Trauma adalah respons emosional terhadap berbagai kejadian buruk yang menimpa, baik pribadi maupun orang terdekat.
Pengalaman trauma bisa berasal dari berbagai faktor seperti mengalami kekerasaan, cedera serius, kehilangan seseorang, pelecehan seksual, bencana alam, dan masih banyak lagi.
Bagi penyintas trauma dapat menghalangi atau memicu pertumbuhan psikologis. Namun secara bersamaan, para ahli menemukan cara untuk mengubah trauma ke hal yang lebih positif sehingga dapat membuat pribadi menjadi lebih berkembang.
Melansir psychologitoday, berikut beberapa analisa untuk mengatasi trauma dan membantu tumbuh dengan cara yang positif.
1. Mampu Mengelola Trauma yang akan Datang
Sebagian besar seseorang yang mampu menghadapi trauma, dapat mempersiapkan diri untuk pengalaman traumatis lain yang mungkin terjadi atau dapat terjadi.
Meskipun tidak semua orang mampu karena merasa terbebani oleh pengalaman sebelumnya. Namun beberapa penelitian membuktikan, beberapa orang yang telah mengalami trauma mampu mempersiapkan diri agar tidak terjadi hal serupa.
2. Perubahan Identitas
Pemilik trauma biasanya mengatakan pengalaman traumatis mereka menjadi bagian dari kisah hidup. Tak jarang ada yang membentuk identitas baru. Pengalaman traumatis mereka akan menghasut untuk 'melawan' dan memulai kembali dengan identitas berbeda yang mampu memberi tujuan baru.
Dengan pembentukan identitas baru ini, bisa dimanfaatkan untuk mengubah sifat atau tampilan.
Hal ini juga dapat terjadi dengan keadaan spiritual yang dialami oleh penyintas trauma. Mereka mungkin akan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, hal tersebut merupakan salah satu bentuk perkembangan diri.
3. Pemikiran Trauma
Sebagian besar pemilik trauma mengatakan bahwa trauma mereka merupakan 'penghalang' untuk tumbuh. Namun hal ini bisa dijadikan bahan untuk memicu evolusi. Meskipun hal tersebut merupakan proses yang sulit, tetapi hal tersebut mampu membawa pemahaman yang lebih baik kedepannya.
Seseorang yang memiliki trauma diharapkan untuk memiliki dukungan sosial untuk membantu mengatasi sedikitnya perasaan trauma tersebut. Menghabiskan waktu sendirian terlalu lama justru akan memperparah kondisi.
Jika pertolongan dari diri sendiri dan orang terdekat belum maksimal, cobalah untuk mencari pertolongan pada para ahli untuk membantu mengolah trauma menjadi senjata yang dapat digunakan untuk memperbaiki diri.
Sumber:
psychologitoday.com
Baca Juga
-
Makin Blak-blakan, Aaliyah Massaid Akui Bucin Ke Thariq Halilintar: Kamu Juara di Hati Aku
-
Mengenal Li Ran, Princess Eropa dari Asia Pertama, Istri dari Pangeran Charles Belgia
-
Fans Fuji Kecewa Konten Eksklusif Tersebar: Jadi Percuma Bayar
-
Nyanyi 'Cundamani' di Hadapan Happy Asmara, Celetukan Niken Salindry Bikin Ngakak Satu Venue
-
ARMY Next Level! Wanita Ini Pamer Rumah Berkonsep BTS, Semua Serba Ungu
Artikel Terkait
-
Curhat Wanita 24 Tahun Suka Dandan Seperti Bayi, Sebut Bisa Atasi Trauma
-
Tak Harus Tampan, Larissa Chou Ingin Suaminya Nanti Sayang Anak
-
Anak Ada Trauma, Ahmad Dhani: Pernah Beberapa Kali Safeea Nangis di Ruang Tunggu Penjara
-
Trauma Masa Lalu, ini 5 Tips Mengembalikan Rasa Percaya Kepada Orang Lain
-
Pernah Dikhianati Pasangan? Coba 3 Tips Menghilangkan Trauma Hubungan Cinta
Health
-
Viral Karena TikTok, Menkes Ungkap Manfaat Luar Biasa Umbi Kimpul untuk Kesehatan
-
Aksi Jemput Bola Mahasiswa KKN: Turun Langsung Cek Kesehatan Warga Reuhat Tuha
-
Berhenti Menggosok Dudukan Toilet Umum dengan Tisu, Ini Cara Membersihkan yang Benar
-
Lupakan Lari Ngos-ngosan, Ini Alasan Slow Jogging Lebih Efektif Bakar Lemak
-
Mengenal Parijoto: Buah Mitos Kesuburan dari Gunung Muria yang Kini Dilirik Sains
Terkini
-
Ulasan Film Seni Merayu Tuhan: Refleksi Sunyi Anak Muda Mencari Arah Hidup
-
Dentuman Sound Horeg di Kuburan dan Masjid: Hiburan atau Sudah Kelewat Batas?
-
Review Kung Fu Soccer: Terlalu Absurd Disebut Film Tentang Sepak Bola, Apakah Layak Ditonton?
-
Bli Nyoman dan Desa Les: Ketika sebuah Desa Tumbuh tanpa Kehilangan Akarnya
-
Dari Party ke Padel, Cara Gen Z Mengubah Arti Nongkrong