Hayuning Ratri Hapsari | Sherly Azizah
Hijau yang Berlumur Jelaga (Nano Banana/Gemini AI)
Sherly Azizah

"Kau punya waktu tepat sepuluh menit sebelum beton pertama ditumpahkan ke atas tanah keramat ini, Maya. Pilihlah, matikan siaran langsung itu dan terima kontrak eksklusif sebagai staf ahli kementerian, atau kau akan terkubur bersama sejarah usang suku ini."

Suara itu datang dari balik kegelapan hutan yang biasanya tenang, kini menderu oleh suara mesin excavator raksasa. Maya, seorang konsultan citra muda yang baru saja menyadari bahwa dirinya telah menjadi pion dalam konspirasi besar, berdiri tegak di atas gundukan tanah merah yang masih basah. Di tangannya, sebuah ponsel pintar terus menyala, menyiarkan pemandangan mengerikan: alat berat yang siap menghancurkan situs pemakaman kuno Suku Loka demi proyek "Bendungan Energi Hijau Nusantara."

Di depannya, berdiri Bapak Baskoro—pria yang selama ini ia anggap sebagai mentor, seorang pejabat tinggi yang selalu menggaungkan kampanye "Indonesia Bebas Emisi."

"Ini untuk masa depan, Maya! Ribuan megawatt listrik ramah lingkungan untuk jutaan orang di kota," teriak Baskoro, suaranya bersaing dengan deru mesin. "Kenapa kau harus peduli pada segelintir orang yang menolak kemajuan?"

"Karena kemajuan tidak seharusnya dibangun di atas gambaran, Pak!" balas Maya, suaranya bergetar namun tajam. "Dokter di kota mengatakan pengendapan ini ramah lingkungan, tapi mereka tidak tahu bahwa di bawah sini, jutaan ton karbon akan dilepaskan karena pemanasan hutan yang ditenggelamkan secara paksa. Ini bukan energi hijau. Ini pencucian uang berkedok ekologi!"

Baskoro memberikan isyarat dengan tangan. Dua pria berseragam taktis muncul dari balik pepohonan, bergerak mendekati Maya dengan gerakan mendengarkan. Maya mundur perlahan, hingga tumitnya menyentuh bibir jurang tempat aliran sungai yang akan segera dibendung.

"Serahkan ponsel itu, Maya. Kau hanya seorang konsultan citra. Tugasmu adalah memoles wajah bopeng proyek ini, bukan mencuci jiwa," desis salah satu pria berseragam itu.

Tiba-tiba, dari kegelapan hutan di belakang Maya, muncul sesosok tetua suku. Ia memegang sebuah kendi tanah liat yang terlihat sangat tua. Namanya Ki Jati, pria yang tanahnya baru saja "dihibbahkan" secara sepihak oleh pemerintah melalui dokumen palsu yang Maya sendiri, dengan naifnya, pernah membantu urus administrasinya.

“Tanah ini tidak bisa kau beli dengan listrik, Anak Muda,” suara Ki Jati tenang, namun memiliki wibawa yang membuat para pria berseragam itu berhenti sejenak. “Sesuatu yang tumbuh dari darah tidak akan pernah menghasilkan cahaya.”

Maya melihat ke arah Ki Jati, lalu kembali ke ponselnya. Penonton siaran langsungnya melonjak drastis—sepuluh ribu, lima puluh ribu, hingga seratus ribu orang menyaksikan detik-detik pencetakan makam leluhur tersebut. Komentar-komentar penuh kemarahan mulai membanjiri layar.

"Matikan sekarang!" Baskoro berteriak, wajahnya merah padam. "Atau keluargamu di Jakarta tidak akan pernah melihatmu lagi!"

Ancaman itu menghantam Maya tepat di ulu hati. Ia teringat ibunya yang sedang sakit dan adiknya yang sedang menempuh pendidikan kedokteran atas beasiswa dari yayasan milik Baskoro. Ia menyadari bahwa ia telah masuk ke dalam jaring laba-laba yang sangat rapat. Segala fasilitas yang ia nikmati selama ini adalah borgol yang tidak terlihat.

“Maafkan aku, Ki Jati,” bisik Maya pelan.

Ia menurunkan ponselnya. Layar menjadi gelap. Baskoro tersenyum puas, melangkah maju untuk mengambil ponsel tersebut. "Gadis pintar. Kita bisa bicara di kantor besok."

Namun, tepat saat jari Baskoro menyentuh ponsel itu, Maya melemparkan benda itu sekuat tenaga—bukan ke arah Baskoro, melainkan ke dalam kendi yang dipegang Ki Jati.

"Sekarang, Ki!" teriak Maya.

Ki Jati membanting kendi itu ke tanah. Bukannya pecah berantakan, kendi itu justru ringkasan asap biru pekat yang bau mata. Di tengah kekacauan itu, Maya tidak lari ke arah jalan raya, melainkan melompat ke arah sungai yang gelap.

Para petugas melepaskan tembakan ke arah udara, namun hanya suara riak sungai yang menjawab. Baskoro mengumpat kasar. "Cari dia! Dia tidak mungkin selamat di arus sekencang itu!"

