Presiden La Liga, Javier Tebas tak ragu memberikan masukan berharga untuk perkembangan sepak bola Indonesia. Dalam wawancara eksklusif di Singapura, pria yang dikenal sebagai sosok sentral dalam transformasi Liga Spanyol itu menyoroti hal-hal mendasar yang perlu diperkuat jika Indonesia ingin melihat kompetisinya tumbuh pesat.
Menurut Tebas, struktur kompetisi adalah fondasi utama. Tanpa sistem yang kuat dan berjenjang, sulit berharap munculnya generasi pemain yang kompetitif sejak usia muda.
“Hal pertama adalah memiliki struktur kompetisi yang kuat di semua kategori usia,” tegas Tebas sebagaimana diberitakan Antara News, Senin (23/6/2025).
Selama ini, Liga Indonesia telah memiliki empat kasta, dari Liga 1 hingga Liga 4. Untuk level usia muda, PT Liga Indonesia Baru (LIB) telah menjalankan Liga U-16, U-18, dan U-20. Namun bagi Tebas, hal tersebut masih belum cukup.
Ia menekankan pentingnya keberadaan turnamen domestik selain liga. Contohnya Copa del Rey di Spanyol atau Piala FA di Inggris. Turnamen semacam ini bukan hanya pelengkap, tetapi justru kunci dalam menstimulasi kompetisi di semua level klub.
“Turnamen seperti itu sangat berguna, khususnya untuk memberikan kesempatan kepada klub memainkan pemain mudanya,” sambung.
Fakta bahwa Indonesia belum lagi menggelar Piala Indonesia sejak musim 2018/2019 menjadi catatan tersendiri. Sementara Piala Presiden, yang rutin digelar, lebih bersifat pramusim dan tidak memiliki bobot kompetitif seperti turnamen resmi.
Tebas menyebut bahwa dengan struktur yang baik, para pemain muda bisa berkembang lebih cepat. Di usia 18 tahun, mereka sudah bisa tampil reguler di liga profesional dan berkontribusi signifikan.
Namun untuk membangun struktur kompetisi, diperlukan adanya sistem finansial yang sehat dan berkelanjutan. Tebas mengingatkan, kekuatan finansial bukan berarti jor-joran uang, tetapi bagaimana mengelola liga agar stabil secara ekonomi.
“Memiliki kompetisi nasional, harus sangat kuat secara finansial, tetapi bukan dalam arti banyak uang, tetapi harus berkelanjutan secara ekonomi,” tambahnya.
Sistem seperti ini dinilai penting untuk menarik minat sponsor, mengembangkan infrastruktur, serta menjamin kesejahteraan pemain dan staf dalam jangka panjang.
Tntangan Besar Bagi Pemain Lokal
Satu poin yang juga mendapat sorotan dari Tebas adalah peran pemain asing. Di Liga 1 Indonesia, regulasi mengizinkan delapan pemain asing. Bagi Tebas, jumlah tersebut sah-sah saja, bahkan dibutuhkan untuk membuat kompetisi lebih kompetitif.
“Membawa pemain asing ke kompetisi tertinggi juga tepat untuk membuat kompetisi itu lebih kompetitif,” kata Tebas.
Namun, ia mengingatkan, perekrutan pemain asing harus dibarengi dengan sistem yang kuat. Tanpa struktur kompetisi yang solid, kehadiran pemain asing justru bisa menjadi beban, bukan pengungkit kualitas.
Kendati demikian, dampak positif dari pemain asing di Liga 1 tak bisa diabaikan. Mereka meningkatkan kualitas permainan, mempercepat transfer ilmu kepada pemain lokal, dan memberikan warna taktik serta pengalaman berbeda yang sulit didapat dari kompetisi internal semata.
Banyak contoh sukses yang bisa dilihat. Pemain seperti Paulo Sergio dan Wiljan Pluim terbukti mampu menjadi motor permainan klub dan mentor di ruang ganti.
Kehadiran pemain asing yang berkualitas juga membuat pertandingan lebih menarik untuk disaksikan. Ini membantu meningkatkan nilai jual liga, baik di mata publik lokal maupun internasional.
Selain itu, pemain lokal pun terdorong untuk bekerja lebih keras demi bersaing merebut posisi inti. Persaingan sehat ini akan membawa efek domino berupa peningkatan kualitas individu.
Tentu tantangannya tetap ada. Klub-klub harus selektif dalam memilih pemain asing, tidak hanya melihat latar belakang atau usia, tetapi juga mentalitas dan keinginan berkontribusi pada perkembangan tim.
Di sisi lain, federasi pun perlu memperkuat sistem scouting dan pengembangan pemain lokal, agar potensi yang ada tidak tertutup oleh dominasi asing.
BACA BERITA ATAU ARTIKEL LAINNYA DI SINI
Baca Juga
-
Teriak Demokrasi, tapi yang Beda Pendapat Dicap Buzzer: Sehat?
-
Jadi Ladang Korupsi, Program MBG Sudah Sepatutnya Dihentikan?
-
Tumbang Lagi, Pelatih Korea Selatan Buka Suara soal Rumor Keracunan Makanan
-
In This Economy, Tak Termakan Provokasi dan Propaganda Adalah Berkah?
-
Piala Dunia 2026: Hancur di Tangan Prancis, Langkah Irak di Kian Terjepit
Artikel Terkait
Hobi
-
Laga Argentina vs Yordania: Saat Magis Lionel Messi Diuji Tembok Rapat 5 Bek
-
Piala Dunia 2026 Tanjung Verde vs Arab Saudi, Laga Panas Demi Tiket 32 Besar
-
Prediksi Laga Mesir vs Iran: Adu Taktik Tentukan Nasib Fase Grup
-
Analisis Taktik Norwegia vs Prancis: Duel Haaland dan Mbappe Demi Raja Grup
-
Prediksi Uruguay vs Spanyol: Taktik Bielsa dan De la Fuente Demi Juara Grup
Terkini
-
Teriak Demokrasi, tapi yang Beda Pendapat Dicap Buzzer: Sehat?
-
Punya Kulit Kering & Berjerawat? 4 Moisturizer Ini Aman Tanpa Bikin Pori Tersumbat
-
Bintang yang Mustahil Digapai
-
Jadi Ladang Korupsi, Program MBG Sudah Sepatutnya Dihentikan?
-
Dibalik Maraknya Kasus Deepfake di Kampus: AI Bukan Lagi Sekadar Alat Bantu