Setelah serangkaian mimpi buruk yang terasa sangat panjang dan berjilid-jilid, aku membuka kedua mata yang masih lengket ini. Ingin kembali tertidur untuk melanjutkan pelarianku dari alien, makhluk berkepala babi, dan malaikat maut, tetapi urung kulakukan.
Saat melihat jam dinding, aku tersentak. Sudah pukul sembilan? Ya ampun, habislah sudah aku dimarahi para perempuan di rumah ini: Ibu, kakak pertamaku, dan kakak keduaku. Mengapa para perempuan mudah sekali marah? Memikirkannya saja sudah membuatku kesal.
Belum habis perasaan kesalku, ada hal lain yang membuatku dua kali lipat lebih ingin kembali bergelung selimut. Saat hendak membuka pintu, ternyata pintunya dikunci. Ya, pintunya dikunci dari luar. Inikah cara terbaru para perempuan itu menyampaikan kemarahannya? Mengapa mereka tidak pernah kehabisan akal?
“Bu! Buka pintunya, dong!”
“Kak, aku mau kuliah, nih!”
Aku berteriak-teriak sembari menggedor pintu dari dalam, berharap siapa saja yang mendengar segera membukanya. Aku harus ke kamar mandi dan bersiap untuk pergi ke kampus, meskipun ini sudah sangat terlambat.
Berkali-kali aku berteriak, tetapi tidak kunjung ada yang menanggapi. Mustahil jika mereka semua kompak keluar rumah, sedangkan aku dikunci begini. Harusnya ada salah satu yang tinggal.
Akhirnya, aku memutuskan untuk mengintip. Mataku menempel pada lubang kunci yang terasa dingin, mencoba mencari tanda-tanda kehidupan di balik pintu ini. Namun, jantungku seakan berhenti berdetak saat melihat cairan kental berwarna merah pekat mengalir lambat di atas lantai ruang tengah. Darah?
Sekujur tubuhku langsung gemetar. Pikiran buruk mulai terbayang; apa yang terjadi kepada Ibu dan kakak-kakakku? Segera aku mengalihkan pandangan ke ventilasi udara di atas pintu, memanjat meja kerjaku demi mendapatkan sudut pandang yang lebih luas. Begitu mataku mencapai celah tersebut, napasku tercekat.
Di ruang tengah yang tampak berantakan, sebuah makhluk setinggi langit-langit dengan kulit pucat yang mengerut sedang mengacak-ngacak perabotan. Suara kayu patah dan keramik pecah seketika membuat telingaku terasa pekak. Namun, satu hal yang paling menghancurkan hatiku adalah pemandangan di dekat sofa: kucing kesayanganku tergeletak tidak bernyawa dengan posisi yang mengenaskan.
“Aaaaaaaa!”
Aku berteriak sekencang-kencangnya, masa bodoh jika makhluk itu mendengarku. Otakku mencoba memproses segalanya, berusaha mencari jalan keluar atau berpikir jernih, tetapi nihil. Kepalaku terasa kosong sekaligus meledak pada saat yang sama. Bayangan Ibu dan kakak-kakakku yang sudah dihabisi oleh makhluk mengerikan itu terus menghantui. Apakah aku akan mati? Kami semua akan mati?
Tiba-tiba, tidak lama setelah itu, pintu kamarku digedor dengan keras dari luar. Aku terlonjak mundur hingga jatuh ke lantai. Apakah monster itu tahu aku di sini? Apakah sekarang giliranku? Air mataku mengalir deras tanpa bisa kubendung. Setelah menghalangi pintu dengan meja dan lemari, aku meringkuk di sudut ruangan, menutup telinga, dan mulai merapalkan doa-doa pendek dengan suara tidak keruan. Aku memohon ampun, berdoa agar setidaknya aku bisa masuk surga jika hidupku berakhir detik ini.
“Sean, kamu apain pintunya! Kamu di dalam, kan?!”
Suara itu, itu suara Kakak. Belum sempat aku menjawab, pintu itu didorong dengan kuat hingga akhirnya betul-betul terbuka; meja serta lemari yang menghalanginya bergeser. Kakak tertuaku berdiri di sana dengan wajah marahnya yang khas bersama seorang lelaki paruh baya dengan perawakan kurus.
Aku masih sesenggukan, menatap dua orang itu seolah mereka adalah hantu. “Kak? Monster itu, Ibu? Kucing kita, si Miko?”
Kakakku mengerutkan kening, menatap heran seolah aku baru saja berbicara bahasa planet lain. “Monster apa sih? Kamu mimpi buruk?”
Ia menghela napas panjang sembari menyeka keringat di dahinya. “Kakak baru aja dari depan cari tukang kunci buat betulin pintu ini. Pintu kamarmu itu rusak, mendadak terkunci sendiri dari luar dan kuncinya macet total. Makanya tadi Kakak terpaksa dobrak.”
Aku hanya bisa terdiam membeku. Pandanganku beralih ke arah ruang tengah yang terlihat tenang, rapi, dan sama sekali tidak ada darah yang berceceran. Si Miko? Ia baru saja berjalan santai melewati kaki kakakku sambil mengeong minta makan.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Sinopsis Unexpected Family, Film Komedi Keluarga Terbaru Jackie Chan
-
Harga HP Poco M8 5G Terungkap, Bodi Melengkung 3D Ultra Tipis 7,35 mm
-
Urgensi HAM dalam KUHP: Bukan Aksesoris Kebijakan yang Bisa Dibahas Nanti
-
Poco X8 Pro Lolos Sertifikasi SDPPI, Tanda Rilis di Indonesia Makin Dekat
-
Hantu Tanpa Wajah Meregang Nyawa