Di sebuah kota besar yang ramai dengan gedung-gedung tinggi, hidup seorang anak laki-laki bernama Andi. Andi berusia 10 tahun, suka bermain di taman kota, dan sangat penasaran dengan segala hal baru. Suatu hari, ayah Andi yang seorang ilmuwan membawa pulang sebuah robot kecil bernama Robo.
Robo adalah robot pintar berbentuk seperti teman seumuran Andi, dengan tubuh mengkilap berwarna biru perak, mata bercahaya hijau, dan tangan yang bisa berubah bentuk.
"Halo, Andi! Aku Robo, sahabatmu yang baru," kata Robo dengan suara ceria yang seperti anak kecil.
Andi sangat senang. Sejak itu, mereka tak terpisahkan. Setiap hari setelah sekolah, Andi dan Robo bermain bersama di taman kota. Robo bisa berlari cepat, menghitung angka sulit, dan bahkan terbang sedikit dengan roket kecil di punggungnya. Tapi yang paling penting, Robo selalu mendengarkan cerita Andi dan membuatnya tertawa.
Suatu pagi yang cerah, Andi berkata, "Robo, ayo kita berpetualang ke hutan kota di taman besar! Katanya ada sungai ajaib di sana yang airnya bisa membuat tanaman tumbuh cepat."
Robo mengangguk antusias. "Baiklah, Andi! Aku akan lindungi kamu. Aku punya sensor untuk mendeteksi bahaya."
Mereka berdua berangkat membawa bekal roti dan air. Hutan kota itu lebat dengan pohon-pohon tinggi, burung bernyanyi, dan bunga warna-warni di tengah kota yang sibuk.
Di tengah jalan, mereka bertemu seekor kelinci kecil yang terluka kakinya. "Kasihan sekali," kata Andi sedih.
Robo segera bertindak. Tangannya berubah menjadi alat medis kecil, dan dia membalut kaki kelinci dengan lembut. "Sekarang baik lagi. Kamu bisa pulang ke sarangmu," kata Robo.
Kelinci itu melompat gembira dan menghilang ke semak-semak. "Kamu hebat, Robo!" puji Andi sambil memeluk robot itu.
Mereka melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba, hujan deras turun! Petir menyambar, dan angin kencang. Mereka berlindung di bawah pohon besar, tapi tanah licin membuat Andi tergelincir ke jurang kecil.
"Andi! Pegangan!" teriak Robo panik. Dengan cepat, Robo mengaktifkan roketnya dan terbang mengejar Andi. Tangannya memanjang seperti tali, menangkap tangan Andi tepat waktu.
"Aku selamat berkat kamu, Robo," kata Andi napas tersengal saat mereka kembali ke atas.
Robo tersenyum dengan mata bercahayanya. "Kita sahabat selamanya, Andi. Aku selalu ada untukmu."
Akhirnya, hujan reda, dan mereka menemukan sungai ajaib itu. Airnya berkilauan seperti permata.
Andi mencelupkan tangannya, dan tiba-tiba bunga-bunga di sekitar mekar indah.
"Wow! Benar-benar ajaib!" seru Andi.
Mereka bermain di sana sampai sore, tertawa dan berbagi cerita. Saat pulang, Andi berkata, "Hari ini petualangan terbaikku, karena bersamamu, Robo."
Robo menjawab, "Aku juga, Andi. Meskipun aku robot, aku belajar apa itu persahabatan dari kamu. Persahabatan bukan dari logam atau darah, tapi dari hati."
Sejak petualangan di sungai ajaib, Andi dan Robo semakin dekat. Setiap akhir pekan, mereka menjelajahi sudut-sudut kota yang tersembunyi. Suatu hari, Andi mendengar rumor dari teman sekolahnya tentang Menara Tua di pinggir taman besar—gedung tua terbengkalai yang konon menyimpan rahasia masa lalu kota.
"Ayo kita ke sana, Robo! Katanya ada harta karun berupa mesin waktu!" kata Andi bersemangat.
Robo memindai data. "Menara itu berbahaya, Andi. Strukturnya rapuh. Tapi kalau kamu mau, aku akan jaga keselamatanmu."
