Hujan deras mengguyur kota kecil itu malam itu, tahun 2015. Aku, Rina, berlari menuju halte bus sambil memegang payung rusak. Tiba-tiba, mobil hitam melaju kencang dan menyiramkan air comberan ke tubuhku. Basah kuyup, aku berdiri gemetar di trotoar.
Seorang pria turun dari mobil di seberang jalan. Dia menyeberang sambil memegang payung besar. "Maaf sekali," katanya lembut. Namanya Arka. Dia melepas jaketnya dan memelukku sebentar untuk menghangatkan tubuhku yang dingin. Pelukan itu singkat, tetapi anehnya, aku merasakan kehangatan yang tak biasa—seperti aliran energi lembut yang menyelinap ke kulitku, meninggalkan jejak yang tak hilang.
Sejak itu, kami bertemu lagi di kafe dekat kampus. Arka adalah mahasiswa fisika yang eksentrik. Dia sering bicara tentang teori waktu, parallel universe, dan bagaimana emosi manusia bisa meninggalkan "jejak kuantum" di ruang-waktu. Aku tertawa, menganggapnya omong kosong. Namun, pelukan pertamanya itu selalu terngiang. Setiap kali aku kedinginan, aku ingat kehangatan itu, dan tubuhku otomatis hangat kembali, seolah ada api kecil menyala di dada.
Kami jatuh cinta. Arka bilang, pelukannya waktu itu bukan sembarangan. "Aku punya kemampuan langka," katanya suatu malam di taman. "Aku bisa mentransfer sebagian esensi diriku ke orang lain melalui sentuhan. Pelukan itu... aku beri kamu 'kehangatanku' selamanya."
Aku tak percaya. "Buktikan."
Dia tersenyum, lalu memelukku lagi. Kali ini, aku merasakan getaran halus, seperti listrik statis yang menyenangkan, mengalir dari telapak tangannya ke punggungku. Sejak itu, setiap musim dingin, aku tak pernah kedinginan lagi. Bahkan di ruangan ber-AC, tubuhku tetap hangat. Dokter bilang itu anomali medis, tetapi aku tahu itu dari Arka—hadiah tak terlihat yang dia tanamkan.
Hubungan kami indah, tetapi unik. Arka sering bereksperimen dengan kemampuannya. Dia bisa transfer emosi lain: ketenangan saat aku stres ujian, keberanian saat aku presentasi. Namun, ada aturannya—setiap transfer mengurangi esensinya sendiri. "Aku seperti baterai," katanya sambil tertawa pahit. "Kalau habis, aku hilang dari dunia ini."
Aku takut. "Jangan lakukan lagi. Aku cukup dengan yang ada."
Tetapi, Arka keras kepala. Saat aku sakit parah karena demam tinggi, dia memelukku berjam-jam di kamar kos, transfer kehangatan dan kekebalan hingga keringatnya membasahi bajuku. Aku sembuh dalam semalam, tetapi Arka... dia mulai lemah. Kulitnya dingin seperti es, matanya sayu, suaranya pelan.
Tahun berganti. 2020, pandemi melanda dunia. Aku terjebak di kota lain untuk kerja magang, karantina ketat memisahkan kami. Arka di rumah sakit kecil, terinfeksi virus mematikan. Kami hanya bisa video call setiap malam. "Aku dingin sekali, Rin," katanya lemah, selimut tebal pun tak membantu.
Aku menangis di layar ponsel. "Peluk aku dari sini, Arka."
Dia tersenyum tipis, wajahnya pucat. "Ingat pelukan pertamaku? Kehangatan itu masih ada padamu. Sekarang, balikkan ke aku. Coba rasakan."
Aku bingung, tetapi aku coba. Aku tutup mata, ingat pelukan itu di bawah hujan, dan bayangkan memeluknya kembali dengan segenap jiwa. Anehnya, aku merasakan aliran hangat keluar dari tubuhku, seperti sungai kecil mengalir jauh.
Di layar, Arka menghela napas lega, warna kembali ke pipinya. "Sama... yang sama dengan pelukanmu waktu itu."
Dia sembuh perlahan, lebih cepat dari pasien lain. Ternyata, transfer itu dua arah—esensi yang dia beri bisa kembali saat dibutuhkan, seperti lingkaran abadi.
Kini, Desember 2025, kami sudah menikah dua tahun. Arka tak lagi bereksperimen gila-gilaan. Kami hidup biasa di rumah kecil pinggir kota, dengan rahasia kecil: pelukan kami bisa saling menghangatkan jiwa, bahkan di saat terdingin sekalipun.
Malam ini, hujan deras lagi, mengingatkan malam pertemuan kami. Aku basah kuyup pulang dari kantor. Arka menunggu di pintu, memegang payung besar yang sama.
Dia tersenyum nakal. "Maaf, aku tak bisa menyiram air comberan lagi. Mobilnya sudah tua."
Lalu dia peluk aku erat, kehangatan itu mengalir kembali—yang sama dengan pelukanmu waktu itu.
Aku balas pelukannya, lebih dalam, dan bisik, "Sekarang giliran aku yang transfer kehangatan abadi."
Di pelukan itu, kami tahu: cinta kami bukan hanya perasaan, melainkan ikatan kuantum yang tak pernah putus.
Baca Juga
-
Review Husbands in Action: Detektif dan Dokter Hewan Lawan Sindikat Jahat!
-
Review Film How to Make a Killing: Ambisi Mematikan Pewaris yang Kaya Raya
-
Review In the Hand of Dante: Sebuah Refleksi tentang Seni dan Kehilangan
-
Review Film Obsession: Suguhkan Horor Psikologis tentang Obsesi Berbahaya
-
Review Viral Hit: Perjalanan Heroik Remaja Melawan Bullying secara Live
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Afrika Selatan Gagal, Kanada Lolos 16 Besar Siap Lawan Belanda atau Maroko?
-
Piala Dunia 2026 dan Seni Melupakan Masalah Selama 90 Menit
-
Debut Sensasional, Cape Verde Jadi Tim Anomali di Ajang Piala Dunia 2026
-
Membaca Doorstoot naar Djokja: Menyelami Hari-Hari Paling Genting Indonesia
-
Syarat Berpenampilan Menarik di Lowongan Kerja, Bentuk Beauty Privilege?