- Meski menang besar, penyakit lama muncul kembali, seperti egoisme dan show-off skill pemain.
- Kebiasaan buang peluang bisa jadi bumerang, apalagi saat melawan tim kuat dengan permainan kolektif.
- Timnas Indonesia menang 6-0 atas China Taipei, tampil dominan dengan penguasaan bola hingga 87%.
Gelontoran enam gol tanpa balas mewarnai pertarungan pertama Timnas Indonesia di laga FIFA matchday bulan September 2025. Dilansir laman Suara.com (5/9/2025), Timnas Indonesia yang berhadapan dengan tim semenjana asal Asia Timur, China Taipei, Emil Audero Mulyadi berhasil memberondong jala gawang tim lawan hingga setengah lusin gol.
Jordi Amat, Marc Klok, Eliano Reijnders, Muhammad Ramadhan Sananta dan Sandy Walsh menjadi aktor antagonis bagi pertahanan lawan pada laga tersebut dengan menciptakan masing-masing satu gol. Sementara satu gol lainnya, terjadi karena salah antisipasi dari Ming-Hsiu Chao yang menciptakan gol bunuh diri pada menit ke-23.
Secara keseluruhan, penampilan Timnas Indonesia di laga melawan China Taipei sendiri dapat dikatakan sangat memuaskan. Hampir di setiap komponen pertandingan yang ada, mereka mampu menguasai dan mendikte.
Bahkan dalam catatan laman livesport disebutkan, persentase ball possession yang mereka lakukan mencapai 87 persen berbanding milik China Taipei yang hanya berkisar di angka 13 persen saja.
Bukan hanya itu, dari segi penyerangan pun mereka tercatat sangat dominan. Sepanjang 90 menit permainan berjalan, Rizky Ridho dan kolega melakukan 20 tembakan ke gawang dengan 8 di antaranya mengarah tepat ke arah gawang dan berujung 6 gol.
Penyakit Lama Timnas Indonesia Kembali Muncul
Namun sayangnya, kemenangan besar yang diraih oleh Timnas Indonesia tersebut juga dibarengi dengan fakta-fakta minor yang terjadi di lapangan. Pada laga yang berlangsung di Gelora Bung Tomo Surabaya Jawa Timur tersebut, terlihat jelas bahwa beberapa penyakit lama yang dulu kerap muncul dalam permainan Skuat Garuda, kini mulai bermunculan kembali dan membuat kita menjadi gregetan.
Yang pertama tentu saja kita sepakat, di laga melawan China Taipei tersebut dua hal yang sudah cukup diminimalisir di Timnas Indonesia era Shin Tae-yong, yakni tendensi show-off skill dan sikap egois para pemain kembali muncul dalam berbagai momen.
Seperti misal, pada laga melawan China Taipei kemarin, beberapa pemain masih saja terlihat memaksakan diri dengan berlama-lama membawa bola, sehingga kerap kali kehilangan momen untuk melakukan distribusi yang tepat.
Jika di era Shin Tae-yong dahulu sikap seperti ini kerap mendapatkan teguran keras dari sang pelatih, namun di laga melawan Chin Taipei, keputusan untuk berlama-lama membawa bola justru semakin menjadi jadi imbas tak adanya peringatan dari sang pelatih.
Alih-alih melakukan distribusi bola dengan cepat, beberapa pemain Timnas Indonesia justru lebih senang mengotak-atik bola dan berusaha untuk mempertontonkan skill yang dimiliki meskipun dirinya berada dalam posisi terdesak dan rekannya berada dalam posisi yang lebih menguntungkan.
Selain sikap show-off yang muncul, laga melawan China Taipei ini juga diwarnai dengan sikap egois yang ditunjukkan oleh beberapa penggawa Garuda. Bahkan jika teman-teman cermat memperhatikan, hal ini sudah dipertontonkan semenjak babak pertama dimulai.
Beberapa peluang yang didapatkan oleh para pemain Indonesia, terbuang percuma karena mereka memaksakan diri untuk melakukan eksekusi ketimbang berbagi dengan rekannya yang lain. Maka tak mengherankan jika di babak pertama, kita bisa melihat ekspresi kekecewaan yang ditunjukkan oleh Ramadhan Sananta karena sang rekan tak membagi bola meskipun posisinya jauh lebih menguntungkan.
Dan hal ini juga berlanjut di babak kedua. Para pemain pengganti pun terlihat egois dalam melakukan eksekusi. Sehingga membuat beberapa peluang emas yang didapatkan oleh tim tuan rumah, berakhir dengan terbuang percuma.
Jika hal tersebut terus dilakukan, maka tentu saja Timnas Indonesia akan mendapatkan kerugian yang cukup besar kala berhadapan dengan tim-tim yang jauh lebih mapan daripada China Taipei.
Karena kita tahu, dalam pertandingan yang memiliki tensi tinggi, sebuah tim bisa saja mendapatkan hukuman berupa kekalahan ketika mereka menyia-nyiakan peluang karena egoisme para pemain. Terlebih lagi, jika tim lawan yang dihadapi berorientasi pada permainan kolektif dan mengedepankan nama besar tim ketimbang individu yang mereka miliki.
Baca Juga
-
Kesakralan Bulan Juni dan Pandangan Sederhana Saya Terkait Kesempurnaan Ide Pancasila
-
Visi Tinggi Presiden Prabowo dan Krisis Literasi Nasional yang Menjadi Karang Penghalang Besar
-
'Oleh-Oleh' Presiden Prabowo dari Luar Negeri: Antara Visi Visioner dan Mimpi Buruk Guru di Sekolah
-
Surga Jalur WNI Itu Memang Nyata, Kali Ini Lewat Sapi-Sapi Kurban Presiden
-
Pasar Padukuhan Eyang Putri, Sentra Kuliner yang Seolah Melawan Arus Modernitas Kabupaten Tuban
Artikel Terkait
-
FIFA Matchday 2025: Pesta Gol Lawan China Taipei yang Sejatinya Tak Terlalu Membanggakan
-
Mauro Zijlstra Langsung Debut di Timnas Indonesia Senior: Mimpi Jadi Kenyataan
-
Menang dari Taiwan Tak Jadi Tolak Ukur Kekuatan Timnas Indonesia, Mengapa?
-
Clean Sheet Timnas Indonesia vs Taiwan, Jordi Amat Puji Duet dengan Rizky Ridho
-
China Taipei, Gelontoran 6 Gol dan Kembali Bersinarnya para Pemain yang Sempat Tertepikan
Hobi
-
Jadwal MotoGP Hungaria 2026: Akankah Marc Marquez Mengulang Kesuksesannya?
-
Karier Tak Jelas, Elkan Baggott Berpeluang Kembali Dipinjamkan Musim Depan?
-
Dua Lawan Berat Menanti, Ini Target Utama Timnas Indonesia di FIFA Matchday Juni 2026
-
Mengukur Kekuatan Lini Belakang Timnas Indonesia saat Tanpa Nama Jay Idzes
-
Resmi! Cal Crutchlow Gantikan Johann Zarco di GP Mugello 2026
Terkini
-
In This Economy, Apakah Nasihat Hidup Hemat Masih Relevan bagi Gen Z?
-
Gen Z dan Impulsive Buying yang Bertabrakan dengan Zero Waste, Relate?
-
Polusi Udara Level 'Aman' Tetap Berisiko Bagi Kesehatan, Apa Dampaknya?
-
Sang Pengembara: Jejak Sunyi yang Menuntun Manusia Pulang ke Diri Sendiri
-
Ketika Iblis Iri: Pelajaran Berharga dari Rahasia Semesta Sebelum Dunia