Bimo Aria Fundrika | Imas Hanifah N
Ilustrasi pantulan wajah perempuan pada potongan cermin (Pexels/Bastian Riccardi)
Imas Hanifah N

Apartemen yang baru aku tempati ini sebenarnya lumayan bagus. Langit-langitnya tinggi, lantainya terbuat dari bahan yang kokoh, dan yang paling penting tentu saja harganya masuk akal untuk kesehatan dompetku.

Hanya ada satu hal yang sejak awal agak menggangguku. Di unit 303 ini, terdapat sebuah cermin jadul berukuran besar yang terpasang di kamar mandi.

Cermin itu tertanam di dinding dengan bingkai kayu tua yang sudah agak keropos. Di pojok kanan bawahnya terdapat retakan kecil, seperti bekas hantaman benda tumpul.

Aku tidak tahu mengapa pemilik apartemen tidak memperbaikinya terlebih dahulu sebelum menjualnya kepadaku. Namun, mengingat harganya yang cukup miring, aku tidak berani protes.

Toh, ini hanya cermin, benda mati yang tidak terlalu berarti apa-apa. Bahkan, mungkin justru bagus kalau dipakai foto-foto lalu diunggah ke media sosial. Pasti ada saja yang bilang cerminnya estetik atau antik.

Ya, semuanya berjalan aman-aman saja sampai suatu malam, sekitar pukul satu dini hari, sesuatu yang ganjil terjadi.

Saat itu aku baru saja menyelesaikan beberapa dokumen dan hendak mencuci muka. Efek bekerja lembur membuat mataku perih saat terkena air.

Mungkin karena terlalu lama menatap layar komputer, pikirku. Setelah itu, tepat ketika aku sedang menyeka wajah dengan handuk, aku merasakan ada yang aneh. Kalian pasti tahu perasaan itu—semacam sensasi seolah ada gerakan yang tertangkap di sudut mata, tetapi ketika ditengok, tidak ada apa-apa.

Aku diam sebentar, menahan napas sejenak, sembari menatap pantulanku sendiri. Wajahku terlihat sedikit kusam di bawah lampu kamar mandi yang berkedip pelan.

Aku mencoba tersenyum kecil, berupaya menyemangati diri sendiri, meyakinkan bahwa itu hanya perasaanku saja. Sayangnya, keanehan lain menyambutku. Ketika aku berhenti tersenyum dan ekspresiku kembali datar, aku bersumpah, pantulanku di cermin masih tersenyum.

Aku mengerjap, lalu mundur beberapa langkah. “Oke, fiks, aku butuh tidur,” gumamku pelan. Suaraku sebenarnya terdengar agak aneh, tetapi aku tak peduli dan segera pergi dari kamar mandi, memburu tempat tidur.

Malam berikutnya, hal itu terjadi lagi. Kali ini lebih jelas, padahal aku tidak sedang lembur atau kelelahan. Aku sedang menyikat gigi, posisiku sedikit menunduk untuk berkumur. Ketika kembali mengangkat kepala dan menatap kaca, aku melihat pantulanku baru saja hendak ikut menunduk.

Aku mematung, menyadari betapa memang ada yang salah dengan cermin ini. Sikat gigi masih di tanganku, mulutku masih penuh busa. Beberapa saat aku tidak berani bergerak. Aku hanya terus memperhatikan pantulanku sendiri di dalam cermin itu. Seharusnya, kalau aku diam, ia juga diam, bukan?

Namun sorot matanya—sorot matanya berbeda. Sosok aku di dalam cermin itu seperti sedang melirik ke arah pintu kamar mandi di belakangku. Seolah-olah ada sesuatu yang berdiri di sana, tepat di belakang punggungku, sesuatu yang hanya bisa dilihat lewat cermin itu.

Bulu kudukku langsung meremang hebat. Aku hendak menoleh, tapi tubuhku kaku. Dan saat itulah, retakan kecil yang ada di pojok cermin mulai merambat naik.

Bunyi retakan demi retakan terdengar seperti suara yang mengerikan di telingaku. Lalu, dapat kusaksikan jika aku yang ada di dalam cermin melakukan sesuatu yang tidak kulakukan. Ia mengangkat jadi telunjuknya dan meletakkannya di depan bibir.

“Ssst,” bisiknya.

Suara itu, bukan berasal dari pikiranku. Aku yakin. Suara bisikan itu betul-betul seperti keluar dari balik cermin. Dan yang paling membuatku menggigil, pantulan itu tak lagi mengikuti gerakanku.

Ia tetap berdiri di sana, menatap nanar ke arah pintu, sementara aku pelan-pelan merasa ada tangan yang menyentuh bahuku dari belakang. Tangan yang sedingin es. 

Dalam kepanikan yang tak bisa sepenuhnya kujelaskan, aku menerka-nerka. Apakah sebenarnya ini mimpi? Apakah sebenarnya ini hanya ilusi?

Namun, sentuhan di bahuku itu terasa sangat nyata hingga rasa dinginnya seakan-akan menembus kulit dan membekukan aliran darahku.

Aku bisa melihat melalui pantulan cermin betapa pucatnya wajahku saat ini, kontras sekali dengan bayangan hitam yang mulai terbentuk di belakang pundakku. Selain itu, sosok di dalam cermin yang masih menempelkan telunjuk di bibirnya, kini membelalak ketakutan, seolah ia pun sedang merasa terancam.

Perlahan, jari-jari sedingin es itu mulai bergerak, merambat naik dari bahu menuju leherku. Aku ingin berteriak, tapi tenggorokanku seakan tersumbat. Sulit untuk mengatakan satu kata pun. Di sisi lain, suara retakan kaca kembali terdengar, kali ini lebih keras. Bersamaan dengan itu, lampu kamar mandi juga mendadak padam. Hanya tersisa gulita di ruangan ini. 

Aku menahan napas. Tangan yang mencengkeram leherku kini tak kurasakan lagi. Aku meraba-raba dinding, mencoba meraih gagang pintu kamar mandi. Namun, tak kunjung kutemukan.

Sebagai gantinya, aku menyentuh permukaan kaca. Aku bingung. Ke mana pintu? Aku yakin, letaknya ada di sini. Aku yakin kalau pintunya juga terbuat dari kayu. Bukan kaca. 

Hanya beberapa detik setelah itu, lampu kembali menyala. Aku melihat sekeliling. Tak ada yang aneh. Aku merasa lega, tapi masih terasa ganjil. Sekali lagi, pintu kayu, lampu yang menyala terang, dan cermin? Cermin yang kini kulihat, tampak tak memiliki retak sedikit pun. Aneh.

Apa benar ini hanya mimpi? Aku masih mencoba membuka pintu, kali ini aku mampu meraih gagangnya, tapi entah mengapa, sulit dibuka. Seperti terkunci dari luar. Aku kehabisan sabar, tapi masih mencoba berupaya keras untuk memecahkan misteri ini.

Aku membuka keran wastafel dan membasuh wajah. Tepat saat aku kembali melihat wajahku di cermin, diriku yang lain muncul lagi. Ia yang bergerak tak sesuai dengan gerakanku. Namun, kali ini, ia tampak tersenyum semringah. Ia berlenggak-lenggok di dalam sana, lalu setelah itu, bisa kulihat kalau ia keluar dari kamar mandi begitu saja. 

Aku masih tak mengerti. Aku kembali mencoba membuka pintu, menggedor-gedornya berkali-kali, sampai tanganku sakit. Namun, tak ada yang terjadi. Pintu tetap terkunci rapat. Apakah aku terjebak? Selamanya?

(*)