Hayuning Ratri Hapsari | Oktavia Ningrum
Ilustrasi secangkir kopi (Unsplash/@claybanks)
Oktavia Ningrum

Kopi di gelas kaca itu sudah dingin ketika Dimas mengajukan pertanyaan yang sejak tadi ia tahan.

Kami duduk di warung kecil dekat terminal. Meja kayu, kursi plastik, suara knalpot bersahut-sahutan. Dimas teman lama. Nonis. Punya kebiasaan bertanya hal-hal yang kelihatannya sederhana, tapi sering bikin orang defensif.

“Bro,” katanya sambil mengaduk kopi,

“di Islam tuh… lebih haram babi atau korupsi, sih?”

Aku tersenyum. Bukan karena lucu. Tapi karena pertanyaan itu seperti batu kecil yang dilempar ke danau tenang. Riaknya ke mana-mana.

“Kenapa nanya gitu?” tanyaku santai.

“Soalnya,” dia mengangkat bahu, “gue sering lihat orang ribut banget soal babi. Tapi soal korupsi… kok kayak biasa aja.”

Aku mengangguk pelan. Angin sore lewat membawa bau gorengan. Aku mengingat diriku sendiri beberapa tahun lalu, sebelum menjadi mualaf. Dengan pertanyaan-pertanyaan serupa yang tak pernah benar-benar dijawab.

“Di Qur’an,” kataku akhirnya, “babi itu jelas haram.”

Aku mengutip pelan, hampir seperti membaca puisi.

Diharamkan bagimu bangkai, darah, dan daging babi…’

“Jelas, singkat, dan langsung,” lanjutku. “Itu soal apa yang masuk ke tubuh.”

Dimas mengangguk. “Iya, itu yang gue tau.”

“Tapi,” aku mencondongkan badan sedikit, “coba kita lihat korupsi.”

Aku berhenti sebentar. Memberi jeda, seperti orang membaca kalimat yang berat.

Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil…’

Dimas mengerutkan dahi. “Loh, pakai kata ‘memakan’ juga.”

“Ya,” kataku. “Tapi yang ini bukan soal perut. Ini soal hidup orang lain.”

Aku menatap jalan di depan warung. Angkot lewat, penuh sesak. Wajah-wajah lelah di balik kaca.

“Babi,” kataku pelan, “kalau lo makan, efeknya berhenti di lo. Disiplin diri. Urusan pribadi.”

“Korupsi?” aku menghela napas. “Itu masuk ke dapur orang lain. Ke sekolah yang bocor. Ke rumah sakit tanpa obat.”

Dimas terdiam. Sendoknya berhenti bergerak.

“Qur’an bahkan nggak berhenti di situ,” lanjutku. “Korupsi disebut sebagai batil—jalan yang rusak. Dan lebih jauh lagi…”

Aku melanjutkan, suaraku tetap rendah.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.’

“Kerusakan,” ulang Dimas lirih. “Berarti bukan dosa kecil ya?”

Aku menggeleng. “Itu dosa sosial. Sistemik. Yang satu orang lakukan, ribuan orang rasakan.”

Ia menyesap kopinya yang sudah dingin. Meringis sedikit.

“Terus,” katanya, “kenapa orang lebih ribut soal babi?”

Aku tersenyum pahit. “Karena babi kelihatan. Korupsi seringkali terlalu rapi.”

Ia tertawa kecil. Lalu berhenti. Mungkin sadar itu bukan lelucon.

“Ada ayat lain,” kataku, “yang jarang dikaitkan dengan korupsi, padahal pas.”

Janganlah kalian mengkhianati amanah…’

“Kekuasaan itu amanah,” jelasku. “Uang publik itu amanah. Dan mengkhianatinya bukan cuma soal hukum. Tapi soal iman.”

Dimas menatapku lama.

“Berarti,” katanya perlahan, “Islam tuh lebih galak ke kezaliman daripada ke makanan.”

Aku mengangguk. “Islam ribut soal keadilan. Makanan itu urusan pengendalian diri. Korupsi itu urusan kehancuran masyarakat.”

Kami diam. Di kejauhan, adzan magrib mulai terdengar, samar bercampur klakson.

Dimas memecah keheningan.

“Gue kira Islam itu ribet, banyak larangan.”

Aku tersenyum. “Yang ribet itu kita. Islam justru detail soal mana yang menyakiti orang lain.”

Ia menghela napas panjang.

“Berarti pertanyaannya bukan lagi babi atau korupsi, ya?”

“Bukan,” kataku..“Pertanyaannya, kita lebih jijik sama apa yang masuk ke mulut orang… atau apa yang diambil dari hidup mereka.”

Dimas tak langsung menjawab. Ia menatap jalan, lalu kopinya, lalu entah apa.

Dan di situlah aku tahu, bukan karena aku menang debat,
tapi karena satu hal runtuh pelan-pelan di kepalanya. 
Prasangka bahwa agama cuma soal larangan, padahal ia juga soal keberpihakan.

Pada yang lemah.

Pada yang dirampas.

Pada yang tak punya suara.

Dan sore itu, di warung kecil dekat terminal, kami tidak sedang membahas babi atau korupsi. Kami sedang belajar menimbang keadilan.