Dari yang sudah-sudah, persaingan dalam memperebutkan gelar juara dunia pasti menimbulkan situasi yang panas di antara kedua pembalap dan tim. Bahkan, hal ini kadang-kadang tidak hanya terjadi di lintasan saja, tetapi juga di balik layar dan di luar kompetisi.
Di era MotoGP yang dulu, kita menemui persaingan Marc Marquez dengan Valentino Rossi, serta Valentino Rossi dengan Jorge Lorenzo, yang membuat MotoGP bukan hanya sekadar kompetisi balap motor biasa, tetapi hampir menyerupai drama Korea yang penuh konflik.
Akan tetapi, persaingan seperti itu tampaknya tidak berlaku lagi di era MotoGP yang sekarang. Salah satu faktor utamanya adalah karakter rider yang jauh lebih tenang, dewasa, dan tidak suka memperbesar masalah.
Lihat saja bagaimana Pecco Bagnaia dengan Jorge Martin, meskipun keduanya bersaing ketat di lintasan dan juga di klasemen sementara, tapi setiap usai balapan salah satu di antara mereka tidak lupa mengucapkan selamat kepada yang lain.
Pecco bahkan senang bisa kembali melanjutkan persaingan di antara mereka yang sudah terjadi musim lalu. Martin yang tahun lalu kalah dengan cara yang bisa terbilang sangat menyakitkan, juga tidak memperbesar masalah dengan terus-menerus menyalahkan atau menyindir salah satu pihak.
Dia sepenuhnya menerima kekalahannya, secara dewasa mengucapkan selamat kepada Pecco, bahkan saling memaafkan dengan Marc Marquez (saat itu Marc terlibat kontak dengan Martin, keduanya jatuh dan Martin gagal meraih gelar juara dunia).
Di sisi lain, pemandangan yang adem ayem yang tidak biasa ini sepertinya membuat salah satu pembalap di grid merasa aneh. Dia adalah Pedro Acosta.
Dalam sebuah wawancara yang diunggah di akun X resmi MotoGP, @MotoGP, pembalap GasGas tersebut, sambil bercanda, menyampaikan bahwa dirinya bisa memancing persaingan antara Pecco dan Martin jadi lebih panas.
"Saya menghormati bagaimana Pecco dan Martin melakukan ini (persaingan), tapi sebenarnya ini bisa lebih seru. Mungkin Anda bisa menempatkan saya bersama mereka di sesi wawancara berikutnya, dan saya akan mulai permainannya," ungkap Acosta sambil tertawa dikutip Kamis (10/101/2024).
Ya, meskipun pemandangan adem ayem seperti ini sangat tidak biasa dan 'kurang seru' menurut sebagian orang, tapi faktanya dengan kondisi ini, MotoGP tidak kehilangan esensinya sebagai kompetisi balap, dengan drama-drama wajar yang masih seru untuk disimak.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Ikhlas Tinggalkan MotoGP, Jack Miller Siap Buktikan Diri di WorldSBK 2027
-
Sempat Ragu, Kenapa Marc Marquez Yakin Bertahan di Ducati hingga 2028?
-
Mau Jual Makanan yang Lagi Viral? Ini 5 Etika yang Perlu Diterapkan
-
Pimpin Klasemen, Jorge Martin Tak Mau Ambisi jadi Juara Dunia Lagi?
-
Bosan Dimsum Mentai? Ini 5 Kuliner Nusantara di Nganjuk yang Patut Dicoba
Artikel Terkait
-
Kehabisan Bensin Lagi, Fabio Quartararo Ajukan Protes ke Yamaha
-
Cerita Event Organizer usai Sukses Gelar MotoGP 2024 dan HUT TNI ke-79
-
Finis P3 di MotoGP Jepang 2024, Marc Marquez Puas Berhasil Balas Dendam
-
Dihukum Long Lap Penalty, Alex Marquez Merasa Stewards Tak Adil
-
Intip Biaya Modifikasi Honda PCX 160 dengan Gaya Motor MotoGP, Bikin Kantong Jebol
Hobi
-
Ikhlas Tinggalkan MotoGP, Jack Miller Siap Buktikan Diri di WorldSBK 2027
-
Sempat Ragu, Kenapa Marc Marquez Yakin Bertahan di Ducati hingga 2028?
-
Fabio Calonego Ungkap Target Pribadi bersama Era Baru Persija Jakarta
-
Bali United Bertekad Dominasi Laga Kandang di BRI Super League 2026/2027
-
Jakarta Mulai Bersiap, 2 Lapangan Disiapkan untuk FIFA ASEAN Cup 2026
Terkini
-
Ulasan Film Seni Merayu Tuhan: Refleksi Sunyi Anak Muda Mencari Arah Hidup
-
Dentuman Sound Horeg di Kuburan dan Masjid: Hiburan atau Sudah Kelewat Batas?
-
Review Kung Fu Soccer: Terlalu Absurd Disebut Film Tentang Sepak Bola, Apakah Layak Ditonton?
-
Bli Nyoman dan Desa Les: Ketika sebuah Desa Tumbuh tanpa Kehilangan Akarnya
-
Dari Party ke Padel, Cara Gen Z Mengubah Arti Nongkrong