Hayuning Ratri Hapsari | Oktavia Ningrum
Ilustrasi Gadis Pendek (Gemini AI)
Oktavia Ningrum

Aku tidak pernah bercita-cita menjadi pendek. Tapi hidup, seperti petugas rekrutmen yang kaku, tidak pernah menanyakan keinginanku sebelum menuliskan syarat. Sejak kecil, aku sudah akrab dengan kalimat-kalimat yang terdengar ringan, tapi efeknya permanen.

“Lucu ya kamu, kecil, imutnya.” kata tante-tante sambil mencubit pipiku.

Lucu. Selalu lucu.

Paling jauh hanya imut, dan... kecil.

Atau justru, botol yakult. 

Tidak pernah cantik ataupun ideal. Mereka tidak tahu betapa lamanya aku menunggu mereka bilang aku cantik alih-alih imut dan lucu. Aku juga terkadang, ingin terlihat selayaknya wanita. Yang mungkin cukup dewasa dan bisa diandalkan. 

Waktu SMA, aku berdiri di depan cermin, berjinjit, sambil menempelkan kertas bertuliskan: PRAMUGARI.

“Minimal tinggi badan 165 cm.”

Aku ukur ulang.

Sekali. 

Dua kali.

Tiga kali.

Angka hanya berhenti di 153 cm. Angkanya tidak bergerak. Seperti nasib.

“Kurang berapa?” tanya temanku.

“Lumayan,” jawabku singkat, sambil tertawa. Tertawa jenis biar nggak nangis.

Lulus SMA, aku berganti mimpi.

Oke, kalau bukan pramugari, mungkin model.

Kubuka situs agensi. Kubaca syaratnya.

Minimal 170 cm.”

Aku menutup laptop pelan-pelan. Bukan marah. Cuma… lelah menawar sesuatu yang tidak bisa ditambah walau pakai doa semalaman.

“Yaudah,” kataku pada diri sendiri. “Jadi sales make up aja. Kan tinggi nggak penting.”

Sampai aku membaca syaratnya.

Minimal tinggi badan 160 cm.”

Aku terdiam lama.

Ini dunia apa lomba galah?

Aku menghela napas panjang.

“Gue mau jual lipstik, bukan jadi tiang bendera,” gumamku.

Sejak saat itu, aku paham satu hal. Jadi pendek bukan cuma soal fisik, tapi soal mimpi yang harus dikecilkan pelan-pelan, biar muat. Banyak mimpi yang harus terkubur bukan kamu tak mampu, tapi karena memang mimpi itu tak akan pernah menjadi tempatmu. 

Penderitaan itu berlanjut ke kehidupan sehari-hari.

Suatu sore di MRT Jakarta, jam sibuk.

Padat.

Sesak.

Manusia berdiri seperti susunan lego gagal. Aku masuk, berharap keajaiban: satu kursi kosong. Tidak ada.

“Gapapa,” bisikku pada diri sendiri. “Pegangan aja.”

Aku mengangkat tangan. Dan berapa terkejutnya aku ketika jemariku hanya merasakan kekosongan di udara.

Tidak nyampe.

Aku jinjit. Masih tidak nyampe.

Aku lompat dikit, sok santai. Tetap tidak nyampe.

Tanganku melayang-layang di udara, seperti orang berenang gaya kupu-kupu di ruang publik. Kereta ini di design untuk mahluk semacam titan kah? 

Di sebelahku, seorang laki-laki yang mungkin seumuran atau beberapa tahun lebih tua dariku menatap dengan wajah iba.

“Kak…” katanya ragu.

“Iya?” jawabku, setengah malu, setengah pasrah. Karena otomatis, kelakuanku terlihat jelas di matanya. 

“Pegang tas saya aja.”

Ia menggeser tas ranselnya, memberi satu tali untuk kugenggam.

Aku menatap tas itu.

Lalu menatap dia.

Lalu menatap lantai.

“Oh… makasih, ya,” kataku lirih.

Aku berpegangan pada tas orang asing seperti anak TK nyasar di pasar.

Di dalam kepalaku, aku tertawa dan menangis bersamaan. Beginilah hidup orang pendek. Pegangan hidupnya literal.

Seorang ibu di depanku berbisik ke temannya sambil cekikikan, “lucu ya.”

Ah, berapa lucu punya banyak sekali arti. 

Aku ingin menjawab, “Iya, Bu. Saya juga kasihan sama diri saya.”

Tapi aku memilih diam. Orang pendek sudah cukup mencolok tanpa harus vokal. Sesampainya di stasiun tujuan, aku turun dengan sisa harga diri yang masih utuh—sedikit, tapi cukup.

Di rumah, aku cerita ke temanku lewat chat.

Gue hari ini pegangan tas orang di MRT.

Balasannya cepat.

HAHAHAHA KOK BISA?

Aku mengetik dan menghapus lagi pesan yang hendak kukirim. 

Gue ga nyampe pegangan.

Tidak ada balasan selama beberapa waktu. Aku yakin si monyet satu ini lagi ketawa di ujung dunia sana. 

Ya ampun… pendek banget sih lu.

Aku balas dengan emoji senyum.

Emoji paling sopan untuk luka yang sudah kebal.

Malamnya, aku berdiri lagi di depan cermin.
Kali ini tanpa berjinjit.

“Apa salah gue jadi segini?” tanyaku pada bayanganku sendiri.

Bayanganku diam.

Dia juga pendek. Dia juga capek.

Aku teringat semua mimpi yang pernah kusimpan rapi. Seragam pramugari, catwalk dengan lampu terang, meja makeup dengan name tag namaku.

Semua terkubur.

Bukan karena aku malas. Tapi karena tubuhku dianggap tidak cukup. Bahkan tak hanya tentang karir dan mimpi, di kehidupan asmara juga tak kalah tragis. Di mata lawan jenis aku lebih tampak seperti "adik" dibandingkan perempuan yang bisa mereka sukai. 

“Lucu ya,” kataku pelan.

Ternyata banyak mimpi punya penggaris.”

Besoknya, aku berjalan di mall, melewati etalase penuh poster perempuan tinggi semampai. Aku menatap pantulan diriku di kaca. Kecil, biasa, tidak pernah terlihat cukup dewasa.

Seorang anak berseragam biru putih berlari melewatiku, menabrak kakiku.

“Maaf, ya kak!” katanya.

Kak.

Bukan Tante atau Ibu. 

Aku menatapnya, lalu tertawa kecil. Mungkin ini salah satu bagian paling menyenangkan ketika jadi pendek. 

“Gapapa,” kataku.

Dalam hati aku berkata, setidaknya aku setinggi anak-anak bahagia.

Jadi pendek itu bukan cuma soal tidak nyampe rak atas atau pegangan MRT. Tapi soal bagaimana dunia sering lupa bahwa mimpi tidak seharusnya diukur pakai meteran.

Makanya, aku ingin bilang satu hal. Jangan jahat-jahat sama orang pendek.

Kamu tidak tahu berapa banyak mimpi yang mereka kubur diam-diam. Berapa banyak rasa malu yang tumbuh subur setiap kali mereka harus jinjit untuk hal-hal sederhana.

Kami mungkin kecil, tapi usaha kami sering kali lebih tinggi dari yang terlihat.

Dan kalau suatu hari kamu lihat seseorang pegangan tasmu di MRT, itu bukan karena dia mau maling. Coba lihat dulu jarak hand grip dan kepalanya sejauh apa. Kalau memang terlalu mustahil dicapai, tolong sedikit ramah dan berbelas kasihan padanya. 

Itu karena hidup tidak selalu menyediakan pegangan yang terjangkau...bagi semua orang.