Perhelatan Piala Asia U-17 kini telah memasuki masa setengah akhir pagelaran. Seiring dengan selesainya babak perempat final dan terkonfirmasinya empat kontestan yang melaju ke partai selanjutnya, turnamen yang kini berlangsung di Arab Saudi tersebut tinggal menyisakan dua tahap lagi, yakni semifinal dan partai final.
Menyadur laman jadwal yang dirilis oleh AFC, empat tim terbaik yang kini masih tersisa, akan menjalankan pertandingan babak semifinal pada Kamis (17/4/2025).
Dan sesuai dengan bracket pertandingan yang telah dirilis oleh induk sepak bola benua Asia tersebut, di laga semifinal nanti Uzbekistan akan berhadapan dengan Korea Utara, sementara tim tuan rumah Arab Saudi, akan menghadapi tantangan raksasa sepak bola Asia, Korea Selatan.
Uniknya, jika menilik bagan pertandingan tersebut, peluang untuk terjadinya "perang saudara" di turnamen kali ini terbuka sangat lebar.
Pasalnya, dua tim bertetangga yang selalu tak akur, yakni Korea Utara dan Korea Selatan, berada di bracket semifinal yang berbeda.
Itu artinya, jika kedua kesebelasan ini berhasil mengatasi perlawanan dari para pesaingnya di babak empat besar, maka dua negara asal Semenanjung Korea ini akan saling bertarung di partai puncak yang menurut jadwal akan dilangsungkan pada Minggu (20/4/2025) mendatang.
Memang, dalam persepakbolaan benua Asia, kekuatan sepak bola yang dimiliki oleh Korea Utara dan Korea Selatan ini memiliki perbedaan yang cukup signifikan.
Selama berdekade-dekade, Korea Selatan dikenal sebagai salah satu negara dengan kekuatan sepak bola terbaik di benua ini, sehingga mereka menyandang label sebagai salah satu negara utama dalam persepakbolaan Benua Kuning.
Sementara Korea Utara, prestasi mereka cenderung naik turun di kancah persepakbolaan benua maupun dunia. Setelah sempat membuat kejutan di pentas Piala Dunia edisi tahun 1966 di Inggris, persepakbolaan Korea Utara terkesan menurun kualitasnya, dan cenderung memiliki prestasi yang fluktuatif.
Dalam sebuah kesempatan, mereka bisa saja menjadi tim Kuda Hitam turnamen, namun tak jarang pula mereka menjadi tim yang hanya bersifat pelengkap saja di gelaran yang dihelat oleh AFC.
Namun, tentunya semua akan berbeda di Piala Asia U-17 kali ini. Pasalnya, jika menilik kekuatan yang dimiliki oleh Korea Utara di sepanjang turnamen, tentunya mereka tak layak untuk diremehkan oleh tim manapun, termasuk Korea Selatan yang memiliki kans bertarung dengan mereka di partai puncak.
Korea Utara yang bermain pragmatis di turnamen ini, dibekali dengan kekuatan fisik yang sangat baik. Pola permainan dari kaki ke kaki maupun bola-bola udara, selalu mampu mereka praktikkan dengan baik, termasuk ketika menggulung Timnas Indonesia di babak perempat final dengan skor telak enam gol tanpa balas.
Dan adapun Korea Selatan, selain memiliki fisik yang cukup baik, mereka juga secara teknik dan taktik bermain terbilang lebih mumpuni. Sehingga, akan menjadi sebuah final yang sangat menarik, ketika tim yang memiliki kelebihan dalam hal fisik, bertarung dengan tim yang mengandalkan otak dalam mengembangkan permainan.
Namun yang lebih membuat menarik lagi tentu saja terkait latar belakang kedua kesebelasan. Seperti yang kita ketahui bersama, Korea Utara dan Korea Selatan, meskipun keduanya bertetangga dekat dan bahkan saling berbatasan, namun mereka tidaklah akur sepertimana negara-negara lainnya.
Bukan hanya di bidang politik, namun ketidakakuran tersebut juga merambah dalam bidang-bidang lainnya, termasuk di dunia olah raga, khususnya sepak bola.
Jadi, akan sangat mungkin jika nantinya kedua negara ini sama-sama berhasil lolos ke partai puncak, perang saudara dengan tensi yang sangat tinggi di lapangan hijau akan terjadi dan menjadi penghias pengujung turnamen.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Kampanye Less Waste More Future dan Cara Yoursay Kirimkan Paket yang Bikin Saya Pengin Meniru
-
Selaku Bapak-Bapak yang Kerap PP Rembang-Tuban, Saya Menaruh Kejengkelan terhadap Hal-Hal Ini!
-
Cerita Bapak-Bapak PP Rembang-Tuban: Mengapa Saya Selalu Mengelus Dada Setiap Melintas di Jalur Ini?
-
Saya Memihak Menteri PPPA: Menempatkan Lelaki di Depan Bukan Diskriminasi, Tapi Logika Perlindungan
-
Jadi Guru Pembimbing Sekaligus Juri adalah Dilema, Ibarat Sudah Kalah Duluan Sebelum Mulai Lomba
Artikel Terkait
-
Tak Bisa Capai Semifinal Piala Asia U-17, Timnas Indonesia Gagal Total?
-
Romantisme Fans Indonesia dan Uzbekistan: Dulu Menjatuhkan, Kini Saling Menguatkan
-
Piala Dunia U-17 2025: Perlunya Tambahan Pemain Diaspora di Timnas Indonesia U-17
-
Gara-Gara Korea Utara, Timnas Indonesia U-17 Urung untuk Lakukan Balas Dendam
-
Korea Utara Sempat Ciut sebelum Hadapi Timnas Indonesia U-17
Hobi
-
Gagal di GP Prancis, Pecco Bagnaia Tatap Seri Catalunya dengan Optimis
-
Nyesek, Jorge Martin Bisa Tinggalkan Aprilia Walau Raih Gelar Juara Dunia?
-
Sprint Race GP Prancis 2026: Jorge Martin Menang, Marc Marquez Patah Tulang
-
Wow! Yamaha XMAX Disulap Jadi Motor Cyberpunk dari Serial Tokyo Override
-
Bukan Vespa, Scomadi Technica 200i Hadir dengan Gaya Adventure Klasik Retro
Terkini
-
7 Film Netflix yang Wajib Kamu Tonton Mei 2026: Awas, Ada yang Bikin Susah Tidur!
-
Kampanye Less Waste More Future dan Cara Yoursay Kirimkan Paket yang Bikin Saya Pengin Meniru
-
Ulasan Novel Counterattacks at Thirty: Keberanian Melawan Dunia Kerja Toxic
-
Duel Flagship 2026: Vivo X300 Ultra vs Huawei Pura 90 Pro Max, Mana yang Paling Worth It?
-
Dompet Kosong Guru Honorer dan Nurani yang Ikut Terkoyak