Tiga jam berlalu. Pencarian di sungai tidak menghasilkan hasil. Baskoro duduk di dalam mobil mewahnya, mencoba menenangkan diri dengan segelas wiski. Ia yakin ponsel itu sudah hancur. Lagi pula, siapa yang akan percaya pada seorang konsultan muda yang hilang melawan raksasa negara?

Namun, ponsel Baskoro tiba-tiba bergetar. Sebuah notifikasi berita mendesak muncul: “Viral: Rekaman Tersembunyi Rencana Sabotase AMDAL dan Penyuapan Hakim Terkait Proyek Bendungan Hijau.”

Baskoro terbelalak. Bagaimana mungkin? Siaran langsung tadi sudah mati.

Ia membuka tautan tersebut. Ternyata, Maya tidak menayangkan video siaran langsung ke media sosial biasa. Ponsel yang ia lempar ke dalam kendi tadi hanyalah umpan. Sejak awal Maya berdiri di sana, ia telah menggunakan kamera kancing di jasnya yang terhubung dengan server rahasia milik sebuah lembaga investigasi internasional yang baru saja ia bungi secara anonim dua jam sebelum kejadian.

Dan yang paling mengejutkan, video itu bukan hanya berisi kejadian di hutan. Video itu menampilkan rekaman pembicaraan rahasia di ruang kerja Baskoro sebulan yang lalu, di mana ia tertawa sambil menghitung persentase "sepotong" dari dana memperbarui warga yang ia gunakan untuk memasukkan kampanye politik adiknya di pusat.

Baskoro merasa dunia di sekelilingnya runtuh. Ia segera menghubungi kepala intelijennya. "Blokir semua akses internet di wilayah ini! Sekarang!"

“Sudah terlambat, Pak,” suara di seberang telepon terdengar gemetar. "Data itu sudah masuk ke server luar negeri. Dan ada satu masalah lagi..."

"Apa?!"

"Seseorang baru saja mengunggah foto satelit terbaru dari area bendungan. Ada sesuatu yang tertulis di dasar lembah yang baru saja dikeruk oleh tim kita. Sesuatu yang sangat besar sehingga bisa dibaca dari udara."

Baskoro segera membuka aplikasi peta satelit. Jantungnya hampir copot. Di dasar lembah yang luas itu, tim kontraktornya, yang entah bagaimana bisa disabotase—telah menggali parit-parit besar yang jika dilihat dari atas membentuk kalimat raksasa dalam bahasa daerah setempat: “Tunggu Kami di Balik Air.”

Tiba-tiba, mobil Baskoro berhenti mendadak di tengah hutan yang gelap. Sopirnya diam tak bergerak.

"Kenapa berhenti? Jalan!" perintah Baskoro.

Sopirnya menoleh perlahan. Wajahnya bukan lagi sopir aslinya, melainkan seorang pemuda Suku Loka dengan tato tradisional di lengannya. Ia memegang sebuah detonator kecil di tangannya.

“Ki Jati titip salam, Pak,” bisik pemuda itu. "Dia bilang, energi hijau itu bagus. Tapi bumi lebih suka warna darah merah para pelaku."

Di luar dugaan, terdengar suara ledakan besar. Bukan ledakan dari area tambang atau bendungan, melainkan ledakan dari arah gudang logistik utama proyek tersebut.

Baskoro melihat ke luar jendela. Ribuan titik kecil mulai bermunculan dari balik rimbunnya hutan. Itu bukan kunang-kunang. Itu adalah obor-obor yang dibawa oleh warga desa yang selama ini dianggap telah "setuju" dan diam. Mereka bergerak dalam hening yang mematikan, mengelilingi mobil itu dari segala penjuru.

Di sela-sela keramaian itu, Baskoro melihat sosok wanita dengan pakaian basah kuyup, berdiri di samping Ki Jati. Maya. Wanita itu tidak memegang ponselnya lagi. Ia memegang sebuah buku catatan tua—buku arsitektur milik ayah yang dulu juga mati secara misterius di proyek bendungan yang sama dua puluh tahun silam.

Maya menatap langsung ke mata Baskoro melalui kaca mobil yang antipeluru. Ia menggerakkan bibirnya tanpa suara, namun Baskoro tahu apa yang ia katakan: "Ini baru dimulai."

Tiba-tiba, seluruh lampu di hutan itu padam, termasuk lampu mobil Baskoro. Suara pintu mobil yang terkunci secara otomatis terdengar berdenting di tengah kegelapan total.

Apa yang akan terjadi pada Baskoro di tengah kepungan warga yang marah? Dan dokumen apa yang sebenarnya ada di buku catatan tua milik ayah Maya sehingga ia begitu yakin bisa meruntuhkan seluruh struktur kekuasaan di ibu kota?

Pembangunan yang mengabaikan kemanusiaan dan kejujuran hanyalah bom waktu yang menunggu saat untuk meledak. Idealisme mungkin bisa dibeli, tapi kebenaran memiliki cara tersendiri untuk mencapainya ke permukaan, seringkali melalui perlawanan diam-diam dari mereka yang paling tertindas.