Panor 2 adalah sekuel horor Thailand yang ditunggu-tunggu penggemar genre ilmu hitam dan supranatural. Disutradarai oleh Putipong Saisikaew (juga dikenal sebagai Tum Putipong Saisikaew), film ini melanjutkan kisah dari Panor (2025) yang sukses menyajikan teror mistis khas Thailand.
Panor 2 tayang perdana di Thailand pada 15 Januari 2026 dan resmi masuk bioskop Indonesia mulai 11 Februari 2026, tepat hari ini, melalui jaringan seperti CGV, Cinépolis, dan lainnya. Durasi film sekitar 125 menit dengan rating usia 18+ atau 21+ karena adegan kekerasan dan gore yang intens. Genre utamanya adalah horror, thriller, mystery, dan drama, dengan elemen black magic yang menjadi ciri khas.
Sinopsis: Ritual Ilmu Hitam yang Kembali
Cerita berfokus pada Panor (Cherprang Areekul) yang, setelah melepaskan kekuatan Dewa Bermata Tiga (Three-Eyed God) di film sebelumnya, mengalami reset total dalam hidupnya. Memorinya dihapus bersih, memberinya kesempatan kedua untuk menjalani mimpi menjadi mahasiswi di sebuah perguruan keguruan. Piak (Jackie Jackrin Kungwankiatichai), sosok pelindung setia, mengawasi dari kejauhan tanpa diketahui Panor.
Kehidupan baru ini tampak damai. Panor menikmati rutinitas kuliah, pertemanan, dan harapan masa depan yang normal. Namun, kedamaian itu rapuh. Tekanan sosial, pengkhianatan dari orang-orang terdekat, dan incaran para praktisi ilmu hitam perlahan memicu bangkitnya kekuatan gelap yang pernah ia kubur. Peringatan "Jangan bangkitkan kekuatan Dewa Bermata Tiga" menjadi mantra yang semakin relevan karena ketika kekuatan itu kembali, Panor bukan lagi sosok yang dikenal.
Film ini secara resmi terkait dengan franchise Art of the Devil (Long Khong), yang terkenal dengan ritual ilmu hitam brutal dan konsekuensi mengerikan dari keserakahan manusia. Panor 2 berfungsi sebagai kelanjutan sekaligus penghubung yang memperkaya lore tersebut, mengeksplorasi apa yang terjadi setelah penebusan sementara. Sutradara Putipong berhasil mempertahankan esensi horor Thailand: bukan hanya jumpscare murahan, melainkan teror yang lambat membangun melalui atmosfer, simbolisme ritual, dan konsekuensi psikologis.
Review Film Panor 2
Cherprang Areekul kembali menjadi bintang utama dan mencuri perhatian. Mantan anggota BNK48 ini menunjukkan rentang akting yang luas: dari gadis lugu dan penuh harapan di awal hingga transformasi mengerikan saat kekuatan gelap menguasai. Ekspresi matanya, gerak tubuh yang semakin tidak manusiawi, dan emosi yang meledak di adegan klimaks membuat penonton benar-benar merasakan penderitaan serta ancaman yang ia hadapi.
Jackie Jackrin Kungwankiatichai sebagai Piak memberikan keseimbangan emosional sebagai karakter yang setia, protektif, tetapi juga rapuh karena pengorbanan yang harus ia bayar. Pemeran pendukung seperti Pimma PiXXiE (Mint) dan Chin Chinawut Indracusin menambah lapisan konflik interpersonal yang memicu bangkitnya kutukan. Chemistry antarpemain terasa alami, terutama dalam adegan persahabatan yang kemudian berubah menjadi pengkhianatan.
Secara visual, Panor 2 kaya akan adegan gore dan practical effects yang memuaskan bagi penggemar horor ekstrem. Ritual ilmu hitam, tubuh yang berubah bentuk, dan kekerasan visceral disajikan dengan detail yang disturbing tanpa terasa berlebihan. Sinematografi menggunakan pencahayaan redup, warna merah darah yang dominan, dan close-up wajah yang membuat penonton ikut merasakan ketakutan. Beberapa adegan kamera mengikuti gerakan lambat yang membangun suspense secara efektif. Namun, seperti disebutkan dalam beberapa ulasan awal, ada bagian di mana CGI terlihat kurang halus, terutama pada elemen supranatural yang lebih besar.
Pacing film cukup baik untuk durasi dua jam lebih, meski di tengah-tengah ada sedikit perlambatan yang bisa membuat penonton kurang fokus. Sound design dan musik latar yang mencekam turut memperkuat atmosfer. Suara bisikan, denting ritual, dan jeritan yang tiba-tiba sangat efektif di bioskop.
