Hayuning Ratri Hapsari | Tika Maya Sari
Ilustrasi pohon sengon buto (Unsplash/Oscar Avalos)
Tika Maya Sari

Gimana rasanya kalau pas begadang lembur menyelesaikan tugas kantor justru ‘dihibur’ oleh penampakan pocong? Hal inilah yang dialami oleh Lek Salim, salah satu tetanggaku pada suatu malam. Begini kronologinya.

Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam, tetapi Lek Salim masih berkutat dengan laptopnya. Bertemankan sepiring gorengan dan secangkir kopi pahit, dia memaksa matanya untuk terus terjaga. Esok, proyek ini harus diserahkan pada atasan dan dipresentasikan di depan klien. Mau nggak mau, begadang adalah jalan ninjanya.

“Tumben malam ini sunyi sekali?” gumam Lek Salim. Sambil berselimut sarung, dia terus mengerjakan proyek kantor di teras rumah. “Mana dinginnya menusuk tulang lagi. Curiga ada dedemit.”

Lek Salim menggelengkan kepala. Lewat ekor mata, dia melirik keberadaan pohon sengon buto besar di halaman belakang rumah Lek Bahri. Pohon itu berdiameter kurang lebih lima puluh sentimeter, dengan dahan memanjang membentuk siluet payung. Beberapa bulan sekali, tetangganya itu bakal memangkas dahan-dahan yang sudah besar, tanpa menebang pohonnya.

“Pohon itu pasti lebih tua dari bangunan rumahnya.”

Lek Salim terkekeh sendiri. Dia pernah mendengar cerita dari beberapa tetua kampung, bahwa pohon sengon itu usianya sudah cukup tua. Lebih tua dari bangunan rumah yang berdiri sejak tahun 80an.

“Ini seriusan nggak ada orang sama sekali? Tumben anak-anak nggak nongkrong di pos kamling?”

Lek Salim meregangkan badan dan berjalan ke depan. Dia celingak-celinguk hanya untuk mendapati kondisi jalan yang sepi samun, tanpa orang. Pun keberadaan hewan malam macam jangkrik tak terdeteksi. Malam ini betulan dingin, dan sunyi.

Hingga kemudian, terdengar kecipak air.

Lek Salim yang merasa ganjil pun menengok ke arah kolam ikan milik Lek Bahri, di dekat pohon sengon besar itu. Namanya juga rumah di kampung, jadi nyaris tidak ada pagar beton sama sekali. Paling-paling hanya pagar kayu, pagar carang (bambu), atau pagar hidup berupa tanaman beluntas. Jadilah, Lek Salim merasa aneh saat ikan-ikan bergerak heboh malam-malam begini.

“Ini nggak beres nih,” pikirnya. “Pasti ada sesuatu nih.”

Sudah ganjil saat ikan-ikan berkecipak heboh malam-malam begini, ditambah purnama malam ini rasanya sangat aneh. Hawanya dingin, dan bulu tengkuk meremang. Pun nggak ada hewan malam yang setidaknya hadir. Hingga aroma amis tercium di hidung Lek Salim. Lelaki itu segera menutupi hidungnya dengan sarung, dan matanya celingak celinguk mencari asal aroma.

Hingga sepasang matanya bertemu dengan sepasang mata hitam, dari wajah hancur sesosok makhluk berbalut kain putih kusam. Ada jejak-jejak darah mengering dan tanah kecoklatan juga, yang berdiam diri di atas dahan pohon sengon buto.

“Yassalam…”

Lek Salim membeku di tempatnya, tidak bisa bergerak sama sekali. Ikan-ikan di kolam tetangganya kian heboh berkecipak.

Sosok itu berdiam selama beberapa detik, sebelum terbang menjauh dan menghilang dalam pekatnya malam. Lek Salim kemudian sanggup bernapas lega, sebelum membereskan laptop, gorengan, dan kopi untuk segera masuk ke rumah.

“Jadi, jenengan melihat sendiri, Lek?” tanyaku. “Tapi pohon sengon itu nggak wingit (angker) kok, Lek. Nggak ada penghuninya kok.”

“Lho, aku sendiri yang melihat kok. Ada pocong di sini. Dia berdiri di dahan atas sana,” ucap Lek Salim.

Aku kembali menggeleng. “Nggak ada makhluk apapun yang mendiami pohon sengon ini, Lek. Kecuali burung-burung yang memang bersarang di sana.”

Kulihat Lek Salim mengernyitkan dahinya. “Iya juga ya. Kalau memang dia penghuni di sini, harusnya kan nggak terbang menjauh.”

“Jangan-jangan, jenengan halusinasi, Lek? Kan jenengan posisi begadang lembur menggarap tugas kantor?”

Lek Salim terdiam sejenak. Dia beberapa kali melihat ke arah pohon sengon dan kolam ikan yang letaknya hanya berjarak dua meteran. “Apa mungkin dia entitas yang main ke sini ya?”

“Memangnya penghuni tempat lain bisa main ke sini, Lek?” tanyaku heran. “Berarti seperti manusia yang bisa tamasya ke mana-mana begitu?”

“Iya bisa.” Lek Salim kembali terpekur. “Jangan-jangan, itu gangguan?”

“Gangguan gimana, Lek?”

“Halah, kamu anak kecil mana ngerti begituan? Mending belajar sana biar pintar, biar nggak mudah diadu domba dan dibodohi orang lain.”

Aku sendiri nyaris tidak pernah melihat penampakan aneh pada pohon sengon yang usianya jauh lebih tua dariku itu. Bahkan ketika Bapak memangkasi dahan-dahannya, tidak pernah ada apa-apa.

Pohon sengon itu memang besar, dan dahan-dahannya membentuk payung lebar di udara yang menjadi sarang burung-burung. Bahkan hingga pohon itu mati beberapa tahun setelahnya, aku sendiri belum pernah mendapati sosok menyeramkan seperti yang dikisahkan Lek Salim.

Pun aku masih tidak paham apa yang dimaksud Lek Salim hari itu. Apa hubungan keberadaan sosok pocong malam itu dengan gangguan? Gangguan apa pula yang disebutkan? Hingga rasa bingung saat Lek Salim menyinggung kata ‘supaya nggak mudah diadu domba dan dibodohi’. Entahlah. 

Nyatanya, aku masih anak ingusan sedangkan usia Lek Salim sudah sepantaran Bapak. Mungkin, ada hal-hal yang dipahami oleh orang-orang dewasa yang nggak kupahami.