Hayuning Ratri Hapsari | Atalie June Artanti
Umbi Kimpul (Wikimedia Commons)
Atalie June Artanti

Nama kimpul mungkin terdengar asing bagi sebagian orang. Namun, beberapa hari terakhir, umbi yang juga dikenal sebagai talas Belitung ini justru ramai diperbincangkan di media sosial. Dari TikTok hingga Instagram, kimpul mendadak naik kelas dari pangan tradisional menjadi bahan utama berbagai kreasi makanan kekinian.

Tren tersebut bermula dari sejumlah kreator yang membagikan eksperimen memasak menggunakan kimpul sebagai pengganti bahan pangan yang lebih umum. Kimpul bahkan digunakan untuk membuat makanan seperti arancini hingga bibim guksu. Konten-konten tersebut kemudian mengundang rasa penasaran warganet. Tidak sedikit yang akhirnya ikut mencoba mengolah kimpul di rumah.

Fenomena ini menarik karena kimpul sebenarnya bukan pangan baru. Umbi dengan nama ilmiah Xanthosoma sagittifolium tersebut sudah lama dikenal sebagai salah satu sumber karbohidrat lokal. Hanya saja, popularitasnya selama ini kalah jauh dibandingkan nasi, kentang, singkong, atau ubi.

Kini, ketika media sosial kembali memperkenalkannya kepada generasi muda, kimpul justru mendapat sorotan baru. Pertanyaannya, apakah kimpul benar-benar lebih sehat daripada nasi?

Bukan Sekadar Umbi Biasa
Kimpul memiliki kandungan karbohidrat yang dapat menjadikannya salah satu pilihan sumber energi. Dosen Departemen Ilmu Gizi IPB University, Evy Damayanthi, sebelumnya menjelaskan bahwa talas kimpul memiliki karakteristik berupa sumber karbohidrat, rendah lemak, serta indeks glikemik yang relatif rendah.

Kimpul juga mengandung serat pangan, pati resisten, sejumlah mineral seperti kalium dan tembaga, vitamin B3, serta berbagai komponen bioaktif. Kandungan tersebut membuat kimpul berpotensi dikembangkan sebagai bagian dari diversifikasi pangan Indonesia.

Salah satu keunggulannya adalah kandungan serat. Serat dapat membantu memberikan rasa kenyang lebih lama sehingga kimpul menarik untuk dikonsumsi sebagai salah satu alternatif sumber karbohidrat, termasuk bagi orang yang sedang mengatur pola makan.

Hal serupa disampaikan spesialis gizi klinik, dr Igus Ulfa Yaze, yang mengatakan kimpul dapat menjadi pilihan sumber karbohidrat. Dibandingkan nasi putih dalam berat yang sama, kandungan karbohidrat kimpul lebih rendah karena kadar airnya lebih tinggi. Namun, menurutnya, bukan berarti ada satu jenis karbohidrat yang otomatis paling sehat untuk semua orang.

“Yang paling penting adalah menyesuaikan jenis makanan dengan kebutuhan dan porsinya,” menjadi garis besar penjelasan tersebut.

Artinya, menyebut kimpul sebagai “pengganti nasi yang pasti lebih sehat” juga kurang tepat. Kesehatan seseorang tidak hanya ditentukan oleh satu bahan makanan, tetapi oleh keseluruhan pola makan, jumlah konsumsi, cara pengolahan, serta kondisi tubuh masing-masing.

Viral karena Bisa Diolah Jadi Apa Saja
Salah satu alasan kimpul menarik perhatian bukan hanya karena kandungan gizinya, tetapi juga karena fleksibel diolah.

Selama ini, kimpul mungkin lebih sering dibayangkan sebatas umbi yang direbus atau digoreng. Padahal, bahan pangan ini dapat dikembangkan menjadi tepung dan digunakan untuk berbagai produk makanan.

Kimpul dapat diolah menjadi roti, kukis, mi, brownies, bakso, hingga bahan pengental makanan. Kreativitas para pengguna media sosial kemudian membuat kimpul semakin jauh dari kesan sebagai “makanan kampung”.

Fenomena ini sebenarnya memperlihatkan bagaimana media sosial dapat mengubah cara generasi muda memandang pangan lokal. Bahan yang sebelumnya dianggap biasa saja bisa kembali menarik ketika dikemas dengan cara yang lebih modern dan dekat dengan budaya digital.

Bahkan, sosok yang belakangan dikenal sebagai “Ibu Kimpul”, Ibu Tin, ikut memperkenalkan konsumsi kimpul melalui media sosial. Ia memilih kimpul karena menurutnya tanaman tersebut dapat tersedia sepanjang tahun, berbeda dengan sejumlah umbi lain yang lebih bergantung pada musim.

Ia juga menekankan pentingnya mengolah kimpul secara sederhana agar nilai gizinya tidak banyak berubah akibat tambahan bahan makanan yang kurang sehat.

Bisa Bantu Menjaga Gula Darah?
Kandungan serat dan karakter karbohidrat kompleks pada kimpul membuat pangan ini cukup menarik bagi orang yang sedang memperhatikan asupan karbohidrat.