Panor 2 tidak hanya menyuguhkan jumpscare dan darah, tetapi juga menggali tema lebih dalam: identitas diri, godaan kekuasaan, pengkhianatan, dan batas antara manusia dengan kekuatan gaib. Kutukan Dewa Bermata Tiga menjadi metafora untuk trauma yang tak pernah benar-benar hilang dan bagaimana lingkungan sosial bisa "membangkitkan" sisi gelap seseorang. Film ini juga merefleksikan kepercayaan rakyat Thailand terhadap ilmu hitam (saiyasat) dan konsekuensinya. Bagi penonton Indonesia, elemen ini familier karena budaya mistis yang mirip sehingga membuat teror terasa lebih dekat.
Dibandingkan film pertama, menurut saya Panor 2 terasa lebih ambisius dalam skala emosi dan visual. Panor (2025) lebih fokus pada asal-usul kutukan dan penderitaan protagonis, sementara sekuel ini mengeksplorasi konsekuensi setelah penebusan serta konflik internal yang lebih kompleks. Rating IMDb saat ini sekitar 6.4/10 mencerminkan penerimaan yang positif, tetapi tidak luar biasa. Banyak yang memuji gore dan akting, tetapi ada yang merasa cerita agak predictable bagi penggemar genre ini.
Kelebihan utama adalah komitmen pada gore dan ritual yang autentik, penampilan Cherprang yang kuat, serta atmosfer horor yang konsisten. Film ini berhasil membuat penonton tidak hanya takut, tetapi juga iba dan tegang sepanjang durasi. Kekurangannya berada pada beberapa momen pacing yang kurang ketat dan ketergantungan pada formula franchise yang sudah dikenal. Bagi yang belum menonton Panor pertama, sekuel ini masih bisa dinikmati secara mandiri, meski pemahaman lore akan lebih lengkap jika menonton keduanya secara berurutan.
Secara keseluruhan, Panor 2 adalah hiburan horor yang solid dan intens. Bagi penggemar horor Thailand seperti The Medium, Art of the Devil, atau film ilmu hitam Asia lainnya, film ini wajib ditonton di bioskop untuk pengalaman maksimal. Sutradara Putipong Saisikaew berhasil mempertahankan warisan franchise sambil memberikan twist emosional yang lebih dalam pada karakter Panor. Kalau Anda mencari film yang membuat bulu kuduk merinding dan perut mual karena gore, Panor 2 menyediakannya dengan berlimpah.
Sangat direkomendasikan untuk ditonton. Rating pribadi: 7/10. Tayang mulai hari ini di bioskop kesayangan Anda, ya, Sobat Yoursay. Jangan lewatkan kalau Anda berani menghadapi kekuatan Dewa Bermata Tiga yang kembali bangkit. Siapkan mental juga karena sekali terbangun, Panor tidak akan pernah sama lagi.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Sinopsis Film Jepang Kokuho, Bakal Tayang di Bioskop pada 18 Februari Nanti
-
Survey: Film Indonesia Saingi Popularitas Drama Korea
-
Sinopsis Vadh 2, Film India yang Dibintangi Sanjay Mishra dan Neena Gupta
-
Sinopsis Film Rumah Tanpa Cahaya: Saat Kehilangan Ibu Mengubah Arti Rumah
-
Dari Novel ke Film: The Housemaid Sebuah Thriller Psikologis yang Mencekam
Ulasan
-
Makna Lagu Multo dari Cup of Joe: Kisah Kenangan yang Menghantui
-
Membaca Ulang Merahnya Merah: Saat Kehilangan Menjadi Awal Pencarian Makna
-
Review Novel Cerita Hati Maharani: Menelusuri Luka dan Kedewasaan
-
Novel Etnik Menik: Mimpi dan Realitas Sosial yang Diam-diam Menyentil
-
Membaca Lelaki Tua dan Laut: Tentang Kekuatan Mental dan Seni Bertahan
Terkini
-
Luka-luka yang Tidak Mudah Diobati
-
Fenomena Cut Off Orang Tua: Self-Love atau Batasan yang Terlambat Dibuat?
-
4 Ide Styling Outerwear ala Yeosang ATEEZ untuk OOTD Simpel tapi Kece!
-
4 Rekomendasi HP dengan Memori Internal 1 TB 2026, Leluasa Menyimpan File Besar dan Aplikasi Berat
-
Bukan karena Cegah Klitih, Warga Sleman Divonis karena Penganiayaan Bersama