M. Reza Sulaiman | Ryan Farizzal
Ilustrasi gambar kucing yang tidur di atas sajadah (Gemini AI/Nano Banana)
Ryan Farizzal

Di pinggiran kota Jakarta yang ramai, hiduplah seorang janda tua bernama Bu Siti. Rumah kontrakannya kecil, berdinding bata setengah jadi, dengan atap seng yang berderit saat hujan. Suaminya meninggal lima tahun lalu karena sakit, meninggalkan ia sendirian dengan uang pensiun kecil yang nyaris tidak cukup untuk makan sehari-hari.

Bu Siti hidup hemat, sering kali hanya makan nasi dengan garam dan sambal sisa. Namun, hatinya luas; setiap hari ia menyisihkan sedikit rezeki untuk kucing-kucing jalanan yang berkeliaran di gang sempit depan rumahnya.

Kucing-kucing itu banyak. Ada yang kurus kering, berbulu kusam, hingga yang pincang karena ditabrak motor. Bu Siti memanggil mereka "anak-anakku". Yang paling setia adalah seekor kucing betina berbulu oranye pudar yang ia beri nama Mimi. Mimi selalu datang saat senja, menggosok-gosokkan badannya ke kaki Bu Siti seolah meminta belaian. Bu Siti akan memberi makan sisa ikan atau tulang ayam yang didapat dari pasar. "Makanlah, Nak. Ibu juga lapar, tetapi kamu lebih lapar," katanya pelan.

Suatu malam saat hujan deras, Bu Siti duduk di teras rumahnya yang bocor. Air menetes dari atap, membasahi lantai tanah. Tagihan listrik menumpuk, obat encoknya habis, dan perutnya keroncongan sejak siang. Ia menatap langit gelap, tangannya gemetar memegang sajadah usang. "Ya Allah," bisiknya, "hamba ini sudah tua dan sendirian. Rezeki semakin sulit. Tolong berikan jalan keluar. Hamba tidak minta banyak, cukup untuk makan dan obat. Hamba pasrah pada-Mu."

Doanya panjang dan penuh air mata. Ia bersujud lama, memohon ampunan serta kemudahan. Namun, saat hendak bangun, tiba-tiba terdengar suara mengeong pelan dari bawah sajadah. Bu Siti terkejut. Ia mengangkat sajadahnya perlahan, dan di sana, meringkuk dalam keadaan basah kuyup, adalah Mimi. Kucing itu menggigil kedinginan, badannya menempel erat ke sajadah seolah mencari kehangatan. Mimi menatap Bu Siti dengan mata hijau yang sayu, lalu mengeong lagi lebih keras seakan mengeluh.

Bu Siti tertawa kecil di tengah tangisnya. "Kamu ini, Mimi. Malah mengimpit doa Ibu." Ia mengangkat Mimi pelan lalu memeluknya ke dada. Bulu kucing itu basah dan dingin, tetapi detak jantungnya hangat. Bu Siti merasa seperti sedang dipeluk anak sendiri. "Kamu juga lapar, ya? Hujan deras begini, mana ada tempat berteduh."

Malam itu, Bu Siti membagi nasi dinginnya dengan Mimi. Mereka makan bersama di bawah lampu temaram. Bu Siti bercerita kepada Mimi tentang masa mudanya, tentang suaminya yang dulu suka bercanda, dan tentang anak yang tidak pernah dikaruniai. Mimi hanya mendengar, sesekali menjilat tangan Bu Siti.

Keesokan harinya, keajaiban kecil datang. Seorang tetangga, Pak Hadi, yang jarang bertegur sapa, datang membawa sekantong beras dan ikan asin. "Bu, kemarin saya mimpi aneh. Ada kucing oranye duduk di atas sajadah, mengeong-ngeong minta tolong. Bangun tidur, saya ingat Bu Siti suka memberi makan kucing. Mungkin ini rezeki untuk Ibu." Bu Siti terharu, matanya berkaca-kaca. Ia tahu, itu Mimi yang "berdoa" untuknya.

Semenjak itu, Bu Siti semakin yakin. Doanya tidak pernah sia-sia meski terimpit oleh kucing jalanan. Mimi menjadi sahabat setia yang tidur di pangkuannya setiap malam. Kucing-kucing lain pun datang lebih sering, seolah tahu rumah Bu Siti adalah tempat aman. Rezeki Bu Siti perlahan membaik; ada yang memberinya pekerjaan membersihkan rumah, ada pula yang memberi bantuan dari masjid.

Bu Siti sering berkata pada dirinya sendiri, "Doa yang tulus tidak pernah tertolak, walau terimpit oleh makhluk kecil sekalipun. Allah mendengar melalui mereka yang tidak bisa bicara."

Mimi mati dua tahun kemudian, tua dan damai di pangkuan Bu Siti. Bu Siti menguburnya di halaman belakang dan menanami bunga di atasnya. Namun, setiap senja, kucing jalanan baru selalu datang menggosok kaki Bu Siti. Ia pun tahu doanya masih terjaga dan tidak pernah terimpit lagi.

Bertahun-tahun kemudian, Bu Siti makin tua dan lemah tubuhnya, namun hatinya tetap bersemangat. Kucing-kucing liar semakin banyak mendatangi rumahnya, seakan gang itu menjadi tempat berlindung yang aman. Ada Tito yang berbulu hitam-putih yang suka tidur di ambang pintu, serta induk kucing abu-abu beserta anak-anaknya yang gesit.

Suatu hari, seorang pemuda dari ibu kota, keponakannya yang sudah lama tidak berhubungan, datang mengunjungi. Namanya Andi, seorang dokter hewan yang baru kembali dari luar negeri. Ia terkejut melihat rumah Bu Siti penuh kucing. "Tante, ini sudah seperti shelter!" ujarnya sambil tertawa.

Bu Siti bercerita panjang tentang Mimi, tentang doa yang terimpit, dan bagaimana kucing-kucing itu membawa rezeki. Andi terharu. Ia memutuskan tinggal sementara untuk membantu merawat kucing-kucing yang sakit, memberikan vaksinasi gratis, bahkan membangun kandang sederhana dari bambu di halaman.

Berita menyebar luas. Anak-anak tetangga datang bermain dengan kucing, dan donasi makanan kucing mengalir dari masjid serta warga. Bu Siti tidak lagi kesepian; rumahnya ramai dengan tawa dan suara mengeong.

Di usia delapan puluh tahun, Bu Siti sakit parah. Di ranjangnya, dikelilingi kucing-kucing setia, ia berdoa untuk terakhir kali. "Ya Allah, terima kasih atas anak-anak kecil-Mu ini." Ia meninggal dengan damai, dengan Tito yang meringkuk di dadanya.

Andi melanjutkan warisan Bu Siti: sebuah tempat penampungan kecil bernama "Rumah Mimi". Setiap senja, kucing baru terus datang, dan doa-doa tulus terus mengalir, tidak pernah terimpit lagi.