Sekar Anindyah Lamase | Gita Fetty Utami
Novel Pasta Kacang Merah (dok.pri/Gita)
Gita Fetty Utami

Jemari saya menyusuri buku-buku baru di salah satu rak Perpustakaan Daerah Cilacap, hingga bertemu novel berkaver dominan merah muda. Ketika membaca judul, saya mengira ini novel roman remaja di mana penulisnya menggunakan nama pena kejepang-jepangan. Kemudian saya membaca blurb di kaver belakang, dan kejulidan saya runtuh seketika.

Ternyata ini memang novel yang diterjemahkan dari bahasa Jepang. Istilah populernya adalah Asian Lit (Asian Literature). Semata karena kekurangtahuan saya maka nama Durian Sukegawa terasa asing. Padahal ternyata ia sosok penyair, prosais, penulis naskah program televisi, dan badut. Ia lahir pada tahun 1962 di Tokyo, dan lulusan Program Filsafat Timur, Fakultas Sastra, Universitas Waseda.

Ada beberapa kata kunci yang langsung memantik minat saya untuk membaca novel ini. Pertama, tokoh utama bernama Sentaro. Ini nama yang menyimpan kenangan kuat buat saya, karena Sentaro adalah kucing kami yang belum lama ini mati secara tragis. Kedua, dorayaki. Saya dahulu pernah menjual dorayaki di depan rumah, sehingga kenangan akan kue yang hangat, empuk, dan punya isian yang manis, langsung terbayang begitu membaca blurb novel. Maka saya pun meminjam buku ini dari perpustakaan.

Sentaro, Tokue, dan Rahasia Kudapan Manis

Alkisah Sentaro, seorang lelaki yang saya duga berusia tiga puluhan, bekerja di Toko Dorayaki Dora Haru. Toko ini terletak di Jalan Sakura, dan di depannya terdapat sebuah pohon sakura.

Perjumpaan pertamanya dengan Yoshii Tokue terjadi ketika wanita itu membeli dorayaki di tokonya. Setelah itu Tokue datang lagi untuk menanyakan lowongan pekerjaan yang ditempel di jendela kaca toko.

Pada pertemuan kedua itu Sentaro baru menyadari keanehan fisik Tokue. Pertama, jemari tangannya bengkok serupa kail. Kedua, bentuk kedua matanya berbeda. Ketiga, cara berjalannya aneh. 

Sentaro belum berpikir lebih jauh. Ia menduga itu karena persendian tulang Tokue sudah kaku. Ia juga awalnya spontan menolak keinginan wanita itu untuk bekerja di Dora Haru, semata karena usia Tokue yang sudah 76 tahun. 

Keesokan siang Tokue kembali muncul di toko. Ia mencoba menawar agar Sentaro mau menerimanya bekerja, dengan bersedia diupah jauh lebih rendah dari standar umum. Ketika Sentaro kembali menolaknya, Tokue malah bertanya mengenai pasta kacang merah yang selama ini digunakan Dora Haru.

Faktanya, Sentaro tidak membuat sendiri melainkan membeli jadi dari penyuplai langganan. Namun tentu saja lelaki ini enggan mengakuinya. Di luar dugaan, sebelum berlalu Tokue memberi satu stoples pasta kacang merah buatannya sendiri. 

Sentaro merasa kesal pada kekeraskepalaan nenek tersebut. Lalu dengan alasan kepantasan, ia lalu mencoba memakan pasta buatan Tokue. Hasilnya membuat ia terkesima, karena ternyata pasta kacang merah itu amat enak. Begitu masuk ke mulutnya, aroma dan rasa manis yang pekat langsung merebak.

Berawal dari situ Sentaro lalu bersedia menerima Tokue bekerja, dengan syarat hanya untuk membantunya membuat pasta kacang merah. Wanita tua tersebut tak perlu melayani pembeli, dan tak perlu datang setiap hari. Sentaro pun sempat bertanya bagaimana Tokue bisa membuat pasta seenak itu. Nenek itu hanya menjawab, bahwa ia telah membuat pasta kacang merah selama 50 tahun, tanpa penjelasan detil lainnya.

