M. Reza Sulaiman | Bening Christalica Damai Nugraha
Ilustrasi Pejabat Naik Pitam (Koleksi pribadi)
Bening Christalica Damai Nugraha

Pagi ini, Progo mengalirkan kabut tipis yang terasa lebih dingin di kulit yang masih menyimpan sisa wudu subuh, saat aku melangkah menuju kantor kabupaten. Aku mematuhi perintah satpam kemarin, sebuah ultimatum agar sampai sebelum para pegawai memulai ritus birokrasi pukul delapan tepat, di saat perut masih tenang karena sisa sahur tadi. Jelas, ini bukan panggilan untuk minum kopi pagi; aroma kafein yang biasanya menguar dari kantin kini berganti sunyi yang khidmat.

Ini tentang bendungan di Desa Triwidadi itu, bangunan beton dan besi yang menahan laju Progo, yang kini berdiri angkuh dengan hasil memuaskan. Sebagai pengawas teknik, ada rasa bangga yang menyelinap di antara rasa haus yang mulai menyapa, karena aku bekerja sesuai bidangku. Terlebih, aku berhasil meracik efisiensi yang memangkas anggaran negara dalam jumlah besar, sebuah pencapaian yang kujaga kejujurannya, seiring niat menjaga kesucian ibadah di bulan ini, meski aku tahu bagi sebagian orang, angka-angka itu seharusnya bisa "disulap" menjadi sesuatu yang lain.

Aku yakin, Pak Bupati sedang tersenyum, mungkin juga bangga, melihat proyek ini berdiri tegak sesuai harapan tepat sehari sebelum Ramadan. Sebuah capaian yang bukan sekadar bendungan beton, melainkan juga keberhasilan menyisihkan sisa anggaran negara yang tidak sedikit. Inilah kredit poin tertinggi, buah dari kepemimpinan dan pengawasan yang baik. Benar-benar modal berharga untuk menjadikan kabupaten ini contoh pemerintahan yang prima, persis seperti magis kata-kata dalam pidato Pak Bupati saat meletakkan batu pertama dulu.

Tentu bukan kurang ajar jika aku berharap sebuah lencana penghargaan. Anggap saja ini balas budi atas ketangkasanku. Bayangkan, bendungan yang seharusnya menelan seratus miliar rupiah itu, dengan sedikit sihir rekayasaku, ternyata sanggup berdiri kokoh hanya dengan biaya delapan puluh miliar. Bukankah menghemat uang negara adalah sebuah kebajikan?

Biaya boleh saja menyusut, namun jangan sangsi; bangunan ini tetap tegak, menantang langit dengan kekokohan yang tak terbantahkan. Keteguhan itu lahir dari riset operasi yang kuterjemahkan di atas debu lapangan. Alam terkadang menyimpan rahasia di balik lapisan tanahnya; pada kedalaman tiga meter, linggis kami sudah beradu dengan kerasnya bumi, padahal di atas kertas, lima meter adalah keharusan. Pun saat paku-paku tanah itu menghunjam, sepuluh meter saja sudah cukup untuk mengunci takdir kekuatannya.

Aku juga telah duduk melingkar bersama para perencana, menghitung ulang setiap angka keamanan dengan presisi seorang penyair yang menjaga rima. Masih ada segudang rahasia teknis di balik beton-beton ini yang tidak perlu kuceritakan panjang lebar. Maka, di atas keringat dan angka-angka ini, tidaklah berlebihan jika aku mengharapkan sekadar tanda penghargaan. Bukan soal angka yang melangit, namun tentang bagaimana kerja keras ini dimaknai.

Pukul delapan kurang sepuluh menit aku sudah sampai di kantor kabupaten. Kulihat Pak Bupati sudah ada di ruangannya.

Tok, tok, tok….

"Assalamualaikum. Selamat pagi, Pak!" Aku mengucap salam ketika mengetuk pintu ruang kerja Pak Bupati.

"Waalaikumussalam, masuk!" terdengar suara Pak Bupati dari dalam.

Aku melangkah masuk, duduk dengan sopan di depan meja kerja Pak Bupati, di sebuah kursi yang tiba-tiba terasa terlalu besar. Tatapanku terpaku pada wajahnya yang dingin, membeku, jauh dari bayangan gembira yang kubawa dari rumah. Harapan hanyalah sampah yang berserakan di lantai, karena nyatanya, Pak Bupati sedang sibuk membangun tembok kebisuan, membuat suasana kaku dan udara di ruangan ini enggan berdesir.

"Sehat, Pak?..." Aku mendahului bertanya untuk mencairkan suasana.

"Ya...," jawab Pak Bupati singkat.

"Ada perintah apa Bapak memanggil saya?" Aku pura-pura bertanya.

Seharusnya aku tidak perlu cemas. Imbalan itu, ya, pasti datang. Bukankah mengawasi proyek hingga memuaskan adalah ibadah profesional yang sah? Lagipula, aku berhasil menyelamatkan dua puluh miliar. Angka yang cukup untuk membuat seseorang bermimpi, atau setidaknya, melupakan betapa kotornya negara. Dua puluh miliar, lho. Bukan sekadar angka di atas kertas kerja.

