Film horor Indonesia seringkali didominasi tema-tema yang berkaitan dengan kepercayaan lokal dan agama mayoritas, yaitu Islam. Tradisi, mitos, dan legenda yang berasal dari budaya serta kepercayaan Islam sudah banyak dikulik dalam film-film horor layar lebar. Ini berarti, film telah mencerminkan kepentingan dan kecenderungan masyarakat (penonton).
Namun, dengan kehadiran Film Kuasa Gelap yang disutradarai Bobby Prasetyo, yang notabene film horor eksorsisme Katolik pertama di Indonesia, tampaknya mulai ada tanda-tanda perubahan signifikan dalam lanskap perfilman horor nasional.
Buat para sinefil, pasti paham banget, bahwa selama bertahun-tahun, film horor Indonesia lebih banyak mengeksplorasi elemen-elemen supranatural yang berakar pada kepercayaan Islam atau mitos lokal, seperti cerita tentang hantu pocong, kuntilanak, atau setan-setan dalam konteks budaya Jawa. Cerita-cerita itu nggak cuma populer di kalangan penonton lokal, tapi juga semacam identitas perfilman horor Indonesia. Nah, kehadiran film horor dengan latar Katolik seperti Film Kuasa Gelap, tentu saja menunjukkan adanya diversifikasi yang semakin signifikan dalam genre ini.
Film Kuasa Gelap jelas menawarkan perspektif baru dengan mengangkat tema eksorsisme; praktik pengusiran roh jahat yang sering dikaitkan dengan tradisi Kristen Katolik. Ini cukup langka dalam film horor Indonesia, karena umumnya lebih sering menyoroti tema-tema dari kepercayaan lokal atau agama Islam. Maka dari itu, Film Kuasa Gelap nggak cuma membawa nuansa baru, tapi juga memberikan ruang bagi penonton untuk melihat bagaimana eksorsisme—tema yang sering ditemukan dalam film horor Barat—diadaptasi dalam konteks religius Indonesia.
Kehadiran Film Kuasa Gelap menjadi penting karena menunjukkan usaha untuk melampaui batasan-batasan tematik yang selama ini mengakar kuat dalam perfilman horor Indonesia. Dengan mengangkat tema eksorsisme Katolik, “Kuasa Gelap” nggak cuma memperluas jangkauan genre horor, tapi juga menunjukkan adanya upaya untuk merepresentasikan keragaman agama di Indonesia secara lebih inklusif di dalam industri film.
Selain itu, film seperti “Kuasa Gelap” juga kayak ngasih kesempatan untuk penonton mengeksplorasi perbedaan dan kesamaan, antara praktik eksorsisme dalam konteks agama. Jadinya, ini nggak hanya memperkaya genre horor tapi juga memungkinkan penonton untuk mengalami cerita yang lebih beragam.
Dengan beragamnya sudut pandang horor dalam eksorsisme, bisa dibilang ini jadi semacam evolusi perfilman Indonesia yang semakin terbuka terhadap eksplorasi perbedaan itu sendiri. Seiring dengan perkembangan zaman dan meningkatnya minat terhadap film, tampaknya ada dorongan untuk memproduksi karya-karya yang nggak hanya berbicara kepada audiens tertentu, tapi juga kepada audiens yang lebih luas lagi.
Pada akhirnya, Film Kuasa Gelap jadi contoh nyata dari upaya memperluas cakupan segmen horor di Indonesia. Dan kemunculannya sebagai film horor Katolik pertama di Indonesia adalah langkah yang layak kita apresiasi dengan menonton filmnya.
Sudah nggak sabar mau nonton? Film yang dibintangi Lukman Sardi, Jerome Kurnia, Astrid Tiar, Lea Ciarachel, dan Freya JKT48, akan tayang serentak di bioskop kesayanganmu pada 3 Oktober 2024. Selamat menanti filmnya tayang ya.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Bintangi Film Ambyar Mak Byar, Akting Happy Asmara dan Gilga Sahid Diragukan Sutradara
-
Sukses Besar, Tim Burton Tuai Pujian Lewat Film Beetlejuice Beetlejuice
-
Film Seni Memahami Kekasih: Lebih dari Sekadar Film Cinta-cintaan!
-
Masih Anget! Film Sorop Rilis Teaser Trailer, Netizen Komen: Amazing!
-
3 Rekomendasi Film dan Drama Jepang Dibintangi Ai Mikami Tayang 2024, Ada Chastity High
Entertainment
-
Comeback BTS Cetak Sejarah! Pre-Order Album ARIRANG Tembus 4 Juta Kopi dalam Seminggu
-
Work oleh no na: Semangat Kerja Keras dan Rayakan Pencapaian Diri
-
Keren! Emma Stone Jadi Wanita Termuda yang Berhasil Raih 7 Nominasi Oscar
-
Lula Lahfah Sempat Curhat Soal Kesehatan ke Keanu Agl Sebelum Meninggal
-
5 Rekomendasi Film Sambut Akhir Pekan, Sebelum Dijemput Nenek
Terkini
-
Bukan Sekadar Hiburan, Pop Culture Juga Mekanisme Bertahan Hidup Manusia Modern di Era Digital
-
Prof. Zainal Arifin Mochtar: Menjaga Akal Sehat di Tengah Kemunduran Demokrasi
-
Novel Jangan Bercerai, Bunda: Sebuah Cermin Retak Rumah Tangga
-
Menilik Survei Harvard-Gallup: Bahagia di Atas Kertas atau Sekadar Daya Tahan?
-
Rilis di Tiongkok, Vivo Y500i Ditenagai Baterai 7200 mAh dan Isi Cepat 44W