Keputusan induk sepak bola Asia, alias AFC terkait dengan kontestan di gelaran Piala Asia U-17 tahun depan membuat Indonesia mendapatkan keuntungan yang signifikan. Sepertimana dilansir laman Suara.com (1/7/2025), konfederasi tertinggi dalam persepakbolaan benua Asia tersebut memutuskan untuk memberikan jatah lolos otomatis kepada delapan negara yang mencapai babak perempat final dalam gelaran edisi terakhir.
Itu artinya, Indonesia beserta Uzbekistan, Arab Saudi, Korea Selatan, Korea Utara, Tajikistan, Jepang dan Uni Emirat Arab, berhak untuk langsung menjadi kontestan putaran final gelaran. Sementara Qatar yang ditetapkan menjadi tuan rumah, secara otomatis turut lolos ke gelaran melalui slot sebagai penyelenggara.
Uniknya, kelolosan otomatis Pasukan Garuda Muda ke turnamen Piala Asia U-17 tahun depan tak melulu mendatangkan keuntungan. Memang benar, Indonesia nantinya akan lebih "hemat energi" karena tak akan menjalani babak kualifikasi sepertimana tim-tim lainnya yang tak lolos ke babak delapan besar gelaran dan hanya tinggal fokus membangun kekuatan untuk turnamen yang sebenarnya.
Dengan kata lain, ketika tim-tim lainnya harus berpeluh-keringat dan bertarung mati-matian untuk memperebutkan jatah tujuh tiket yang tersisa, Pasukan Garuda Muda sudah bisa berleha-leha mempersiapkan diri, tak tak perlu kerja keras seperti negara-negara lainnya.
Namun ternyata, ada kerugian yang mengintai mereka setiap waktu dan bisa berbuah fatal jika Evandra Florasta serta kolega lengah dalam gelaran.
Tak mengikuti babak kualifikasi, memang menjadi sebuah keuntungan, namun juga mendatangkan sebuah kerugian di saat yang bersamaan. Bagaimana tidak, meskipun harus berpenat-penat di babak kualifikasi, namun tahapan tersebut merupakan salah satu ajang bagi tim-tim kontestan untuk mengukur kualitas, atau bahkan kelayakan mereka bertarung di turnamen yang sebenarnya.
Dengan kata lain, babak kualifikasi bisa menjadi ajang penggodokan sekaligus untuk mematangkan konsep permainan yang diusung oleh setiap negara, sebelum mereka terjun di putaran final gelaran. Dan jika nantinya ada tim yang langsung lolos secara otomatis, maka bisa saja mereka akan terkejut, karena belum melakukan "pemanasan" di tahapan kualifikasi bukan?
Dan hal ini juga pernah terjadi di ajang Piala Dunia 2002 di Korea Selatan-Jepang lalu. Ketika tim raksasa Prancis, tampil jauh di bawah form terbaiknya sebagai salah satu kekuatan utama persepakbolaan dunia.
Menyadur laman history FIFA, Timnas Prancis yang menjadi kampiun di gelaran edisi 1998, saat itu langsung mendapatkan privilege dengan lolos otomatis ke putaran final Piala Dunia 2002. Memang, sistem yang diterapkan saat itu benar-benar memfasilitasi tim pemenang di edisi sebelumnya, di mana mereka secara otomatis akan ambil bagian di turnamen selanjutnya tanpa perlu bersusah payah untuk bersaing di babak kualifikasi.
Dan Prancis saat itupun berada di pot unggulan pertama, di mana dalam drawing pembagian grup, mereka ditempatkan sebagai unggulan utama bersama dua tuan rumah Korea Selatan-Jepang, serta tim-tim raksasa seperti Brazil, Argentina, Italia, Jerman dan Spanyol.
Namun yang terjadi kemudian sangatlah mengecewakan. Prancis yang lolos otomatis ke turnamen, seperti tak siap untuk menghadapi kerasnya persaingan. Mereka seperti terkaget ujug-ujug harus bertarung di level tertinggi, tanpa ada semacam pemanasan penentu kelayakan sebelumnya.
Hasilnya pun sudah kita ketahui bersama, di mana gelaran Piala Dunia 2002 menjadi salah satu gelaran paling buruk yang dijalani oleh Prancis. Di akhir pertarungan babak grup, Prancis yang berlabel sebagai juara dunia dan unggulan pertama, justru hanya bisa menduduki juru kunci klasemen akhir grup A dengan hanya menorehkan satu poin, kebobolan tiga gol, dan tak mampu menciptakan barang sebiji gol pun.
Dan inilah yang harus diwaspadai oleh Anak-Anak Garuda di Piala Asia U-17 nanti. Jangan sampai tiket kelolosan otomatis yang mereka dapatkan ini, membuat mereka tak siap untuk menjalani turnamen yang sebenarnya, dan membawa nasib tak baik bagi mereka sepertimana Prancis di Piala Dunia 2002 lalu.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Realita Pahit Lulusan SMK: Niatnya Bantu Keluarga, Malah Terjebak Gaji Kecil di Luar Kota
-
Penerapan UU Transfer Daerah dan Nasib Remang Masa Depan PPPK: Efisiensi Berujung Eliminasi?
-
April Mop: Selain Bukan Budaya, Juga Tak Cocok dengan Rakyat Indonesia yang Nanggung Literasinya
-
Maaf Pendukung Timnas Indonesia! Kali Ini Saya Sepakat dengan Komentar Bung Towel
-
Tak Perlu Branding Berlebihan, Kualitas Herdman Terbukti Lebih Baik Ketimbang Kluivert
Artikel Terkait
-
Siapa Deston Hoop? Pemain Keturunan Bisa Jadi Bek atau Striker Tak Sabar Bela Timnas Indonesia
-
Kiper Keturunan Lumajang Sangat Bangga Bahas Timnas Indonesia
-
Sama-Sama Alumni Liga Denmark, Nasib Kevin Diks Bak Langit dan Bumi dengan Andalan Malaysia
-
Selamat Datang Pemain Keturunan Rp 2,8 Miliar Potensi Satu Klub dengan Mauro Zijlstra!
-
3 Keuntungan Nathan Tjoe-A-On Gabung SC Telstar
Hobi
-
3 Motor Touring Segala Medan Paling Canggih, Siap Taklukkan Jalan Apa Pun
-
Usai 4 Kali Juara bersama Verstappen, Gianpiero Tinggalkan Red Bull ke McLaren
-
Geser Status Calon Juara ke Marco Bezzecchi, Marc Marquez Atur Strategi?
-
Mengapa Toyota Supra MK4 dan Nissan GT-R R34 Jadi Mobil Favorit Banyak Orang?
-
Penuh Visi, John Herdman Dorong Transformasi Sistem Pembinaan Usia Dini
Terkini
-
Cerita Perantau di Batam: Gagal Makan Ayam Penyet, Ujung-ujungnya Mi Ayam Jadi Penyelamat
-
Pemanasan Sebelum Coachella! Pinky Up ala Katseye Bikin Hook-nya Nempel Terus di Kepala
-
Review Bloodhounds Season 2: Bromance Brutal Is Back, Udah Siap Liat Rain Jadi Villain?
-
Bertahan dengan Gaji UMR: Seni Agar Tidak Jatuh Miskin, Tapi Juga Tidak Pernah Kaya
-
Besok Sisa Sengsara? Udah, Rayakan Hari Ini Aja Bareng Lagu "Kita ke Sana" dari Hindia