Ulasan

Ulasan Novel Para Priyayi, Menjadi Terhormat Bukan Sekadar soal Jabatan

Ulasan Novel Para Priyayi, Menjadi Terhormat Bukan Sekadar soal Jabatan
Novel Para Priyayi (Doc.Pribadi/Habibah)

Setiap orang tentu menginginkan kehidupan yang lebih baik. Pendidikan dan pekerjaan sering menjadi jalan untuk memperbaiki keadaan serta memperoleh kedudukan yang lebih baik di masyarakat. Namun, perubahan status sosial bukan hanya tentang jabatan atau pengakuan. Nilai kehidupan dan tanggung jawab perlu dijaga ketika seseorang berhasil mencapai kedudukan tertentu. 

Persoalan tersebut menjadi salah satu pokok cerita dalam novel Para Priyayi karya Umar Kayam. Novel ini menggambarkan kehidupan masyarakat Jawa dalam menghadapi perubahan zaman. Melalui perjalanan sebuah keluarga dari beberapa generasi, pembaca diajak memahami pengaruh pendidikan, pekerjaan, dan lingkungan terhadap kedudukan sosial seseorang.

Kisah berpusat pada Sastrodarsono, anak petani yang hidup dalam kesederhanaan. Kesempatan memperoleh pendidikan membawanya memasuki lingkungan priyayi dengan bekerja sebagai pegawai negeri. Pada masa itu, menjadi priyayi merupakan salah satu jalan untuk memperbaiki nasib dan memperoleh penghormatan masyarakat.

Perjalanan Sastrodarsono tidak berlangsung secara instan. Ia harus melalui proses panjang dan menyesuaikan diri dengan lingkungan serta tata kehidupan priyayi. Melalui tokoh ini, Umar Kayam memperlihatkan bahwa pendidikan dapat membuka kesempatan bagi seseorang untuk mengubah keadaan hidupnya.

Kisah kemudian berkembang mengikuti kehidupan anak-anak dan cucu Sastrodarsono. Setiap generasi menghadapi keadaan sosial, pandangan, dan persoalan yang berbeda. Kedudukan yang telah dirintis generasi sebelumnya tidak serta-merta membuat generasi berikutnya memiliki jalan hidup yang sama. Perbedaan pilihan antargenerasi menjadi bagian menarik dalam novel ini.

Hal menarik lainnya ialah penggambaran makna menjadi seorang priyayi. Status tersebut bukan sekadar sebutan bagi orang yang memiliki kedudukan tinggi. Ada nilai tata krama, pendidikan, pengendalian diri, dan sikap menghormati orang lain yang melekat di dalamnya. Salah satu nilai yang ditekankan ialah sikap rikuh, yakni kesadaran untuk menjaga perilaku agar tidak bertindak semaunya terhadap orang lain.

Hal yang patut direnungkan, memperoleh kedudukan lebih baik semestinya tidak membuat seseorang melupakan asal-usul dan nilai kesopanan. Penghormatan tidak hanya ditentukan oleh jabatan atau status sosial, tetapi juga terlihat dari cara seseorang memperlakukan orang lain.

Keunggulan novel Para Priyayi terletak pada penggambaran kehidupan masyarakat Jawa melalui kisah keluarga lintas generasi. Umar Kayam tidak hanya mengisahkan perjalanan Sastrodarsono, tetapi juga memperlihatkan perubahan budaya, hubungan keluarga, dan pergeseran pandangan hidup. Penggunaan beberapa sudut pandang memberi kesempatan kepada pembaca untuk memahami pengalaman tokoh-tokohnya dari sisi berbeda.

Meski demikian, perpindahan sudut pandang dan banyaknya tokoh terkadang membuat alur cerita terasa kurang mudah diikuti. Penggunaan istilah bahasa Jawa juga mungkin menjadi kendala bagi pembaca yang belum terbiasa. Namun, hal tersebut sekaligus menjadi kekuatan tersendiri karena membantu menghadirkan suasana budaya Jawa secara lebih dekat. Pembaca dapat mengenal istilah, tata krama, dan cara pandang masyarakat yang menjadi latar kehidupan para tokohnya.

Benar kiranya bahwa memperbaiki nasib membutuhkan usaha dan kesempatan. Namun, keberhasilan tidak semestinya hanya diukur dari perubahan kedudukan atau pengakuan masyarakat. Ada tanggung jawab moral yang harus dijaga ketika seseorang memperoleh kehidupan lebih baik. Pendidikan dan pencapaian seharusnya membuat manusia semakin menghargai sesama, bukan merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Pada akhirnya, Para Priyayi mengajak pembaca memahami bahwa setiap generasi memiliki tantangan dan pilihan hidup masing-masing. Perubahan zaman boleh terjadi, tetapi nilai kesopanan, penghargaan terhadap sesama, dan kesadaran akan asal-usul tetap perlu dipertahankan.

Novel karya Umar Kayam ini dapat menjadi bacaan bagi siapa saja yang ingin mengenal kehidupan masyarakat Jawa, perubahan status sosial, dan hubungan antargenerasi melalui karya sastra. Selamat membaca, semoga kisah di dalamnya menambah pemahaman kita tentang arti pendidikan, kesuksesan, dan tanggung jawab dalam kehidupan.

Identitas Buku

Judul: Para Priyayi
Penulis: Umar Kayam
Penerbit: Pustaka Utama Grafiti
Tempat Terbit: Jakarta
Cetakan: Cetakan ke-12 (edisi 2008)
Jumlah Halaman: 337 halaman
ISBN: 978-979-444-186-2

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda