pun bersepakat bahasa Indonesia bukan sekadar kumpulan aturan yang harus dihafalkan untuk memperoleh nilai bagus di sekolah. Bahasa merupakan sarana untuk menyampaikan pikiran, membangun hubungan, dan membuat gagasan kita dipahami orang lain.
Biarlah bahasa berkembang mengikuti kreativitas penuturnya. Biarlah Gen Z menciptakan istilah baru yang jenaka dan relevan dengan pengalaman mereka. Namun, jangan sampai kita begitu sibuk menciptakan kata-kata baru hingga lupa memperhatikan cara menulis kata-kata yang sudah kita miliki. Sebab, bebas berbahasa bukan berarti berhenti belajar tentang bahasa. Benar apa betul?