Kemudian Tokue mulai bekerja. Ternyata ia betul-betul berpengalaman, sebab cara yang dipakai Tokue berbeda dari apa yang selama ini dikenal Sentaro. Semula lelaki ini menganggap hal tersebut merepotkan. Namun begitu pasta kacang merahnya jadi, ia terpaksa mengakui kebenaran wanita itu. Di sisi lain, percakapan di antara mereka mulai terjalin secara akrab.

Baik Sentaro maupun Tokue ternyata menyimpan masa lalu penuh luka. Masa lalu lelaki tersebutkan melibatkan kisah kriminalitas, serta rasa bersalah amat mendalam kepada mendiang ibunya. Oleh karena itu Sentaro kini menjadi pria yang gamang dan selalu merasa jadi pecundang. Adapun masa lalu Tokue bahkan lebih menyedihkan. Karena ia membawa rahasia dan tragedi yang kelam. 

Ketika dorayaki Dora Haru menjadi terkenal dan laris berkat pasta kacang merah yang sangat enak, rahasia Tokue mulai tersingkap. Hal ini menimbulkan dampak negatif bagi toko. Akibatnya, Nyonya pemilik toko menyalahkan Sentaro yang menerima si nenek. Ia bahkan meminta lelaki tersebut mengganti menu dorayaki menjadi kudapan lain seperti okonomiyaki. Namun, kali ini Sentaro bergeming.

Perubahan Sentaro    

Di awal cerita digambarkan karakter Sentaro yang menjalani hidup seolah tanpa jiwa. Di mana ia memang terpaksa bekerja di Toko Dorayaki Dora Haru, karena utang budi pada mendiang bos yang dulu menolongnya. Setiap pulang dari toko lelaki ini akan mampir ke warung soba untuk makan dan minum sake. Ia pun telah lama mengubur mimpinya menjadi seorang penulis. 

Seiring berkembangnya cerita, pembaca akan menemukan perbedaan yang perlahan tapi pasti. Perubahan itu disebabkan kemunculan Nenek Tokue. Keingintahuan Sentaro akan latar belakang Tokue berhasil memunculkan perspektif baru. Sentaro jadi mengerti alasan Tokue untuk bergaul dengannya, serta anak-anak remaja pelanggan Dora Haru. 

Sentaro benar-benar tak dapat membayangkan kenestapaan yang telah dilalui Tokue semenjak masa remajanya direnggut oleh penyakit parah. Namun alih-alih menyesali keadaan terus menerus, Tokue berhasil berdamai dengan takdirnya. Kekuatan jiwa wanita tersebut berhasil menyalakan semangat baru di jiwa Sentaro.

Tokue tanpa sengaja meninggalkan warisan ilmu kepada Sentaro, yakni hakikat kudapan manis. Menurut Tokue, jika menyantap kudapan manis yang enak maka kesedihan akan lenyap. Oleh karena itu kudapan manis harus dibuat dengan penuh perasaan, agar pesan kebahagiaan sampai pada yang memakannya. 

Kelebihan dan Kekurangan Novel

Karena ini adalah novel terjemahan dari bahasa Jepang maka apresiasi pertama layak ditujukan kepada sang penerjemah. Karena ia berhasil menyampaikan pesan si penulis dengan gaya bahasa lugas, dan mudah dipahami. 

Selain itu ide ceritanya begitu relevan dengan kondisi kesehatan mental masa kini. Walaupun diberi latar belakang budaya Jepang, saya setuju bahwa kita seharusnya mencari jalan untuk memutus rantai masa lalu yang menyakitkan, serta menerima diri kita sendiri. Sebab bukankah diri kita sendiri yang sering menghambat langkah untuk maju?

Adapun kekurangannya ada pada bagian ending. Ini agaknya memang ciri khas novel Asian Lit yang kerap membiarkan pembaca mengambil keputusan sendiri akan nasib tokohnya. Si penulis hanya memberi petunjuk-petunjuk samar di bagian akhir. Jadi buat yang tidak suka digantung, harap bersabar, ya.

Novel ini menurut saya pantas direkomendasikan bagi pembaca muda hingga dewasa. Selamat membaca, Sobat Yoursay.    

Identitas buku

Judul    : Pasta Kacang Merah

Penulis : Durian Sukegawa

Penerjemah : Asri Pratiwi Wulandari

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : ketujuh, Januari 2024

Tebal      : 240 halaman

ISBN      : 9786020665078