Pesepakbolaan putri atau lebih spesifik ke timnas putri Indonesia kini tengah menjadi sorotan. Pasalnya, ada salah satu mantan calon pemain naturalisasi timnas putri Indonesia, yakni Djenna de Jong yang angkat bicara mengeni problematika di tubuh PSSI terkait sepakbola putri. Melansir dari laman berita suara.com (24/04/2025), pesepakbola keturunan Indonesia-Maroko-Belanda ini menyebut adanya ketidakadilan dan kurang profesionalitas yang ada dalam tubuh PSSI saat ini.
“Ada beberapa hal yang bisa jelaskan tentang opini yang berkembang, hal yang saya alami sangat tidak profesional, tetapi saya tidak akan menjelaskan lebih rinci tentang situasi ini. Semua ini membuat saya memutuskan untuk tidak membela Indonesia. Saya tahu harga diri saya sebagai pribadi, tetapi juga sebagai pemain. Ini sudah menjadi pilihan yang ditimbang matang,” ujar Djenna de Jong di akun instagram pribadinya, @djennadejong.
Pesepakbolaan putri di Indonesia memang cukup mengalami ketimpangan jika dibandingkan dengan kategori putra. Baik di level pelaksaan liga maupun level tim nasional. Mulai dari tak adanya liga reguler, hingga adanya indikasi tak profesional yang menerpa timnas putri Indonesia seakan-akan memberikan drama bagi perkembangan sepakbola putri di negeri ini.
Sejatinya memang perlu ada pembenahan total mengenai pesepakbolaan putri di Indonesia agar dapat melangkah lebih maju kedepannya. Berikut ini 3 hal yang perlu diperbaiki dari pesepakbolaan putri di Indonesia.
1. Diadakannya Liga 1 Putri Secara Reguler
Salah satu hal yang tentu menjadi aspek mendasar terciptanya atmosifir pesepakbolaan yang baik adalah adanya liga yang dikelola secara profesional oleh federasi. Hal inilah yang tak dimiliki oleh sepakbola putri di Indonesia yang sampai saat ini belum memiliki Liga 1 putri. Melansir dari laman resmi PSSI (pssi.org), liga putri yang dikelola secara profesional di Indonesia terakhir kali diadakan pada tahun 2019 silam. Selepas itu, hingga kini belum ada lagi liga putri yang dikelola atau diadakan kembali oleh federasi.
PSSI sejatinya menjadwalkan liga putri atau Liga 1 putri diselenggarakan pada musim 2026/2027 mendatang. Namun, karena beberapa sebab, realisasi tersebut belum menemui kejelasan. Hal ini tentunya membuat banyak pemain sepakbola putri harus berusaha menjaga performa dari kompetisi-kompetisi regional semi-amatir yang ada saat ini. Tentu hal ini juga berarti mereka harus memutar otak dalam mencari mata pencaharian selain dari lingkup atlet sepakbola.
2. Pembentukan Skuad Timnas yang Tak Boleh Asal-asalan
Jika berbicara di level timnas, sepakbola putri di Indonesia memang cukup mengalami ketimpangan dibandingkan level putra. Jika timnas senior putra kini dianggap mengalami perkembangan yang cukup signifikan, maka di level putri justru masih harus dibangun dari awal lagi. Bahkan, bisa dibilang masih harus dimulai dari level 0.
PSSI memang menerapkan program naturalisasi pula di kategori timnas putri Indonesia. Namun, tentunya hal ini juga harus beriringan dengan aspek-aspek lainnya, termasuk pembenahan kualitas pemain berlabel timnas Indonesia dan juga menyediakan sarana dan prasarana saat di timnas putri Indonesia. Tak dapat dipungkiri, timnas putri Indonesia hingga saat ini masih berkutat di level Asia tenggara dan belum menyamai level yang ada di kategori putra.
3. Hapuskan Segala Bentuk Diskriminasi dan Bangun Profesionalitas
Salah satu hal yang tentunya diharapkan segera hilang di level sepakbola putri Indonesia adalah tak ada lagi diskriminasi dan pengelolaan yang harus lebih profesional. Tidak adanya liga profesional kategori putri di Indonesia bisa disebut sebagai bentuk diskriminasi yang ada di sepabola kita.
Bahkan, hal ini sudah berlangsung cukup lama dalam beberapa tahun terakhir. Tentunya seluruh pihak jika ingin membangun pesepakbolaan putri yang maju di Indonesia harus menghilangkan budaya diskriminasi ini dan harus menanamkan aspek profesionalitas dalam pengelolaannya.
Nah, itulah 3 aspek atau hal yang perlu dibenahi dari pesepakbolaan putri di Indonesia jika ingin melangkah maju kedepannya.
Baca Juga
-
Debut Sensasional, Cape Verde Jadi Tim Anomali di Ajang Piala Dunia 2026
-
Patah Tulang di Lapangan! Aksi Brutal Pemain Qatar Bikin Publik Dunia Murka
-
Piala Dunia 2026: Hanya Loloskan Dua Wakil, Sepak Bola Asia Masih Stagnan?
-
Bak Serial Anime! Laga Jepang vs Brazil Jadi Warna di Piala Dunia 2026
-
Comeback Sensasional Afrika Selatan: Resmi Lolos 32 Besar Pertama Kalinya
Artikel Terkait
-
Profil Lola Flohr, Pemain Liga Jerman yang Bakal Trial Bersama Timnas Putri Indonesia
-
Hadirnya Pascal Struijk Ancam Posisi Duo Kapten Timnas Indonesia, Kok Bisa?
-
Sejarah Penggunaan Anggaran untuk Klub Sepak Bola, Bakal Dihidupkan Lagi?
-
Diisukan Jadi Dirtek Timnas Indonesia Kini Simon Tahamata Ngamuk Gak Dapat Kerjaan
-
Timnas Indonesia Resmi Gagal Gaet Satu Pemain Keturunan, Curhat Tak Diperlakukan Baik oleh PSSI
Hobi
-
Debut Sensasional, Cape Verde Jadi Tim Anomali di Ajang Piala Dunia 2026
-
Patah Tulang di Lapangan! Aksi Brutal Pemain Qatar Bikin Publik Dunia Murka
-
Hong Myung-Bo Mundur setelah Gagal Piala Dunia, Presiden Nilai 'Tak Kompeten'
-
Gagal di Piala Dunia, Mengapa Pelatih Selalu Jadi Tumbal Pertama?
-
Jika FIFA Bertindak Tegas, Kuota AFC di Piala Dunia Bisa Berkurang Gegara Tim-Tim Arab!
Terkini
-
Piala Dunia 2026 dan Seni Melupakan Masalah Selama 90 Menit
-
Membaca Doorstoot naar Djokja: Menyelami Hari-Hari Paling Genting Indonesia
-
Syarat Berpenampilan Menarik di Lowongan Kerja, Bentuk Beauty Privilege?
-
Harimau Galak Pensiun Jadi Penjual Kue? Intip Menggemaskannya 'Mr. Tigers Snacks'
-
AI Sudah Jadi Teman Curhat, Apa yang Dicari Gen Z dari Hubungan Digital?