Di hutan yang daunnya selalu berbisik dengan rahasia, hiduplah seekor rubah muda bernama Raka. Bulunya merah menyala, matanya licik, dan lidahnya lebih tajam daripada duri. Raka tidak pernah lapar karena ia ahli mencuri: apel dari pohon kelinci, ikan dari sarang berang-berang, bahkan madu dari sarang lebah yang sedang tidur. Semua hewan tahu namanya, tetapi tidak ada yang mau berteman dengannya.
Suatu pagi, Raka melihat seekor burung kecil bernama Lila tergeletak di tanah. Sayapnya patah, matanya setengah tertutup. Di dekatnya ada sebutir biji ceri merah—makanan terakhir yang ia bawa untuk anak-anaknya di sarang yang tinggi.
Raka mendekat perlahan. “Kasihan sekali,” gumamnya sambil mengendus biji itu. Dalam hati, ia sudah berencana untuk mengambil biji itu lalu meninggalkan burung tersebut begitu saja. Ia terpikir untuk menjual cerita sedih ini kepada hewan lain untuk mendapatkan simpati dan makanan lebih banyak.
Namun, saat ia hendak menggigit biji tersebut, Lila berbisik lemah, “Kalau kau ambil… anak-anakku akan mati kelaparan. Tolong… bawa ke sarangku di pohon ek. Hanya kau yang bisa memanjat tinggi.”
Raka terdiam. Untuk pertama kalinya, kebohongan yang biasa meluncur dari mulutnya terasa berat. Ia menatap burung itu lama. Lalu, dengan gerakan yang asing baginya, ia mengambil biji ceri itu dengan mulut—bukan untuk dimakan, melainkan untuk disimpan.
Ia memanjat pohon ek. Ketinggian membuatnya pusing dan angin mendorong tubuhnya. Namun, ia terus naik sampai ke sarang kecil di dahan tertinggi. Tiga anak burung kecil menganga lapar. Raka meletakkan biji ceri di tengah mereka. Mereka langsung mematuk-matuk dengan gembira.
Lila terbang pelan menyusul—sayapnya masih lemah, tetapi matanya berbinar. “Terima kasih, Rubah. Kau menyelamatkan anak-anakku.”
Raka tidak menjawab. Ia turun dengan cepat, jantungnya berdegup kencang. Bukan karena takut tertangkap, melainkan karena sesuatu yang baru: rasa hangat di dada yang tidak pernah ia rasakan dari hasil mencuri.
Malam itu, Raka tidak bisa tidur. Ia mondar-mandir di sarangnya. “Kenapa aku tidak ambil bijinya saja? Aku bisa berbohong lagi besok. Kenapa aku malah naik pohon itu?”
Keesokan harinya, rumor menyebar: Rubah merah menyelamatkan anak burung. Hewan-hewan tidak percaya. “Pasti ada tipu muslihat,” kata tupai. “Ia pasti mau meminta imbalan besar.”
Raka mendengar semua itu. Biasanya, ia akan tertawa dan membuat kebohongan baru yang lebih hebat. Namun, kali ini lidahnya kelu. Ia hanya berkata pelan, “Aku… hanya melakukan apa yang seharusnya.”
Hari berikutnya, seekor rusa tua mendekatinya. “Rubah, aku kehilangan anakku di lembah berlumpur. Aku tidak bisa turun karena kakiku sakit. Bisakah kau mencarinya?”
Raka hampir menolak, tetapi ia ingat mata Lila. Ia mengangguk. “Aku akan cari. Namun, kalau aku berbohong, kau boleh mengejarku seumur hidup.”
Ia pergi ke lembah. Lumpur menggenang dan bau busuk menyengat. Di tengah lumpur, seekor anak rusa kecil terjebak, hanya kepalanya yang terlihat. Raka tidak memiliki tali ataupun alat. Hanya tubuh kecil dan tekad yang baru lahir yang ia miliki.
Ia melompat ke lumpur, mendorong anak rusa dengan pundaknya, dan menggigit rumput panjang untuk dijadikan pegangan. Lumpur menelan separuh tubuhnya, tetapi ia terus mendorong. Akhirnya, anak rusa itu berhasil naik ke tanah kering. Raka sendiri hampir tenggelam. Ia merangkak keluar dengan tubuh penuh lumpur dan napas tersengal.
Induk rusa menangis. “Kau… kau benar-benar menyelamatkannya.”
Raka menunduk. “Aku tidak mau berbohong lagi. Kalau aku bilang aku bisa, aku harus bisa.”
Sejak hari itu, Raka berubah. Ia tidak lagi mencuri. Ia menawarkan bantuan—kadang dibayar dengan makanan, kadang hanya dengan ucapan terima kasih. Hewan-hewan mulai mendekat, bukan karena takut, melainkan karena percaya.
Suatu musim dingin, ketika salju menutup hutan, makanan habis. Semua hewan kelaparan. Raka tahu ada gudang biji-bijian milik manusia di pinggir hutan—tempat yang pernah ia incar untuk dicuri. Kali ini ia tidak mencuri sendirian. Ia mengumpulkan semua hewan. “Aku tahu tempat yang ada makanannya. Namun, aku tidak mau mengambilnya diam-diam. Kita minta baik-baik. Kalau ditolak, kita cari cara lain.”
Mereka ragu. Namun, melihat Raka yang dulu penipu kini berdiri tegak, mereka ikut. Mereka datang ke gudang. Raka maju ke depan manusia tua yang menjaga. “Kami lapar. Kami tidak minta banyak, hanya cukup untuk bertahan selama musim dingin. Kami janji tidak akan merusak lagi.”
Manusia tua itu menatap rubah yang penuh lumpur kering dan bekas luka itu. Lalu, ia tersenyum. “Aku pernah kehilangan anak ayam karena rubah. Namun, kau… kau berbeda. Ambil yang kalian butuhkan. Namun, ingat janjimu.”
Malam itu, hutan penuh tawa dan kehangatan. Raka duduk sendirian di batu tinggi, menatap bintang. Seekor anak kelinci mendekat. “Paman Rubah, kenapa kau berubah?”
Raka menarik napas panjang. “Dahulu aku pikir kejujuran membuatku lemah. Ternyata kebohonganlah yang membuatku kesepian. Jujur itu sakit—harus naik pohon tinggi, masuk ke lumpur dalam, dan bicara terus terang. Namun, setelah itu… kau tidak perlu lari lagi. Kau bisa duduk diam dan tetap dihormati.”
Anak kelinci mengangguk. “Jadi, kejujuran itu kekuatan?”
Raka tersenyum tipis—senyum yang tidak lagi licik, melainkan tulus. “Bukan kekuatan untuk menang, melainkan kekuatan untuk tidak perlu lagi berpura-pura.”
Sejak malam itu, rubah merah tidak lagi disebut pencuri. Mereka memanggilnya Raka yang Jujur. Dan setiap kali ada yang ragu untuk mengaku salah, mereka ingat seekor rubah yang pernah memilih kejujuran—bukan karena mudah, melainkan karena itulah satu-satunya jalan agar hutan tidak lagi terasa dingin meski salju turun.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
FX Fighter Kurumi-chan, Manga Bertema FX Trading Umumkan Adaptasi Anime
-
HP Bukan Sekadar Alat Komunikasi: Peran Smartphone dalam Gaya Hidup Modern
-
Baru Juga Diresmikan, John Herdman Sudah Langsung Bikin Kebijakan yang Menantang!
-
Oppo Siap Luncurkan A6t Series pada Januari 2026, HP Andalan Anak Muda dengan Mobilitas Tinggi
-
HP Rp 3 Jutaan dengan Kamera Terbaik 2026, Bisa Hasilkan Foto ala Flagship