M. Reza Sulaiman | e. kusuma .n
ilustrasi pasangan (Pexels/Ricky S)
e. kusuma .n

Aku masih mengingatmu, sampai detik ini. Meski bukan dengan rasa ingin kembali.

***

Aku tidak pernah berniat jatuh cinta padamu. Bahkan, namamu pun awalnya hanya kutandai sebagai “rekan kerja divisi lain” di ponselku. Tidak ada getar di dada, tidak ada debar yang aneh. Semua terasa biasa, sampai akhirnya menjadi terlalu dekat untuk disebut kebetulan.

Aku punya pasangan. Hubungan kami sudah berjalan tujuh tahun. Terlalu lama untuk sekadar disebut bersama, tetapi juga terlalu rumit untuk disederhanakan. Kami saling mengenal kebiasaan buruk masing-masing, tahu cara bertengkar tanpa suara, dan mengerti kapan harus berpura-pura baik-baik saja di depan orang lain.

Lalu, kamu datang dengan caramu sendiri. Tidak berisik, tidak memaksa. Kamu hanya duduk di sebelahku saat lembur, bertanya apakah aku sudah makan, dan benar-benar mendengarkan jawabanku, bukan sekadar menunggu giliran bicara.

Awalnya aku menyebutnya ramah. Lalu tanpa bisa kucegah, rasa nyaman mulai hadir dan singgah tanpa permisi. Sampai suatu hari, aku menyadari aku menunggumu lebih daripada aku menunggu dia.

Perselingkuhan, ternyata, jarang dimulai dari ciuman. Yang terjadi pada kita justru lahir dari percakapan panjang yang tidak ingin diakhiri. Dari tawa kecil yang terasa lebih jujur. Dari rasa aman yang tidak lagi kutemukan di tempat yang seharusnya menjadi rumah.

Kamu tahu aku punya pasangan. Aku tahu kamu seharusnya menjaga jarak, tetapi kubiarkan kamu berada dekat denganku. Kita pun sama-sama memilih diam. Seolah dengan tidak memberi nama pada hubungan ini, semua akan tetap tidak salah.

“Capek, ya?” katamu suatu malam ketika aku mengeluh soal hidup yang terasa berat.

Kalimat sederhana itu membuatku ingin menangis. Karena dia, pasanganku, sudah lama tidak bertanya dengan nada seperti itu. Dia mendengar, tetapi tidak lagi hadir.

Aku mulai berbohong. Bukan karena ingin menyakiti siapa pun, melainkan karena ingin melindungi perasaan yang tumbuh diam-diam. Aku bilang lembur, padahal minum kopi denganmu. Aku bilang rapat, padahal berjalan menyusuri trotoar sambil membicarakan mimpi yang tak pernah sempat kuucapkan di rumah.

Aku tidak merasa bersalah di awal. Yang kurasakan justru hidup. Seperti menemukan kembali bagian diriku yang lama terkubur oleh rutinitas dan tuntutan.

Kamu tidak pernah menyentuhku. Kita bahkan tak sekali pun memberi ruang pada hasrat untuk lahir dan menjelma dalam sentuhan yang menggetarkan jiwa. Namun, caramu memandang sudah cukup membuatku merasa dipilih. Aku suka.

Ironisnya, aku mulai memperbaiki sikapku pada dia setelah mengenalmu. Aku jadi lebih sabar, lebih perhatian. Seolah cintaku padamu membuatku ingin menjadi manusia yang lebih baik untuk orang lain.

Itulah bagian paling kejam dari perselingkuhan. Ia membuatmu merasa benar, padahal sedang melukai. Membuatmu merasa jadi korban, padahal sedang membangun luka untuk orang lain.

Segalanya runtuh di malam hujan ketika kamu berkata, “Kalau aku datang lebih dulu, apa kita akan begini?”

Aku tidak menjawab, hanya bisa terdiam dengan isi kepala yang semakin berisik. Bukan karena tak tahu jawabannya, justru aku sudah tahu harus menjawab apa. Namun, aku tetap memilih diam karena jawaban itu pasti akan mengubah segalanya.

***

Kau pun seolah tahu jawabanku akan sangat menyakitkan, entah untukmu atau dia. Tak ingin mengejar, kau ikut terdiam. Hanya hujan yang berisik di tengah aksi bungkam kita malam itu.

Aku pun pulang ke rumah dengan perasaan sesak. Dia sedang tertidur di sofa, televisi menyala tanpa suara. Wajahnya terlihat lelah. Aku duduk di lantai, menatapnya lama. Tiba-tiba aku sadar, tidak ada penjahat dalam cerita ini. Hanya orang-orang yang terlalu lama bertahan hingga lupa caranya jujur.

Aku memilih mengakhiri semuanya keesokan harinya. Denganmu, juga dengannya. Padamu, aku berkata terima kasih karena telah mengingatkanku bagaimana rasanya didengar. Padanya, aku berkata maaf karena tidak cukup berani jujur sejak awal.

Kehilanganmu menyakitkan, tetapi kehilangan diriku sendiri akan lebih menghancurkan. Kini, kadang aku masih mengingatmu. Tidak dengan rasa ingin kembali, melainkan dengan kesadaran pahit bahwa cinta bisa hadir di waktu yang salah.

Darimu aku belajar bahwa tidak semua perasaan harus dimenangkan. Kebersamaan kita yang singkat menjadi perselingkuhan yang tidak selalu tentang nafsu. Kadang ia hanya jeritan sunyi dari hati yang terlalu lama diabaikan.

Dan aku juga belajar satu hal, jika aku harus memilih antara menyakiti orang lain atau berdamai dengan diriku sendiri, aku harus cukup berani untuk tidak bersembunyi di pelukan yang salah.