M. Reza Sulaiman | Vicka Rumanti
Ilustrasi orang yang kesal karena mendengar lagu yang sama terus di kepalanya (Freepik/freepik)
Vicka Rumanti

Pernahkah Anda sedang fokus mengerjakan sesuatu, tetapi tiba-tiba mendengar potongan lagu yang terus berputar di telinga? Seperti Baby Shark, mungkin, atau Tabola Bale yang refreinnya belakangan ini selalu terputar di For You Page (FYP) TikTok. Fenomena ini disebut earworm, atau secara ilmiah dikenal sebagai Involuntary Musical Imagery.

Fenomena earworm membuktikan bahwa pikiran manusia tidak sepenuhnya berada di bawah kendali kita. Meskipun terkadang menghibur, earworm sering kali terasa seperti gangguan mental yang tidak bisa dimatikan. Jadi, mengapa otak kita seolah memiliki playlist otomatis yang tidak bisa di-pause? Ternyata, ada penjelasan ilmiah yang menarik di baliknya.

1. Rasa Gatal di Dalam Otak (Cognitive Itch)

Secara psikologis, earworm sering disebut sebagai cognitive itch atau gatal kognitif. Merujuk pada National Library of Medicine, earworm memiliki keterkaitan erat dengan sistem memori kita.

Namun, yang membuatnya menjadi menyebalkan adalah sifat psikologisnya. Semakin keras kita mencoba mengusir atau mencegah lagu tersebut muncul, justru lagu tersebut akan semakin berputar dan terus berputar. Otak kita seolah-olah "menggaruk" rasa gatal tersebut dengan mengingat-ingat melodi yang sama sehingga menciptakan lingkaran setan yang sulit diputus.

2. Terperangkap di Ruang Pendengaran

Jika Anda merasa lagu tersebut terdengar sangat nyata di dalam kepala, hal itu karena otak Anda memang sedang "memutarnya" secara fisik pada level saraf.

Berdasarkan penjelasan dari Halodoc, secara neurologis earworm terjadi karena potongan lagu tersebut terperangkap di korteks pendengaran, yaitu bagian otak yang bertanggung jawab memproses suara. Para peneliti meyakini adanya siklus umpan balik (feedback loop) di area ini. Korteks pendengaran terus-menerus mengaktivasi jejak memori musikal sehingga menciptakan sensasi seolah-olah lagu tersebut benar-benar sedang diputar secara eksternal. Ini adalah hasil dari interaksi kompleks antara memori, emosi, dan pemrosesan audio kita.

3. Resep Lagu yang Menempel di Kepala

Tidak semua lagu bisa menjadi earworm. Ada kriteria khusus yang membuat sebuah melodi seolah-olah menempel di kepala.

Merujuk pada Harvard Health Publishing, penelitian menunjukkan bahwa lagu dengan kontur melodi yang cepat dan sederhana cenderung lebih besar kemungkinannya menjadi earworm. Selain kesederhanaan, musik yang memiliki interval unik di antara nada-nadanya juga memiliki potensi besar untuk terus berputar. Keunikan ini membuat lagu tersebut lebih menonjol di memori otak dibandingkan dengan lagu-lagu dengan struktur yang standar atau membosankan.

Lalu, Bagaimana Cara Menghentikannya?

Jika Anda sudah mulai stres karena otak terus memutarkan lagu yang sama di telinga, Halodoc menyarankan untuk:

  • Dengarkan lagu tersebut sampai habis. Terkadang otak memutar potongan lagu karena lagu tersebut terjebak dalam memori yang tidak tuntas. Mendengarkannya secara utuh bisa memberikan "penyelesaian" bagi otak.
  • Mengunyah permen karet. Gerakan rahang dapat mengganggu jalur motorik yang terlibat dalam membayangkan musik.
  • Kerjakan tugas-tugas kognitif yang dapat mengalihkan fokus pikiran ke aktivitas lain yang membutuhkan konsentrasi. Mengisi teka-teki silang atau membaca buku bisa menjadi salah satu solusinya.

Earworm memang membuat kita merasa tidak tenang, tetapi ini menjadi salah satu bukti bahwa kerja memori dan sensorik di otak kita sangat hebat dalam menyimpan informasi, meskipun informasinya hanya berupa potongan lagu yang tidak kita sukai.