Ayu Nabila | zahir zahir
Timnas Indonesia U-20. (pssi.org)
zahir zahir

Beberapa hari terakhir kabar mengenai penangkapan dokter gadungan yang sempat buron selaman 2 tahun, yakni Elwizan Aminuddin cukup ramai diperbincangkan. Bagaimana tidak?

Pria yang sejatinya merupakan kondektur bus tersebut sempat menipu belasan klub di liga sepakbola profesional di Indonesia dan bahkan sempat masuk dalam jajaran dokter timnas Indonesia.

Sontak, penangkapan Elwizan Aminuddin di kediamannya di Cibodas, Bogor, Jawa Barat pada Rabu (24/01/2024) kemarin diapresiasi oleh banyak pihak, termasuk PSSI.

Melansir dari laman resmi PSSI (pssi.org), penangkapan oknum dokter gadungan yang telah melancarkan aksinya sejak tahun 2013 silam ini dapat menjadi hal yang positif bagi pesepakbolaan Indonesia.

“PSSI tentu senang dan terima kasih dengan kepolisian akhirnya bisa menangkap Elwizan Aminuddin. Bukan hanya PSSI, tetapi juga banyak klub yang kena tipu. Dia pernah menjadi dokter timnas sebelum covid melanda Indonesia. Modusnya adalah memalsukan ijazah kedokteran dari Universitas Syahkuala, Banda Aceh, sehingga klub percaya saat itu,” ujar Sekjen PSSI, Yunus Nusi, dikutip dari laman resmi PSSI.

Elwizan Aminuddin diketahui pernah menipu sejumlah tim papan atas di liga Indonesia seperti PS Barito Putera, Persita Tangerang, PSS Sleman, Madura Unite, Sriwijaya FC dan beberapa klub lainnya.

Di level tim nasional, dia pernah mengelabui PSSI sehingga menempati posisi dokter tim di level timnas Indonesia U-19 dan U-20.

PSSI Diharapkan Dapat Lebih Selektif dan Ketat Dalam Memilah Tenaga Kerja

Kasus dokter gadungan yang dapat mengelabui klub, bahkan sekelas PSSI tentunya menyiratkan sebuah celah di mana banyak oknum bisa memanfaatkan kelengahan dalam tubuh PSSI sekecil mungkin.

Tentunya diharapkan tidak ada lagi kasus serupa di masa depan yang menyebabkan kerugian bagi pesepakbolaan Indonesia.

“Kasus ini pasti akan menjadi perhatian PSSI. Saat ini kalau masuk offisial timnas akan diselidiki asal usul yang bersangkutan. Contoh kalau dia lulusan FKUI, kita akan tanyakan ke FKUI. Benar atau tidak. Kita juga tanyakan ke Ikatan Dokter Indonesia (ID). Kita juga tanyakan ke lembaga-lembaga terkait. Kemudian pengalaman dia,” ujar Yunus Nusi.

Yunus Nusi juga mengatakan bahwa kriteria seleksi dokter tim, baik di level liga 1, 2 maupun 3 juga diperketat. Apalagi jika mencapai level tim nasional, baik senior maupun junior tentunya akan mengalami peningkatan standarisasinya dan melalui seleksi yang cukup transparan dan ketat.

“Sekarang setiap dokter dan fisio yang mau bertugas di klub Liga 1 ,2 dan 3, apalagi di timnas indonesia harus terlebih dulu menyerahkan foto kopi ijazah dokter yang sudah di legalisir oleh Fakultas Kedokteran tempat dia kuliah,” imbuh Yunus Nusi.

Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS