Korban keracunan akibat Makan Bergizi Gratis yang menyentuh angka lebih dari 16 ribu jiwa seakan-akan dinilai sebagai data statistik belaka. Angka 0,00017% justru menjadi sebuah apologi statistik untuk mengklaim program tersebut sukses. Kebahagiaan hingga pujian yang seharusnya timbul dari senyuman dan tanggapan masyarakat, tetapi pemerintah secara mandiri bersukacita atas program yang dibuatnya sendiri.
Meskipun program MBG memiliki tujuan yang baik untuk meningkatkan kualitas kesehatan dan gizi masyarakat, pemerintah sepertinya lupa akan dampak yang dialami akibat anggaran yang diperoleh untuk menjalankan program tersebut. Contohnya yaitu alokasi anggaran pada tahun 2026 ini melibatkan 67% anggaran pendidikan, 7% anggaran kesehatan, 6% fungsi ekonomi, dan dana cadangan sebesar 20%.
Secara tidak langsung, anggaran yang digunakan demi kelancaran program MBG justru mampu memengaruhi efektivitas di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Hal ini disebabkan oleh pemerintah melakukan efisiensi anggaran. Akan tetapi, pernyataan tersebut direspons berbalik oleh Direktur Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira dalam video dokumenter berjudul "Tak Ada Makan Siang Gratis".
Bhima mengatakan bahwa pemerintah tidak menggapai tujuan efisiensi anggaran yang sebenarnya, melainkan pemerintah melakukan realokasi anggaran untuk digunakan proyek-proyek strategis Prabowo-Gibran berjalan dengan lancar. Langkah ini membuahkan dampak negatif pada anggaran daerah yang seharusnya dipakai untuk pembangunan infrastruktur dan pengadaan barang justru berakhir miris.
Melalui beragam penjelasan yang diungkapkan, maka dapat disimpulkan Program Makan Bergizi di era pemerintahan Prabowo-Gibran sesungguhnya tidaklah gratis. Terlebih lagi menggunakan 67% anggaran pendidikan demi kemulusan program tersebut. Sejak awal program MBG dilaksanakan, anggaran pendidikan dan kesehatan diefisiensi demi mengisi perut.
Akhirnya, ketidakseimbangan ini menimbulkan dikotomi di antara memilih pendidikan atau makan siang gratis. Padahal, memutuskan salah satu opsi dari keduanya tidak menyelesaikan puncak masalah sama sekali. Program MBG seharusnya tidak dinilai berdasarkan hasil saja, tetapi juga penting untuk melihat dampak yang ditimbulkan. Oleh sebab itu, program yang dikatakan berhasil perlu ditilik lebih jauh melalui dampaknya di bidang pendidikan dan kesehatan, yakni sebagai berikut:
1. Pendidikan
Anggaran pendidikan yang dipangkas drastis untuk Program Makan Bergizi Gratis meliputi dana perbaikan sekolah, tunjangan guru, beasiswa KIP kuliah, dan operasional pendidikan. Kondisi saat ini yang menjadi sorotan di bidang pendidikan adalah mengenai gaji guru honorer.
Hal tersebut menjadi bahan pembicaraan karena gaji yang didapatkan oleh guru honorer lebih kecil dibandingkan sopir MBG, yakni sekitar Rp300.000 - Rp2.000.000 per bulan. Melalui kondisi ini, kita kerap mengetahui bahwa pendidik anak bangsa tidak terlalu diperhatikan nasib hidupnya oleh negara.
Situasi ini terjadi pada seorang guru honorer yang berasal dari Nusa Tenggara Timur bernama Agustinus Nitbani bercerita bahwa dirinya harus menempuh hampir 4 km untuk menuju ke sekolah. Awalnya, pada tahun 2004 ia digaji sebesar Rp50.000 dan menjadi Rp100.000 di tahun 2007.
