Buah-buahan merupakan kebutuhan untuk mencukupi kebutuhan nutrisi dan vitamin. Namun, tidak sedikit mitos yang beredar tentang waktu yang dianggap tepat saat mengonsumsi buah-buahan. Sebagai konsumen yang cerdas, kita semua dituntut untuk memahami fakta yang sebenarnya agar bisa mengambil keputusan yang tepat terkait pola makan.
Berikut adalah enam mitos yang masih kerap beredar di masyarakat yang belum jelas kebenarannya.
1. Mitos: "Makan buah setelah makan berat bisa menyebabkan masalah pencernaan."
Fakta: Tidak ada bukti ilmiah yang mengindikasikan bahwa makan buah setelah makan berat akan menyebabkan masalah pencernaan. Faktanya, buah justru bisa membantu pencernaan karena kandungan seratnya.
2. Mitos: "Makan buah saat perut kosong dapat merusak lambung."
Fakta: Tidak ada bukti yang mendukung klaim ini. Makan buah saat perut kosong justru dapat memberikan asupan nutrisi yang lebih cepat diserap oleh tubuh.
3. Mitos: "Buah harus dimakan sebelum makan utama."
Fakta: Tidak ada aturan baku terkait urutan makan buah. Yang penting adalah memasukkan buah dalam pola makan sehari-hari.
4. Mitos: "Makan buah malam hari menyebabkan penambahan berat badan."
Fakta: Penambahan berat badan terkait dengan total asupan kalori, bukan waktu makan. Mengonsumsi buah malam hari tidak akan otomatis menyebabkan penambahan berat badan jika dalam batas kalori yang tepat.
5. Mitos: "Tidak boleh makan buah setelah olahraga."
Fakta: Olahraga meningkatkan metabolisme tubuh, dan mengonsumsi buah setelah olahraga justru bisa membantu pemulihan otot dan mememuhi kembali glikogen.
6. Mitos: "Semua buah cocok sebagai camilan di tengah hari."
Fakta: Meskipun buah merupakan pilihan camilan yang sehat, beberapa buah mengandung lebih banyak gula daripada yang lain. Oleh karena itu sangat penting untuk memilah dan memilih buah-buahan rendah gula untuk camilan yang lebih sehat.
Itulah sejumlah mitos-mitos yang beredar di tengah masyarakat hingga hari ini tentang waktu yang tepat untuk konsumsi buah. Dengan memahami fakta-fakta tersebut di atas, kita dapat menghindari jebakan mitos sebagaimana yang dijelaskan dari laman resemi Harvard T.H. Chan School of Public Health (2019).
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
Demi Korban atau Selamatkan Muka? Menelanjangi Borok Penanganan Kasus di SMAN 1 Sentolo
-
Jalan Teknokratis Suahasil Nazara Menuju Kursi Menteri Keuangan
-
Menilik Survei Harvard-Gallup: Bahagia di Atas Kertas atau Sekadar Daya Tahan?
-
Belajar Membaca Peristiwa Perusakan Makam dengan Jernih
-
Kartini dan Gagasan tentang Perjuangan Emansipasi Perempuan
Artikel Terkait
-
Skandal Foto Telanjang Finalis Miss Universe Indonesia 2023 Viral, Ini Fakta Fabienne Nicole Pemenang Perdana Kontesnya
-
7 Manfaat dan Kandungan Buah Ara, Bisa Cegah Anemia hingga Hipertensi
-
Menguak Rahasia 6 Jenis Buah yang Dipercaya Bisa Mengusir Bau Mulut
-
4 Fakta Menarik Acropolis Yunani, Reruntuhan yang Jadi Situs Warisan Dunia
-
3 Fakta Menarik Pertandingan Persis Solo vs Persib Bandung di BRI Liga 1 Malam Ini
Health
-
Jangan Asal Lahap! Perhatikan Bahaya Asam Domoat pada Kepiting dan Cumi-Cumi
-
Diam-Diam Mengintai, Infeksi TORCH Bisa Berdampak Sejak Dini pada Janin
-
Terapi Gratis Anti-Stres: Keajaiban Memeluk Pohon yang Jarang Disadari
-
Sering Capek Padahal Nggak Ngapa-ngapain? Bisa Jadi Otakmu 'Kelebihan Muatan'
-
Waspada Bahaya Abu Vulkanik, Dokter Ini Bagikan 4 Tips untuk Lindungi Diri
Terkini
-
Review Neagley: Drama Aksi Khas Reacher dengan Sentuhan Lebih Emosional
-
5 Sneakers Empuk yang Cocok untuk Jalan Kaki, Ada Skechers hingga ASICS
-
Dari Viral Culture ke Real-Life Culture: Eranya Gen Z Cari Pengalaman Nyata
-
Seperti Pelukan Hangat! 5 Pilihan Parfum Warm Vanilla yang Lembut di Hidung
-
Bebas Bruntusan! 4 Acne Cleansing Balm Angkat Makeup Waterproof hingga Pori