Menjelang balapan di Red Bull Ring, Jorge Martin tengah menghadapi situasi yang cukup pelik. Pada sesi latihan bebas pertama, pembalap asal Spanyol itu masih bisa menutup hari di posisi kedelapan.
Namun, ketika memasuki sesi practice, grafik performanya justru menurun drastis hingga terperosok ke urutan keenam belas. Kondisi tersebut membuatnya gagal lolos langsung ke babak Q2, sesuatu yang tentu merugikan mengingat peran Q2 begitu vital untuk menentukan peluang start di grid depan.
Masalah Martin tidak berhenti sampai di situ. Di tengah sesi practice ia sempat terjatuh, untungnya insiden tersebut tidak berujung pada cedera serius, sehingga ia masih bisa melanjutkan akhir pekan balapan.
"Saya baik-baik saja, saya lega. Ini kecelakaan pertama sejak Qatar dan bahkan meminta Alpinestars untuk mengurangi airbag karena saya takut akan menghancurkan tulang rusuk saya. Untungnya semua berjalan lancar, saya turut berduka cita untuk tim. Itu kecelakaan yang parah dan motornya rusak parah," ujar Martin, dilansir dari laman GPOne.
Meski demikian, perasaan tidak nyaman mulai menghantui. Ia mengakui bahwa keyakinannya terhadap motor Aprilia RS-GP yang ditungganginya mulai goyah.
"Saya masih merasa motor saya tidak bagus, saya merasa sedang mengendarai motor, tapi saya tidak merasakan bagian depan motor menutup atau bergerak," katanya.
Ada sejumlah bagian trek yang membuatnya kesulitan, dan dari sebagian titik yang menantang, tikungan keempat menjadi momok paling besar menurut pengakuannya.
"T4 adalah yang terburuk, biasanya di T3 saya sangat kompetitif dan T1 tidak buruk. Sedangkan untuk T2, cengkeraman di bagian depan agak kurang, tapi T4 tetap menjadi titik yang paling rumit dan setelah kecelakaan itu saya kurang percaya diri untuk menghadapinya dengan sebaik-baiknya," tambah Martin.
Atas keraguan yang dia rasakan, Martin mencoba untuk lebih bijak dan dewasa dalam menghadapinya. Martin kemudian membandingkan perjalanannya dengan Marc Marquez. Dalam beberapa tahun terakhir, Marquez harus bergelut dengan badai cedera yang menghancurkan banyak momen emasnya.
"Dalam kasus Marc, dia menderita selama empat tahun sebelum kembali ke level ini. Ketika saya melakukan time attack, saya masih melakukannya di batas kemampuan, hanya saja sekarang saya berjuang untuk posisi lain, padahal sebelumnya saya berjuang untuk pole position. Saya masih ingin bertarung, tapi saya harus sabar, karena jika tidak risikonya adalah mengalami lebih banyak kecelakaan," jelasnya.
Martin menyadari bahwa situasinya tidak sedramatis kompatriotnya itu, tetapi bayangan tentang bagaimana karier bisa terhambat karena masalah fisik membuatnya berpikir lebih hati-hati. Dari sana, ia mencoba belajar bersabar, tidak terburu-buru mengambil risiko yang bisa berakibat fatal.
Kesabaran memang menjadi kunci utama bagi Martin saat ini. Sebagai seorang juara dunia, dia paham bahwa balapan tidak hanya soal kecepatan, tapi juga keamanan.
Karena itulah, meski posisinya di practice tidak ideal, ia memilih untuk tetap tenang dan bekerja sama dengan tim untuk menganalisis data. Tujuannya jelas, yakni untuk menemukan celah perbaikan agar performanya bisa kembali naik saat kualifikasi.
Balapan di Austria sendiri memiliki arti besar bagi Martin yang baru bangkit dari cedera panjang. Jika ia ingin menjaga peluang bersaing di papan atas klasemen, Martin harus bisa bangkit dari tekanan ini.
Ia sadar bahwa dukungan tim, mental yang kuat, dan strategi matang akan menentukan langkahnya. Kini, meski diliputi keraguan, ia memilih menatap ke depan dengan tekad untuk keluar dari situasi sulit ini tanpa mengulang kesalahan masa lalu.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Jelang MotoGP 2026: Jorge Martin Ingin Pulih dan Adaptasi dengan Cepat
-
Pedro Acosta Dekat dengan Ducati, Yakin Mau Bersanding dengan Marc Marquez?
-
16 Pembalap MotoGP yang Kontraknya Habis Tahun 2026, Lanjut ke Mana?
-
7 Fakta Unik MotoGP 2026, Tahun Terakhir Gunakan Mesin 1000cc
-
11 Tim Formula 1 Rilis Tampilan Baru Mobil 2026, Mana yang Paling Keren?
Artikel Terkait
-
Alex Rins Ditendang dari Yamaha? Paolo Pavesio Beberkan Faktanya
-
Tak Suka Tata Letaknya, Alex Marquez Tetap Ingin Kompetitif di GP Austria
-
Pakai Motor Ducati, Marc Marquez Siap Menang di Red Bull Ring
-
Jadwal MotoGP Austria 2025 Akhir Pekan Ini: Aksi Panas Kembali di Red Bull Ring
-
Flashback, Pecco Bagnaia Ingin Bisa Kompetitif Seperti Dulu Lagi
Hobi
-
Reuni Jarak Jauh: Alejandro Catena Terima Jersi Persija dari Jordi Amat
-
FIFA Series 2026, Ajang Debut John Herdman yang Terancam Sepi Kehadiran Suporter
-
Premier League: Mikel Arteta Ungkap Frustasi Arsenal usai Dijegal Wolves
-
Meski Berakhir Ricuh, Sudah Sepatutnya Persepakbolaan Indonesia Berterima Kasih kepada Persib
-
Meski Inferior Ketimbang Indonesia, Saint Kitts and Nevis Ternyata Miliki 10 Pemain Diaspora!