Kemudian pada tahun 2021 jumlahnya mencapai Rp600.000. Meskipun begitu, sekeluarga tetap berhemat karena gaji yang diterima tidak cukup untuk membiayai kebutuhan hidup sepenuhnya. Agustinus juga memanfaatkan lahan pekarangan dekat rumahnya untuk konsumsi kebutuhan sehari-hari.
2. Kesehatan
Risiko keracunan setelah mengonsumsi MBG masih terus bertambah. Bahkan, hingga puluhan ribu jiwa telah menjadi korban. Meskipun begitu, Prabowo tetap menilai program tersebut berhasil hampir sempurna di angka 99,99%. Padahal, jeritan dan tangisan pilu orang tua yang melihat anaknya tidak bersalah tetapi menjadi korban MBG terasa begitu menyakitkan.
Program ini sebenarnya mampu terlaksana tanpa perlu memakan korban, asalkan pemerintah memerhatikan prosedur secara sistematis. Langkah-langkah yang dapat diterapkan yaitu menggunakan SOP keamanan pangan nasional, audit vendor dengan ketat, uji sampel sebelum distribusi, suhu makanan dijaga, pelatihan wajib Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG), hingga pengawasan dari banyak pihak.
Oleh karena itu, Program Makan Bergizi Gratis sejatinya belum sepenuhnya berhasil. Dampak negatif yang muncul, baik dari sisi risiko kesehatan maupun konsekuensi realokasi anggaran menunjukkan bahwa keberhasilan program tidak cukup diukur dari persentase statistik semata. Evaluasi menyeluruh berbasis dampak nyata di lapangan perlu menjadi tolok ukur utama.
Baca Juga
-
Peluncuran Buku demi Pencitraan: Efektifkah di Tengah Krisis Kepercayaan?
-
Anak Krakatau Meletus, Kenapa Bandara Soetta Ditutup tapi Kapal Penyeberangan Tetap Buka?
-
Kuliah Umum FPIPS UPI Gebrak Semangat Mahasiswa: Jangan Jadi Mahasiswa Kupu-Kupu!
-
Solusi Pamungkas Masalah Bangsa: Ganti Pemimpin atau Tukar Tambah Rakyat?
-
Esai 1.000 Kata Wajib 10 Sumber: Ketika Kuantitas Membunuh Analisis Kritis
Artikel Terkait
-
BPS Kalbar Catat Makan Bergizi Gratis Ubah Pola Konsumsi, Tekan Beban Belanja Keluarga Miskin
-
Wamendagri Wiyagus Tekankan Sinergi Daerah Sukseskan MBG dan Kopdeskel Merah Putih
-
Program Makan Bergizi Tetap Jalan Selama Ramadan, BGN Siapkan Empat Skema Pelayanan Ini!
-
MBG Diperlukan Di Tengah Tantangan Ekonomi?
-
Dari Dua Kali Jadi Sekali? MBG Lansia Berpotensi Ikut Skema Rp10 Ribu per Porsi
Kolom
-
Sering Sayang Hapus Screenshot dan Chat Lama? Kenali Bahaya Digital Hoarding bagi Mentalmu
-
Pentingnya Jaga Mental Krisis Iklim Anak Muda dari Sustainability Burnout
-
Masih Dianggap Tabu, Padahal Marital Rape Diatur dalam Hukum Indonesia
-
Kayu Terus Tergerus, Hutan Kehilangan Penyimpanan Karbon Alami
-
Pelajaran Kartu Merah Thom Haye: Timnas Butuh Kurikulum VAR
Terkini
-
Review The Weight: Saat Misi Membawa Emas Jadi Taruhan Nyawa
-
Review Hanuman Ansh: Sebuah Sajian Biopic Spiritual India yang Menyentuh
-
Dianggap Belokkan Sejarah, Tim Produksi Film The Assassin(s) Dipolisikan
-
Review Last Seen: Misi Menegangkan Ayah Mencari Putrinya yang Hilang!
-
Blusukan Pasar Minggu Bareng TRIPTIS, Melihat Wajah Asli Jakarta yang Sering Terlupakan