"Begini, Pak Dika…," ujar Pak Bupati pelan.

"Ya, Pak," jawabku lirih sambil menunduk memandangi lantai kantor kabupaten yang dilapis keramik hitam.

"Aku dan para pegawai kabupaten, sungguh, sangat berterima kasih padamu. Proyek bendungan itu… akhirnya memuaskan," ujarnya, disusul senyum yang melengkung terlalu kaku, sejenis senyum yang biasa dipakai untuk menyembunyikan bangkai tikus di bawah karpet.

"Saya hanya menjalankan perintah, Pak. Sebisa mungkin, sesuai kemampuan," jawabku pelan, hampir berbisik. Aku tidak menatap matanya, takut melihat kebohongan lain yang mungkin sedang ia rakit di sana.

Walaupun mengucapkan terima kasih, mimik wajahnya terasa munafik dan menyembunyikan sindiran pedas. Aku terperangkap dalam kebingungan, tak tahu apa kesalahanku. Canggung. Aku hanya bisa diam, membisu seperti patung.

"Selain itu ya, Pak Dika, bekerja itu bukan cuma soal tegak lurus pada cetak biru. Manusia itu makhluk luwes, bukan robot bangunan. Harus tahu kapan menaruh batu, kapan mengulurkan tangan. Bangunan memang wajib kokoh, teknik baku tidak boleh ditawar, tapi apa gunanya beton-beton kuat itu kalau di bawahnya ada kawan yang diinjak? Janganlah menang sendiri, mengejar nama baik dengan mengorbankan teman. Itu namanya meruntuhkan kemanusiaan...."

"Maksudnya bagaimana ya, Pak?" sahutku mencari ujung dari labirin nasihat itu.

Di tengah terik siang Ramadan yang membuat tenggorokan kering, perkataan Pak Bupati tadi seperti duri dalam daging. Aku tak mengerti, apakah aku ini manusia atau sekadar mesin ketik yang berdenyut? Tubuhku sudah bekerja melampaui batas, tulang-tulangku rasanya rontok, sementara gaji yang kuterima hanya cukup untuk membeli secangkir kopi, itu pun tanpa gula. Mengapa Bupati satu ini bertingkah seolah ia pemilik takdir? Hatiku gelisah, seakan ada ribuan semut merayap di bawah kulit.

"Kita sudah sama-sama tua, sebaiknya aku berterus terang apa adanya saja...." ujar Pak Bupati, matanya menatap entah ke mana, mungkin pada jabatannya yang abadi, mengabaikan aku yang sudah menahan haus sejak subuh demi menyelesaikan berkas-berkasnya.

"Begitu lebih baik, Pak,” sahutku datar namun bergetar. Hati yang meradang ini tidak bisa disembunyikan lagi, apalagi setelah hasil karyaku yang kubangun dengan darah dan air mata dicela begitu saja di bulan yang suci ini.

"Begini, Pak Dika. Anggaran proyek kemarin sisa dua puluh miliar. Mengapa malah kamu laporkan ke berita acara?" suara Pak Bupati terdengar ganjil, seperti angin kering yang bergeser di antara tumpukan kertas laporan yang tidak terbaca. Suaranya kontras dengan sayup-sayup lantunan lagu-lagu islami yang mencoba membawa damai.

"Bukankah harus demikian? Itu sisa perencanaan ulang, Pak." Aku menatapnya, menatap wajah seorang penguasa kecil di balik meja besarnya.

"Lalu kenapa harus kamu rencanakan ulang?" tanya Pak Bupati, jengkel. Ia memain-mainkan pena, seolah sisa uang dua puluh miliar hanyalah angka semu di atas kertas yang bisa lenyap kapan saja, seolah mengabaikan keberkahan puasa yang seharusnya menjauhkan dari batil.

"Karena temuan di lapangan mengharuskan saya merencanakan ulang, Pak. Ada prosedur yang harus saya amankan agar bendungan itu kokoh," jawabku. Aku mencoba menjelaskan, mencoba rasional di hadapan meja yang didikte oleh irasionalitas.

"Siapa yang mengharuskan?" tanya Pak Bupati, matanya tajam, menuntut kepatuhan yang lebih tinggi daripada akal sehat.

"Ya disiplin ilmu teknik sipil yang saya anut, Pak," jawabku pelan. Tenggorokanku kering, bukan hanya karena puasa, tapi juga letupan emosi yang tertahan. Aku mencoba menjawab dengan sabar, memendam letupan di dada, sebab bagaimanapun Pak Bupati adalah atasanku, yang selama ini selalu aku hormati, sekaligus menjadi saksi bagaimana birokrasi sering kali lebih menyukai fiksi daripada kenyataan.

"Di situlah letak kebodohanmu. Kau kira teknik sipil hanya milikmu seorang? Si perencana itu lebih tahu, ia lebih akrab dengan beton dan anggaran, lebih mengerti bagaimana memutar angka ketika waktu habis. Tugasmu sederhana saja: mengawasi, memastikan rumput di gambar hijau sesuai warnanya di lapangan. Tidak usah terlalu banyak bertingkah." Ia mendengus, lalu kembali menatap berkas, mengabaikan kenyataan teknis demi laporan "aman" sebelum takbiran.