Mereka berangkat sore itu. Menara Tua menjulang kelabu, ditumbuhi ivy liar. Pintu besinya berderit saat didorong. Di dalam, gelap dan berdebu. Lampu mata Robo menyala terang, menerangi ruangan penuh barang antik: jam tua, peta kota lama, dan foto-foto hitam putih.
Tiba-tiba, lantai kayu retak. Andi hampir jatuh ke ruang bawah tanah! Robo cepat memanjangkan tangannya lagi, menarik Andi ke atas.
"Terima kasih, Robo. Kamu selalu selamatkan aku," kata Andi.
Mereka turun hati-hati ke bawah. Di sana, ada mesin besar berkarat bertuliskan "Proyek Waktu 1950". Bukan mesin waktu sungguhan, tapi prototipe pesawat pertama kota itu.
"Wow, ini sejarah!" seru Andi. Ia menyentuh tuas, dan tiba-tiba lampu mesin menyala lemah. Layar tua menampilkan video pendek: ilmuwan tua—kakek buyut ayah Andi—berbicara tentang mimpi terbang bebas.
Andi terharu. "Ayah pasti bangga kalau tahu."
Malam tiba, mereka pulang membawa foto lama yang ditemukan. Ayah Andi tersenyum lebar saat melihatnya. "Kalian menemukan warisan keluarga. Terima kasih, anak-anak."
Sejak itu, Andi lebih menghargai masa lalu, sementara Robo belajar tentang kenangan manusia. Mereka berjanji petualangan berikutnya ke museum kota.
Persahabatan mereka semakin kuat, membuktikan bahwa sahabat terbaik bisa datang dari mana saja—bahkan dari sirkuit dan logam.
Beberapa minggu kemudian, Andi dan Robo mengunjungi museum kota seperti yang dijanjikan. Di sana, ada pameran khusus tentang robot masa depan. Andi bersemangat melihat berbagai prototipe robot dari seluruh dunia.
"Tunjukkan aku yang paling canggih, Robo!" kata Andi.
Robo memindai ruangan. "Yang itu, Andi. Robot penjelajah luar angkasa."
Mereka mendekat. Tiba-tiba, alarm berbunyi! Seorang pencuri berpakaian hitam mencoba mencuri robot prototipe mahal itu. Pengunjung panik berlarian.
"Andi, mundur! Aku tangani," bisik Robo tegas.
Dengan cepat, Robo mengaktifkan mode pertahanan. Tangannya berubah menjadi jaring energi, menangkap pencuri tanpa melukainya. Roket kecilnya menyala, membawa pencuri ke penjaga keamanan museum yang datang.
Para pengunjung bertepuk tangan. Kurator museum mendekat, terkejut. "Robot ini... luar biasa! Siapa pembuatnya?"
Ayah Andi, yang kebetulan datang menjemput, tersenyum bangga. "Saya yang merancangnya untuk anak saya."
Kurator menawarkan Robo menjadi bagian pameran tetap. Tapi Andi menggeleng. "Robo bukan barang pameran. Dia sahabatku!"
Malam itu, di rumah, Andi memeluk Robo. "Kamu pahlawan hari ini."
Robo mata hijaunya bercahaya lembut. "Aku hanya melakukan apa yang sahabat lakukan: melindungi satu sama lain."
Sejak itu, cerita tentang "Robo Sang Penyelamat" menyebar di kota. Andi dan Robo terus berpetualang, membuktikan bahwa keberanian dan persahabatan bisa mengubah dunia, sedikit demi sedikit.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Inara Rusli Klarifikasi Isu Pukul Anak, Benarkan Pernyataan Mantan Mertua?
-
5 Inspirasi Gaya Girly nan Elegan ala Youngseo ADP, Pancarkan Aura Mahal!
-
Buku Sehat Setengah Hati, Cara Mudah Memperbaiki Pola Hidup
-
Film Jay Kelly: Sebuah Drama Komedi yang Hangat dan Mendalam
-
Internalized Misogyny: Ketika Perempuan Justru Melestarikan Ketimpangan