Persebaya Surabaya mulai menjalani persiapan pramusim dengan lebih matang. Tim berjuluk Bajol Ijo ini kini mengadopsi pendekatan ilmiah dalam mengukur kondisi fisik para pemain, demi memastikan performa optimal saat Liga 1 musim 2025/2026 bergulir.
Shin Sang Gyu, asisten pelatih yang juga pernah mendampingi Timnas Indonesia era Shin Tae-yong hadir memimpin metode ini. Menurutnya, penting bagi pemain profesional untuk mengetahui secara detail kondisi tubuh mereka, bukan sekadar menjalani latihan rutin.
“Sebagai pemain profesional, kita harus mengukur sejauh mana tingkat kebugaran seluruh pemain dengan detail,” ujar Sang Gyu, menyadur persebaya.id pada Sabtu (28/6/2025).
Salah satu fokus utama dalam pengukuran tersebut adalah massa otot dan kadar lemak tubuh (body fat). Sang Gyu menyebut dua aspek ini sebagai indikator krusial dalam menentukan ideal tidaknya kondisi fisik seorang pemain sepak bola.
Tak hanya itu, keseimbangan cairan tubuh juga menjadi variabel yang dipantau secara berkala. Ia menyebut bahwa proses evaluasi dilakukan setiap dua minggu, memastikan pemain dalam kondisi prima saat musim kompetisi dimulai.
“Hal ini kita ukur setiap dua pekan sekali, untuk memastikan pemain dalam kondisi ideal saat liga dimulai nanti,” jelasnya.
Langkah tersebut tentu memerlukan dukungan alat-alat yang mumpuni. Beruntung, manajemen Persebaya menyambut baik inisiatif tersebut dan telah menyediakan semua perlengkapan yang dibutuhkan sejak awal latihan perdana, 23 Juni lalu.
Namun, pendekatan ilmiah yang digunakan tidak hanya bergantung pada teknologi. Para pemain juga dituntut untuk menjaga kedisiplinan dalam pola makan. Salah satu bentuk kontrol yang diterapkan adalah kewajiban makan bersama untuk makan siang dan malam selama hari latihan.
”Dengan data ini, kami bisa menyusun latihan mandiri untuk masing-masing pemain di luar sesi latihan bersama yang sudah kita susun bersama Coach Eduardo,” ujar Sang Gyu.
Ia menambahkan bahwa masih banyak pemain yang meremehkan persoalan kadar lemak, padahal hal tersebut memiliki dampak langsung pada performa saat bertanding.
“Masih ada yang menganggap sepele soal kadar lemak. Padahal ini sangat berpengaruh terhadap performa di lapangan,” tandas pria asal Korea Selatan itu.
Amunisi Asing Tambahan Persebaya Beberkan Kesan Perdana
Di sisi lain, dua pemain asing baru Persebaya, yakni Milos Raickovic dan Gali Freitas mengaku terkesan dengan atmosfer klub dan metode latihan yang diterapkan.
Melansir Antara News hari Minggu (29/6/2025), Raickovic yang merupakan gelandang asal Montenegro menyebut sejak awal sudah melihat sinyal positif dari tim. Ia berkata, “Stadion Gelora Bung Tomo punya fasilitas bagus. Itu menunjukkan standar besar dari tim ini."
Dirinya juga menyoroti kerja sama antara staf pelatih dan pemain yang dinilainya sangat solid. Hal ini menjadi sinyal positif bahwa Persebaya siap bertarung dengan mental pemenang.
Raickovic pun mengucapkan terima kasih kepada Bonek dan Bonita atas sambutan hangat sejak awal dirinya diperkenalkan. Ia bahkan menyebut dukungan suporter sebagai kekuatan tambahan yang membakar semangatnya.
“Tim ini layak mendapatkan hasil terbaik, dan kami akan memberikan segalanya untuk klub bersama para pendukung,” tegasnya.
Hal senada juga disampaikan Gali Freitas, pemain asal Timor Leste yang sebelumnya memperkuat PSIS Semarang. Ia sudah menjalani latihan fisik selama beberapa hari bersama tim, sekaligus proses adaptasi terhadap intensitas latihan yang dijalankan.
Menariknya, Freitas mengaku tidak kesulitan dalam berkomunikasi karena sudah fasih berbahasa Indonesia. Lantaran ia sering bergaul dengan teman-teman Indonesia di kampung halaman, sehingga sudah tak asing lagi.
Lebih jauh, ia tak menutupi kekagumannya terhadap atmosfer di Stadion GBT, yang dulu ia rasakan sebagai lawan. Kini, sebagai bagian dari skuad Bajol Ijo, ia merasa lebih percaya diri.
Freitas mengakui bahwa dukungan dari manajemen serta suporter membuatnya semakin yakin bisa memberi kontribusi besar. Ia juga berharap bisa beradaptasi secara maksimal sebelum laga uji coba di Australia.
Dengan metode pengukuran yang ketat dan disiplin tinggi dari tim pelatih, Bajol Ijo bersiap menyongsong musim baru dengan level profesionalitas yang lebih tinggi. Ditambah dengan kontribusi pemain asing yang langsung nyetel secara mental dan budaya, asa untuk tampil kompetitif di Liga 1 2025/2026 tampak bukan sekadar angan.
Baca Juga
-
Jepang Ikut Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Wakil Asia 'Kehilangan Muka'?
-
Piala Dunia 2026 dan Seni Melupakan Masalah Selama 90 Menit
-
Identik dengan Nobar, Piala Dunia 2026 Tak Nikmat Jika Ditonton Sendirian?
-
Gagal di Piala Dunia, Mengapa Pelatih Selalu Jadi Tumbal Pertama?
-
Perkasa di Fase Grup, Prancis Jadi Kandidat Kuat Juara Piala Dunia 2026?
Artikel Terkait
Hobi
-
Suhu Tembus 43 Derajat Celsius, Panas Ekstrem Hantui Laga Piala Dunia
-
Maroko Tekuk Belanda Lewat Adu Penalti dan Lolos 16 Besar Piala Dunia 2026
-
Paraguay Tumbangkan Jerman Lewat Adu Penalti dan Lolos Tiket 16 Besar
-
Saudara Kandung Bela Beda Negara, Kisah Unik Bintang Piala Dunia 2026
-
Takluk dari Brazil, Jepang Gagal Pertahankan Marwah Sepakbola Asia!
Terkini
-
Yang Masih Lajang: Ujian Wanita Karier yang Berhadapan Tuntutan Pernikahan
-
Jangan Puji Pemerintah karena Kerja: Mengapa Publik Begitu Mudah Terpesona?
-
Berhenti Menormalisasi "Nabung Sulit, Checkout Mudah" Sebelum Keuanganmu Benar-Benar Habis
-
Netflix Dikabarkan Garap Serial Live-Action Persona, RPG Legendaris Atlus
-
Gong Seung Yeon Berpeluang Bintangi Drakor Calm Lies Bersama Lee Joon Hyuk