Serat membantu memperlambat proses pencernaan sehingga rasa kenyang dapat bertahan lebih lama. Dalam konteks pola makan, karakter tersebut juga dapat membantu menghindari konsumsi berlebihan.

Namun, klaim bahwa kimpul dapat “mencegah gula darah melonjak” sebaiknya tidak dipahami secara berlebihan. Respons gula darah tetap dipengaruhi oleh jumlah makanan yang dikonsumsi, kombinasi makanan dalam satu porsi, metode memasak, serta kondisi metabolisme masing-masing orang.

Jadi, mengganti nasi dengan kimpul bukan berarti seseorang otomatis terbebas dari risiko gangguan gula darah.

Justru yang lebih penting adalah melihat kimpul sebagai salah satu pilihan dalam pola makan yang beragam. Dengan begitu, masyarakat tidak lagi bergantung pada satu jenis sumber karbohidrat saja.

Jangan Asal Makan, Cara Mengolahnya Juga Penting
Di balik manfaatnya, kimpul juga memiliki satu hal yang tidak boleh diabaikan: cara pengolahan.

Kimpul secara alami mengandung oksalat. Jika proses pencucian dan pemasakan tidak dilakukan dengan baik, sisa kristal oksalat dapat menimbulkan sensasi gatal atau tidak nyaman pada tenggorokan ketika dimakan. Karena itu, kimpul perlu dibersihkan dan dimasak sampai matang sebelum dikonsumsi.

Persoalan ini menjadi semakin penting karena tren media sosial sering membuat orang ingin langsung mencoba makanan yang sedang viral. Jangan sampai karena ingin mengikuti tren, proses pengolahan justru dilakukan secara terburu-buru.

Pangan lokal tetap perlu diperlakukan sebagai bahan makanan yang membutuhkan pengolahan tepat, bukan sekadar bahan konten.

Tidak Semua Orang Bisa Bebas Makan Kimpul
Hal lain yang menarik adalah kimpul ternyata tidak selalu cocok dikonsumsi dalam jumlah besar oleh semua orang.

Menurut dr Yaze, orang yang memiliki riwayat batu ginjal jenis oksalat perlu membatasi konsumsi kimpul atau berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan. Hal tersebut berkaitan dengan kandungan oksalat di dalam kimpul.

Pasien gagal ginjal kronis juga perlu berhati-hati karena kimpul mengandung kalium. Pada kondisi gagal ginjal tahap lanjut, seseorang biasanya membutuhkan pengaturan asupan kalium sehingga porsinya perlu disesuaikan.

Pengidap asam urat pun sebaiknya tidak asal mengganti seluruh sumber karbohidrat dengan kimpul. Meski kimpul bukan makanan tinggi purin, kondisi setiap orang berbeda sehingga pola makan tetap perlu disesuaikan.

Dengan kata lain, label “pangan sehat” tidak berarti makanan tersebut cocok dikonsumsi tanpa batas.

Dari Tren Viral Menjadi Peluang Diversifikasi Pangan
Terlepas dari pro dan kontra soal apakah kimpul lebih sehat daripada nasi, viralnya umbi ini sebenarnya membawa satu pesan penting: Indonesia punya banyak pilihan pangan yang selama ini kurang mendapat perhatian.

Kimpul dapat menjadi bagian dari upaya diversifikasi pangan, terutama karena Indonesia memiliki kekayaan sumber karbohidrat lokal yang sangat beragam. Ketergantungan pada nasi sebagai sumber karbohidrat utama membuat pangan seperti umbi-umbian sering hanya dipandang sebagai makanan alternatif, bukan bagian dari menu sehari-hari.

Padahal, memperkenalkan kembali kimpul, singkong, ubi jalar, sagu, dan berbagai pangan lokal lainnya dapat membuka lebih banyak pilihan bagi masyarakat.

Tren kimpul di media sosial mungkin saja akan berlalu seperti tren makanan lainnya. Namun, akan jauh lebih menarik jika yang tertinggal bukan hanya video viralnya, melainkan kesadaran bahwa pangan lokal juga bisa dikemas modern, bernilai gizi, dan memiliki peluang untuk dikembangkan.

Jadi, apakah kimpul lebih sehat daripada nasi?

Jawabannya tidak sesederhana “iya” atau “tidak”. Kimpul memang memiliki sejumlah keunggulan, terutama kandungan serat dan potensinya sebagai sumber karbohidrat alternatif. Tetapi, kebutuhan setiap orang berbeda dan porsi tetap menjadi kunci.

Alih-alih mencari satu makanan yang dianggap paling sehat, mungkin sudah waktunya masyarakat mengenal lebih banyak pilihan pangan. Sebab, sehat bukan tentang mengganti nasi dengan kimpul semata, melainkan tentang membangun pola makan yang beragam, seimbang, dan sesuai kebutuhan tubuh.

Dan kalau tren kimpul bisa membuat generasi muda kembali mengenal pangan lokal, setidaknya ada satu hal baik yang berhasil dibawa oleh media sosial: umbi yang dulu terlupakan, kini kembali diperbincangkan.