Presiden Federasi Sepakbola Thailand (FAT) sekaligus manajer timnas Thailand, Nualpham Lamsam atau yang akrab disapa Madam Pang mengomentari kemajuan sepakbola di kawasan Asia, khususnya Asia tenggara yang dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan perkembangan secara signifikan. Pernyataan wanita berusia 58 tahun tersebut diutarakannya beberapa waktu lalu saat diwawancarai oleh kanal youtube asal Malayia, yakni Harimau Malaya Channel.
Menurutnya, pesepakbolaan di kawasan Asia tenggara kini tengah mengalami peningkatan yang cukup signifikan dalam 2 tahun terakhir. Hal ini membuat banyak negara memiliki kekuatan yang relatif hampir sama dan tidak ada yang paling mendominasi. Dirinya juga menyebut meskipun timnas Thailand kini berada di peringkat ke-101 dunia dala rangking versi FIFA, dirinya tidak ingin menganggap remeh kekuatan negara Asia tenggara lainnya yang sedang membangun kekuatan. Salah satunya adalah Indonesia.
“Setiap negara ini, terutama di Asia dan secara khusus di kawasan Asia Tenggara, level sepak bolanya sebetulnya sangat dekat. Jadi, kita tidak tahu secara pasti. Meskipun Thailand saat ini berada di peringkat 101 FIFA, tetapi sekarang ini setiap negara telah memperlihatkan perkembangan sepak bola yang luar biasa. Jadi, bagi kami, kompetisi sepak bola tetaplah sama. Semuanya ditentukan selama 90 menit di atas lapangan. Tentu ada tiga hasil, kami menang, kalah, atau imbang,” ujar Madam Pang.
Lebih lanjut lagi, wanita yang juga pernah menjadi manajer klub sepakbola asal Thailand, Port FC tersebut juga meminta kepada seluruh tim sepakbola di kawasan Asia tenggara untuk selalu menjaga sportivitas dan rivalitas secara sehat. Menurutnya, sepakbola juga dapat menjadi wadah persatuan bagi setiap bangsa-bangsa di kawasan Asia tenggara dan menjadi penggerak berbagai sektor kehidupan di masyarakat.
“Namun, setelah pertandingan berakhir, pertemanan dan sportivitas dari setiap negara di kawasan Asia menjadi lebih penting. Saya pikir, hal paling terpenting untuk mengembangkan sepak bola, tentu saja tidak hanya melibatkan aspek sepak bolanya, tetapi juga mengarah kepada berbagai sektor lainnya. Baik itu ekonomi, sosial, budaya, dan juga hubungan antarnegara. Namun, untuk sepak bola Thailand, saya tetap membutuhkan dukungan penuh dari pemerintah. Kami harus punya tujuan dan misi yang sama,” imbuh Madam Pang.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
Menanti Debut Tim Geypens di Timnas: Terganjal Polemik Paspor atau Kalah Saing dari Calvin Verdonk?
-
Skandal Paspor Juga Muncul di Belgia, Ragnar Oratmangoen dan Joey Pelupessy Gimana Nasibnya?
-
Luke Vickery Resmi Diproses Naturalisasi, Siapa Bakal Tergeser di Timnas Indonesia?
-
Minim Menit Bermain di Persija, Shayne Pattyanama Berpeluang Hengkang?
-
Gacor di Liga Belanda, Dean Zandbergen Bisa Jadi Opsi Timnas Indonesia di Lini Depan?
Artikel Terkait
-
Minimalisir Paparan Penyakit, Pemain Timnas akan Dikarantikan Ketat
-
Berkat Timnas Indonesia Nathan Tjoe-A-On Dapat Kans Jadi WNI Pertama Tampil di Championship, Elkan Baggott Gagal?
-
Bocor! Ada Pemain Naturalisasi yang Menyusul Gabung Timnas Indonesia, Maarten Paes?
-
3 Pemain Abroad Timnas Indonesia yang Tampil Mentereng di Kampanye 2023/2024
-
2 Faktor Kunci Thom Haye Bisa Diminati Klub Papan Atas Liga Prancis, Bukan karena Gratis!
Hobi
-
Menanti Debut Tim Geypens di Timnas: Terganjal Polemik Paspor atau Kalah Saing dari Calvin Verdonk?
-
Akankah Max Verstappen Tinggalkan Red Bull? Ucapan Lama soal GP Kembali Disorot
-
Alex Rins Makin Bingung dengan Motornya, Yamaha Sudah Rekrut Ai Ogura?
-
Bobot Nyaris 300 Kg Tapi Tetap Lincah Menikung? Intip Rahasia Suspensi Gila Yamaha Niken GT
-
Final ASEAN Futsal: Suoto Jamin Timnas Indonesia Tak Minder Hadapi Thailand
Terkini
-
"Skripsi yang Baik Adalah Skripsi yang Selesai": Curhat Mantan Mahasiswa Si Paling Perfeksionis
-
Fakta Unik Festival Musik Coachella: dari Menginap Sampai Tiket Rp150 Juta
-
Laris Manis! Konser EXO Planet #6 'EXhOrizon' di Jakarta Resmi Tambah Hari
-
Rahasia The Power of Habit, Mengapa Niat Saja Tidak Cukup untuk Berubah Jadi Lebih Baik?
-
Novel Damar Kambang, Mencari Kebebasan di Balik Tabir Adat