Di atap gedung tua pinggir kota, Batsy hidup sendirian. Sayapnya lebar tapi robek di beberapa tempat, bulunya kusam abu-abu seperti asap knalpot. Ia bukan kelelawar biasa. Ia tak pernah bergantung terbalik di pohon atau gua. Ia memilih atap beton ini karena dari sini ia bisa melihat seluruh kota tanpa harus terbang terlalu jauh. Matanya yang hitam pekat selalu menatap lampu-lampu jalan, mobil yang berlalu, dan manusia yang berjalan cepat di bawah sana.
Malam itu hujan deras. Batsy meringkuk di bawah ventilasi rusak. Tiba-tiba terdengar suara kecil di bawah atap: “Batsy… Batsy…”
Seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun, Arga, memanjat pipa air dengan payung rusak di tangan. Wajahnya basah, matanya merah karena menangis. Ia tahu Batsy dari cerita kakeknya: “Ada kelelawar di atap yang tak pernah tidur. Ia menjaga kota dari mimpi buruk.”
Arga berhasil naik. Ia duduk di genangan air, menatap Batsy. “Aku cuma punya satu jam sebelum ibu pulang kerja. Kalau aku pulang basah kuyup lagi, dia marah. Boleh aku di sini sebentar?”
Batsy tak bergerak. Hanya menatap anak itu dengan mata hitamnya yang dalam.
Arga mulai bicara. Ia cerita tentang ayahnya yang pergi dua tahun lalu, tentang ibunya yang bekerja malam sampai pagi, tentang teman-teman yang mengejeknya karena selalu sendirian. “Aku takut jadi seperti mereka. Takut jadi orang yang cuma lihat ke bawah, tak pernah ke atas.”
Batsy mendengar. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tak langsung terbang pergi saat manusia mendekat.
Saat jarum jam menunjuk pukul 23:00, hujan reda. Arga diam. Batsy tiba-tiba membentangkan sayapnya yang robek. Ia melompat pelan ke pagar atap, lalu menoleh ke Arga.
Arga mengerti. Ia berdiri, tangannya gemetar. Batsy mengeluarkan suara kecil—bukan jeritan khas kelelawar, melainkan getaran pelan seperti dengung lembut.
Arga naik ke pagar. Batsy mendekat, sayapnya menyentuh bahu anak itu. Lalu, dengan gerakan yang tak pernah ia lakukan sebelumnya, Batsy mengangkat Arga—hanya beberapa senti dari pagar. Sayapnya yang robek bergetar hebat, tapi ia bertahan.
Mereka tak terbang tinggi. Hanya melayang pelan mengelilingi atap. Dari atas, kota terlihat berbeda: lampu neon tak lagi menyilaukan, melainkan seperti bintang jatuh yang tersesat. Mobil-mobil kecil seperti semut bercahaya. Orang-orang yang berjalan cepat terlihat rapuh, tapi juga indah.
Arga menangis lagi, tapi kali ini bukan karena sedih. “Aku tak pernah lihat kota begini. Ternyata… indah sekali.”
Batsy mendaratkan mereka kembali. Sayapnya gemetar lelah. Arga memeluk leher kelelawar itu sebentar. “Terima kasih, Batsy. Satu jam ini… cukup buat aku bertahan lama.”
Batsy tak menjawab. Hanya menatap anak itu sampai Arga turun lewat pipa yang sama.
Keesokan malam, Arga tak datang. Batsy menunggu di pagar atap, mata hitamnya menatap ke bawah. Ia tak tahu kenapa ia menunggu. Tapi ia tetap di sana.
Sepuluh tahun kemudian, seorang pemuda berusia dua puluh tahun naik ke atap yang sama. Ia membawa tas besar berisi alat-alat. Namanya masih Arga. Kini ia arsitek muda yang sedang merancang taman atap pertama di kota itu—tempat orang bisa naik, melihat langit, dan merasa tak sendirian.
Ia berlutut di tempat yang dulu ia duduk. “Batsy… aku datang lagi. Satu jam lagi, boleh?”
Batsy muncul dari balik ventilasi. Bulunya masih kusam, sayapnya masih robek, tapi matanya sama: hitam, dalam, penuh cerita.
Arga membuka tasnya. Ia mengeluarkan sepotong kain halus dan mulai menjahit sayap Batsy dengan hati-hati. “Aku belajar menjahit dari ibu. Dulu aku takut jarum. Sekarang aku tak takut apa-apa lagi.”
Batsy diam saja, membiarkan.
Satu jam berlalu. Sayap itu tak sempurna, tapi cukup kuat untuk terbang lebih jauh.
Arga berdiri. “Aku akan buat taman ini untuk orang-orang yang merasa kecil seperti dulu aku. Dan untukmu, Batsy. Supaya kau tak lagi sendirian di atap.”
Batsy menatap kota yang kini penuh lampu. Lalu ia membentangkan sayap yang sudah ditambal. Kali ini ia tak hanya melayang. Ia terbang—pelan, tapi pasti—menuju langit malam.
Arga tersenyum melihatnya menghilang di antara gedung-gedung. “Terima kasih atas satu jam itu. Dan semua jam setelahnya.”
Di atas sana, Batsy tak lagi hanya menjaga kota dari mimpi buruk. Ia menjaga harapan—harapan bahwa satu jam bersama seseorang, meski hanya diam dan mendengar, bisa mengubah arah hidup.
Dan setiap malam, ketika taman atap itu selesai dibangun, orang-orang naik ke sana. Mereka menatap langit, merasa kecil, tapi tak lagi kesepian.
Karena di suatu tempat di atas kota, ada kelelawar pendiam yang pernah memberi satu jam—dan satu jam itu cukup untuk mengajarkan bahwa terkadang, kekuatan terbesar bukan terbang tinggi, melainkan tetap berada di sana saat seseorang membutuhkan.
Baca Juga
-
Review Film The Voice of Hind Rajab: Klaustrofobia Emosi di Ruang Panggilan
-
Review Film Coraline: Remastered 3D yang Seram dan Bikin Merinding!
-
Review Film Mercy: Paranoia Teknologi dan Keadilan Instan yang Menyeramkan!
-
Review Sengkolo: Petaka Satu Suro, Film Horor Brutal yang Kuras Emosi Aulia Sarah
-
Zoe dan Rahasia Cahaya di Sungai Negro
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Satu Babak Patah Hati dan Langkah Baru dalam Novel I Love U, Bu Nurlia
-
Akhirnya Diumumkan, Film The Beekeeper 2 Siap Tayang Januari 2027
-
Rilis Visual Perdana, Anime Dark Fantasy Yuri Ini Siap Mengudara Juli 2026
-
Sinopsis Pearl in Red, Drama Korea Balas Dendam Park Jin Hee dan Nam Sang Ji
-
Melodi Kematian dari Desa Girihinggil