Ulasan

Potret Kelam Perundungan dan Kejahatan Digital dalam Novel 'Mel, Melatiku'

Potret Kelam Perundungan dan Kejahatan Digital dalam Novel 'Mel, Melatiku'
Sampul Novel Mel, Melatiku (Gramedia)

Jika ingin merekomendasikan novel remaja yang ringan bagi pembaca yang bahkan tidak terlalu suka dengan aktivitas membaca, saya akan memilih novel-novel karya Ken Terate dalam daftar bacaan tersebut. Termasuk salah satu novel berjudul 'Mel, Melatiku' yang mengangkat isu yang sangat dekat dengan dunia remaja. Yakni tentang sekolah, kompetisi, kehidupan romansa, perundungan, hingga kejahatan digital.

Bagi saya pribadi, novel ini sangat menarik. Ada banyak pesan moral yang bisa dipetik tapi tidak terkesan menggurui. Lewat potongan kisah hidup remaja perempuan bernama Amelie, pembaca diajak untuk menyelami berbagai isu yang barangkali menjadi persoalan yang dialami banyak remaja.

Awalnya, kehidupan  Amelie atau yang akrab disapa Mel ini terlihat normal. Ia adalah seorang siswi yang merangkap sebagai atlet renang. Sejak kecil, Bundanya sangat telaten mendidik Mel dan adiknya agar menjadi anak-anak yang berprestasi.

Berkat didikan tersebut, Mel menjadi atlet yang menyandang banyak gelar prestasi di kejuaraan renang. Bahkan sebentar lagi ia akan mengikuti kejuaraan renang tingkat nasional. Namun, kehidupannya perlahan berubah ketika Axel datang dalam hidup Mel lalu mengacaukan semuanya.

Di tengah puncak prestasinya, Mel terlibat skandal dengan hubungannya bersama Axel. Yakni ketika pacarnya tersebut menyebarkan foto-foto intim Mel di media sosial dengan niat mempermalukan dan menjatuhkan nama baik Mel.

Oleh karena peristiwa tersebut, karier Mel sebagai atlet renang pun sempat terhenti. Mel menderita akibat kejahatan digital yang ia terima. Ia bahkan menjadi korban perundungan oleh orang-orang di sekitarnya hingga mengalami depresi. Kariernya sebagai atlet renang terhenti, ia pindah sekolah, bahkan harus rutin berobat ke psikolog dan psikiater karena nyaris kehilangan semangat untuk melanjutkan hidup.

Meskipun sempat berada di titik terendah, tapi pada akhirnya Mel berhasil pulih. Seiring dengan kesehatan mental nya yang semakin membaik, ia mulai berani untuk menghadapi luka masa lalunya. Ia perlahan bangkit dan kembali menjalani hobinya berenang meskipun tidak lagi menjadi atlet.

Sekilas, novel ini terkesan mirip dengan novel remaja pada umumnya. Konflik pertama yang dipaparkan adalah kisah percintaan ala anak SMA. Tapi setelah membaca keseluruhan cerita, apa yang saya tangkap bukan lagi sekedar kisah cinta monyet. Tapi penulis berusaha mengangkat isu tentang kesehatan mental, hubungan manipulatif, dan perundungan dalam dunia remaja yang terasa realistis.

Saya juga suka dengan cara Ken Terate mengangkat isu tentang bagaimana pola pengasuhan ternyata amat berdampak pada karakter anak. Sebagai orang tua, saya bisa memahami gaya parenting Bunda Mel yang sangat peduli dan totalitas dalam mendidik anak-anaknya agar berprestasi. Tapi ternyata Bunda tidak sadar bahwa sikap itu sebenarnya adalah manifestasi dari trauma masa kecilnya yang merasa diabaikan oleh orang tuanya. Kepedulian Bunda yang terlalu berlebihan membuat ia lupa bahwa seorang anak yang sudah remaja juga harus belajar untuk memilih jalan hidupnya sendiri.

Satu pelajaran berharga yang bisa dipetik dari keseluruhan cerita adalah bagaimana seseorang selalu punya kesempatan kedua untuk bangkit. Kita semua mungkin pernah melakukan kesalahan. Tapi masa depan kita tidak lantas berakhir hanya karena satu kesalahan besar. Dari Mel, kita bisa belajar bahwa meskipun badai itu sangat besar, tapi ada saatnya ia akan berakhir.

Demikianlah ulasan singkat mengenai novel Mel, Melatiku, Jadi, bagi Sobat Yoursay yang ingin membaca novel remaja yang ringan tapi tetap inspiratif, novel ini bisa menjadi rekomendasi bacaan selanjutnya. Selamat membaca!

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda