Di kota metropolitan Neonara yang tidak pernah tidur, gedung-gedung pencakar langit menjulang seperti jarum hitam. Lampu neon berkelip 24 jam hingga malam terasa seperti siang yang palsu. Tidak ada yang pernah benar-benar melihat bulan di sana karena terhalang oleh polusi dan cahaya buatan.
Elara, seorang astronom amatir, tinggal di apartemen lantai 80. Ia berprofesi sebagai programmer, tetapi pada malam hari apartemennya dikhususkan untuk teleskop canggih buatannya sendiri. Legenda kota Neonara menyebutkan bahwa jika bulan berdarah, itu tandanya sistem akan kolaps total—listrik padam, data lenyap, dan dunia digital akan ambruk.
Malam gerhana total tiba, Elara berada di rooftop gedung, sendirian dengan teleskopnya. Ia ingin merekam data ilmiah untuk membuktikan bahwa bulan hanyalah fenomena optik biasa.
Langit dipaksa gelap karena pemadaman listrik mendadak—sesuatu yang sangat jarang terjadi di Neonara. Gerhana pun datang. Bulan tidak memerah seperti biasanya; ia benar-benar berdarah. Cairan merah gelap menetes, jatuh seperti hujan deras ke atap-atap gedung. Setiap tetes membeku menjadi kristal merah tajam yang menusuk antena dan panel surya.
Kota pun panik. Sirene berbunyi. Orang-orang di jalan berlarian, server down, dan saham pun ambruk. Media sosial mati. Mereka menyalahkan Elara karena dianggap “mengganggu langit dengan alat anehnya”.
Elara tidak lari begitu saja. Ia mendekati kristal pertama di rooftop. Hangat dan berdenyut. Sentuhannya membuka ribuan suara tangisan: arwah yang tertahan di bulan—jiwa orang-orang kota yang mati dalam kesepian digital, bunuh diri karena tekanan kerja, hubungan virtual yang tidak nyata, dan identitas palsu di layar. Bulan bukan pemakan jiwa, melainkan penjara jiwa di era modern.
Yang berbeda, Elara tidak menghentikan darah di bulannya. Ia malah mempercepat alirannya dengan meretas satelit tua yang ia kuasai—membuka “gerbang” digital di langit kota melalui proyeksi hologram raksasa yang menarik darah bulan turun lebih cepat.
Arwah-arwah turun sebagai hologram pucat terlebih dahulu, lalu menjadi nyata. Mereka bertemu di tengah kemacetan: seorang pemrogram menemui rekan kerjanya yang overdosis, influencer memeluk penggemar yang mati karena cyberbullying, hingga pasangan virtual akhirnya bertemu secara fisik.
Kota yang awalnya kacau berubah menjadi pesta pertemuan massal di jalanan. Lampu mati, tetapi kristal merah memberikan cahaya alami. Setiap orang memeluk orang asing yang ternyata adalah keluarga arwah mereka.
Namun, ada harganya: setiap arwah yang turun membuat satu data digital hilang secara permanen. Foto keluarga lenyap dari cloud, chat history terhapus, dan akun media sosial kosong. Orang mulai lupa pada wajah teman daring, bahkan lupa password hidup mereka. Elara sendiri lupa pada pacarnya yang mati karena kecelakaan otonom—ingatan terakhirnya hanyalah senyuman di video call.
Darah bulan mengering. Bulan kembali pucat dan berlubang karena bekas luka. Arwah terakhir muncul: seorang wanita tua yang mirip Elara. “Aku ibumu. Mati kesepian di kota ini, tak pernah kau kenal langsung. Terima kasih telah membebaskanku.” Elara memeluk arwah itu, tetapi saat lenyap, semua ingatan tentang ibunya hilang dari database dunia—dan dari pikirannya sendiri.
Pagi pun menjelang. Listrik menyala perlahan. Kota seakan dimulai dari awal lagi, tetapi sekarang terasa lebih manusiawi. Orang kembali melakukan aktivitas dengan berbicara secara tatap muka, bukan melalui pesan singkat. Lalu lintas manual mulai berjalan, orang-orang tersenyum dengan nyata, bukan sekadar pencitraan seperti sebelumnya.
Tidak ada yang ingat akan malam berdarah tersebut. Hanya Elara yang merasakan kekosongan aneh. Ia naik ke rooftop lagi, melihat bulan yang sudah berlubang. “Mengapa aku bahagia, tetapi merasa sedih?” gumamnya.
Sesekali, di gerhana berikutnya, bulan meneteskan satu tetes darah kecil ke gedung-gedung—mengingatkan seorang wanita bahwa ia pernah menyelamatkan kota dengan membiarkan langit menangis dalam darah digital. Malam ketika bulan berdarah bukanlah akhir teknologi, melainkan awal dari lupa yang memanusiakan manusia kembali.
Tahun-tahun berlalu di Neonara yang kini lebih tenang. Gedung-gedung tetap menjulang, tetapi lampu neon redup, diganti cahaya hangat dari jendela-jendela yang terbuka. Orang berjalan kaki, berbincang langsung, dan tertawa tanpa filter.
Elara masih di apartemen lantai 80. Teleskopnya berdebu dan tidak lagi dipakai. Ia menjadi guru astronomi di sekolah kecil, mengajarkan anak-anak melihat bintang dengan mata telanjang. Mereka tidak tahu bahwa bulan pernah berdarah karena dirinya.
Setiap gerhana, Elara naik ke rooftop sendirian. Bulan berlubang itu muncul, meneteskan satu tetes darah kristal. Tetesan itu jatuh pelan dan mendarat di tangannya. Hangat, berdenyut, dan membawa bisikan samar—suara ibunya yang telah hilang selamanya dari ingatan.
Ia tidak lagi meretas satelit. Kekosongan di hatinya menjadi pengingat akan pengorbanan demi kemanusiaan. Kota hidup tanpa data abadi, tetapi penuh dengan cerita nyata. Suatu malam, gerhana besar datang lagi. Bulan mengeluarkan lebih banyak darah. Elara tersenyum tipis. “Biarkan menangis lagi,” gumamnya. Kristal merah menyebar, membawa arwah baru yang tertahan di era digital yang mulai bangkit kembali.
Kota tidak kolaps. Mereka menyambutnya dengan pelukan, seperti dulu. Elara tahu, lupa adalah berkah—membuat manusia belajar hidup di saat ini. Bulan tetap berlubang, menjadi penjaga rahasia abadi. Neonara tidak pernah tidur sepenuhnya, tetapi kini ia bermimpi dengan mata terbuka.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Dan Da Dan, Chainsaw Man Reze Arc, dan Scarlet Masuk Nominasi Annie Awards
-
Menghapus Luka, Membangun Kembali Aceh dan Sumatra Pasca Banjir
-
Liburan Hemat ke Bandung? Ini 4 Hotel Kapsul Nyaman dan Strategis
-
Pertama dari K-Pop, Stray Kids Masuk Daftar Headliner Governors Ball 2026
-
Film Greenland 2: Migration, Resiliensi Pasca Hantaman Komet Clarke