- Hasil ini belum bisa dijadikan tolok ukur kekuatan Timnas, karena lawan tergolong lemah dan tampil dengan skuat lokal.
- Kemenangan ini diprediksi dan wajar terjadi, mengingat perbedaan peringkat dan kualitas pemain yang sangat jauh.
- Timnas Indonesia menang telak 6-0 atas China Taipei dalam laga FIFA Matchday di Surabaya.
Laga pertama dalam agenda FIFA matchday bulan September yang dilakoni oleh Timnas Indonesia berjalan sesuai dengan prediksi banyak pihak.
Bermain melawan tim asal kawasan Asia Timur, China Taipei, Emil Audero Mulyadi dan kolega berhasil memenuhi ekspektasi para pendukung setia mereka.
Dalam pertarungan yang berjalan di Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya tersebut, anak asuh Patrick Kluivert itu sukses mencukur tim lawan dengan skor sangat telak, enam gol tanpa balas.
Pada pertandingan tersebut, sepertimana informasi pertandingan yang dirilis oleh laman match report transfermarkt.com, enam gol yang membuat Pasukan Merah Putih berjaya diciptakan oleh Jordi Amat pada menit ke-4, gol bunuh diri Ming-Hsiu Chao pada menit ke-23, Marc Klok di menit ke-33, Eliano Reijnders di menit ke-38, Muhammad Ramadhan Sananta pada menit ke-58 dan ditutup dengan gol dari Sandy Walsh pada menit ke-60.
Menang Besar namun Terasa Tak Terlalu Membanggakan
Namun sayangnya, kemenangan besar yang dicatatkan oleh Timnas Indonesia atas China Taipei di laga FIFA matchday pertama ini serasa biasa saja dan tak terlalu membanggakan.
Pasalnya, dari segi apapun Timnas Indonesia memang sudah memenangi laga tersebut bahkan sebelum pertandingan dimainkan.
Sekarang, mari kita berpikir kritis, apa sih yang diharapkan ketika tim dengan peringkat ke-118 dunia bertemu dengan tim yang kini berada di posisi ke-172 FIFA? Tentunya para penikmat sepak bola yang awam sekalipun akan memprediksi kemenangan pasti akan berada di pihak Pasukan Garuda.
Belum lagi jika kita membahas terkait dengan perbedaan komposisi pemain yang dimiliki oleh kedua kesebelasan, di mana perbandingannya ibarat puncak gunung dengan kedalaman samudera. Tentunya dari sini saja kita sudah bisa menerka tim mana yang akan menjadi pemenang meskipun laga tersebut belum dimulai bukan?
Dan selain dua indikator tersebut, masih ada hal-hal lain yang tentunya sangat tidak berimbang untuk diperbandingkan antara kekuatan Timnas Indonesia dan China.
Seperti, ketika Indonesia bermain dengan para pemain berpengalaman yang banyak mentas di benua Eropa serta selalu ketambahan amunisi-amunisi anyar yang penuh dengan kualitas, di sisi seberang justru China Taipei bermain dengan skuat full lokal yang mana keseluruhan pemain yang dibawa untuk menjalani pertarungan melawan Indonesia, semuanya bermain di liga dalam negeri mereka.
Praktis, dalam pertandingan melawan Indonesia tersebut, tim asal Pulau Formosa tersebut hanya mengandalkan para pemain yang memiliki modal "pengalaman domestik", yang level kualitasnya sejauh ini kita ketahui bersama, tak sebagus para pemain yang mentas di liga-liga domestik negeri tetangganya di Asia Timur.
Dan sangat wajar jika di laga melawan Indonesia tersebut, penyerang naturalisasi mereka, John Benchy mereka daulat sebagai satu-satunya pemain untuk merepotkan pertahanan Pasukan Merah Putih karena memiliki kualitas yang cenderung lebih baik daripada para pemain lain yang ada dalam skuat.
Sehingga sangat wajar jika pertandingan uji coba melawan China Taipei ini mutlak menjadi milik Beckham Putra Nugraha dan kolega bukan?
Secara garis besar, Timnas Indonesia memang membanggakan dengan berhasil mencukur China Taipei dengan skor hingga setengah lusin gol. Namun patut diingat, hal tersebut sejatinya cukup wajar, mengingat gap kekuatan kedua tim yang berbeda sangat jauh.
Dan lagi, kemenangan atas China Taipei tak serta merta dijadikan tolok ukur sampai sejauh mana kualitas yang dimiliki oleh anak asuh Patrick Kluivert tersebut. Pasalnya, China Taipei sendiri juga selain termasuk tim dengan kekuatan sepak bola mapan di persepakbolaan benua Asia, mereka juga kerap fluktuatif dalam bermain.
Bahkan, sebelum berduel melawan Indonesia di bulan September ini, mereka sudah dihajar dengan skor 1-3 oleh Sri Lanka, tim yang saat ini menduduki peringkat ke-196 FIFA.
Baca Juga
-
Realita Dunia Orang Dewasa: Bekerja Terasa Jauh Lebih Nyaman, Efek Pimpinan Baru yang Pengertian
-
Bagi Sebagian Warga Rembang Asli, Gaji UMR adalah Sebuah Impian dan Pencapaian Prestasi
-
Realita Pahit Lulusan SMK: Niatnya Bantu Keluarga, Malah Terjebak Gaji Kecil di Luar Kota
-
Penerapan UU Transfer Daerah dan Nasib Remang Masa Depan PPPK: Efisiensi Berujung Eliminasi?
-
April Mop: Selain Bukan Budaya, Juga Tak Cocok dengan Rakyat Indonesia yang Nanggung Literasinya
Artikel Terkait
-
Mauro Zijlstra Langsung Debut di Timnas Indonesia Senior: Mimpi Jadi Kenyataan
-
Menang dari Taiwan Tak Jadi Tolak Ukur Kekuatan Timnas Indonesia, Mengapa?
-
Clean Sheet Timnas Indonesia vs Taiwan, Jordi Amat Puji Duet dengan Rizky Ridho
-
China Taipei, Gelontoran 6 Gol dan Kembali Bersinarnya para Pemain yang Sempat Tertepikan
-
Gol Spesial Sandy Walsh untuk Kakek Saat Bela Timnas di Kampung Halaman
Hobi
-
Bersaing! Bos Aprilia Akui Jorge Martin Lebih Unggul dari Marco Bezzecchi
-
Performa Gacor di Persib, Eliano Reijnders Berpeluang Kembali Merumput di Eropa
-
Brap Brap Brap! RX-7 VeilSide Han di Tokyo Drift Masih Jadi Mimpi Anak JDM
-
Gelar Juara Dunia Terbuka, Jorge Martin Tak Menolak Jika Ada Kesempatan
-
Karier Tak Menentu, Bali United Bakal Pinjamkan Jens Raven Musim Depan?
Terkini
-
Seni Hidup Sederhana dalam Nasi Panas dan Ikan Asin
-
Generasi Z dan Ilusi Kesuksesan Modern: Jabatan Masih Relevan Nggak Sih?
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Mata yang Mengintip dari Dalam Air
-
Review Serial Sins of Kujo: Realita Pahit Hukum yang Memihak Para Kriminal