"Pihak perencana juga sudah setuju, Pak," kataku pelan, hampir berbisik.

"Ya, setuju-setuju saja," ia terkekeh tipis, dingin. "Dia dibayar lagi untuk perencanaan ulang, bukan? Tapi pikirkan ini: karena keras kepalamu itu, dua puluh miliar harus kembali ke pusat. Dua puluh miliar! Uang yang, andai kau diam, sudah masuk ke kas kabupaten, dan mungkin, sedikit masuk ke kantongmu juga. Coba kau pikir, sekarang siapa yang rugi?"

Aku terkejut, tubuhku kaku. Napas terasa sesak, bukan hanya karena menahan lapar dan haus sejak subuh tadi, tapi karena kenyataan yang sedemikian menyedihkan. Jauh dari angan-angan bersih yang kubawa ketika keluar rumah tadi. Ternyata, kebenaran memang tidak pernah sesederhana gambar di atas kertas.

"Tidak ada yang rugi, saya sudah digaji. Walaupun sedikit tetapi saya sudah ikhlas. Bapak juga sudah menerima bagian sesuai aturan. Dan saya tidak mau memakai uang yang bukan hak saya, apalagi menodai puasa saya dengan uang haram."

"Itu kan kamu! Teman-temanmu yang lain? Kamu keliru kalau bicara tidak ada yang rugi. Kamu keliru! Kabupaten sudah merugi. Kamu tahu berapa anggaran yang sudah aku korbankan untuk markup proyek bendungan ini? Kamu tahu??" Pak Bupati berdiri, matanya menyala, suaranya menggelegar meruntuhkan sunyi kantor.

Aku hanya menggelengkan kepala. Tanpa kata. Tenggorokanku kering, bukan sekadar menahan lapar, tapi juga menahan mual melihat kemeja putihnya yang necis, kontras dengan noda hitam di hatinya. Mengamati seekor lalat yang hinggap di kacamata tebalnya, aku berpikir bahwa dalam sejarah panjang korupsi, diam adalah satu-satunya hak yang tersisa.

"Awalnya, bendungan itu hanya dihargai tujuh puluh delapan miliar. Maka, kuberikan uang muka lima ratus juta pada si perencana, sekadar pelicin agar nilainya naik kelas menjadi seratus miliar. Caranya? Sederhana. Perdalam fondasi, tutupi dengan dokumen palsu. BPK? Mereka terlalu malas memeriksa kedalaman beton di dalam tanah. Si perencana itu sudah mahir, ia tahu struktur mana yang boleh di-markup dan mana yang harus tegak agar tidak roboh menimpa kita semua. Kontraktor sudah sepakat. Sisa uang yang melimpah itu? Tentu saja dibagi-bagi. Tujuanku mulia: agar semua pegawai kabupaten bisa merayakan Lebaran, bisa beli baju baru, bisa bagi-bagi THR, termasuk kau yang bekerja di lapangan itu. Sadarlah, semua orang bisa mengerjakan bendungan dengan biaya delapan puluh miliar. Tidak hanya kau. Jadi, jangan sok suci. Gara-gara ulahmu yang sok jujur itu, sekarang semua orang di kabupaten hanya bisa melongo. Bulanan saja tidak kebagian. Kurang ajar! Kalau caramu seperti itu, siapa lagi yang mau memakai tenagamu?"

Meja itu bergetar, dan di sana, Pak Bupati menjelma raksasa yang siap mengunyah kepalaku bulat-bulat. Napasnya terengah, bukan karena khusyuk berpuasa, melainkan amarah yang tertahan di tenggorokan kering. Aku hanya bisa menekur, menghitung retak ubin lantai yang terasa lebih jujur daripada kata-katanya.

Aku mundur, melangkah pelan seperti bayangan yang hendak menghilang. Kupikir, aku adalah pahlawan yang menyelamatkan uang negara dari mulut harimau. Namun, di negeri ini, kejujuran hanyalah sampah yang mengganggu pesta, bahkan di bulan suci sekalipun. Pejabatnya penipu, rencananya palsu, dan Pak Bupati? Ah, dia hanya aktor figuran dalam sandiwara yang menjemukan. Oh, dunia yang fana.

Aku melangkah keluar dengan dada yang sesak oleh dongkol, menahan dahaga fisik dan dahaga keadilan. Di pelataran kantor, mata mereka menatapku seperti belati. Mereka, para pemangsa komisi yang gagal pesta pora, memandangku dengan benci yang pekat, seolah aku merusak rencana buka bersama mereka dengan hasil suap. Aku berangkat dari rumah dengan senyum, membayangkan medali, namun pulang dengan luka yang menyengat. Menjadi jujur di tengah kerumunan bajingan memang sebuah kutukan. Aku hanyalah pahlawan kesiangan yang tersesat di rimba para serigala.