Meritokrasi merupakan sebuah mimpi indah bagi mereka yang memiliki keahlian, kecakapan, dan prestasi kerja baik. Sekaligus menjadi mimpi buruk bagi mereka yang menaikkan kadar hidupnya hanya dengan berbekal mencari kedekatan dan pencitraan semata, tanpa perlu banyak berusaha memperbaiki kualitas maupun nilai diri.
Sistem ini memang secara adil menitikberatkan pada potensi dan kecakapan seseorang dalam sebuah bidang profesi, sehingga mendapatkan kesejahteraan juga nasib baik di masa depan. Hal inilah yang sedang diupayakan oleh pemerintah dengan melakukan rekonstruksi pada sistem penerimaan aparatur Negara serta sistem penilaian dan budaya kerja di birokrasi Indonesia.
Jika dijalankan secara berkelanjutan dan kondusif, sistem ini akan menumbuhkan iklim persaingan sehat, mendorong seseorang untuk maju, memotivasi mengejar prestasi, dan disiplin membangun diri.
Akhirnya sistem ini nantinya membuka jalan bagi mereka yang memiliki potensi besar dan kecakapan luar biasa. Para pegawai dan karyawan akan memiliki pemikiran, bahwa tidak ada pilihan lain meniti dan sukses di puncak karier selain meningkatkan kompetensi serta nilai diri.
Jika pemerintah dan dunia kerja serius menegakkan sistem meritokrasi, maka kultur budaya kolonial maupun feodal yang masih mengakar kuat pada birokrasi di Indonesia akan perlahan terkikis.
Budaya kerja dan birokrasi yang dulunya sarat dengan nuansa KKN, penyogokan, penyuapan, mencari muka, menjilat, menindas, menjatuhkan, memanfaatkan jabatan , membeli pangkat, dan perilaku negatif lainnya, bawaan kolonial perlahan akan luntur .
Dengan digalakkan sistem meritokrasi, mau tak mau, tak ada lagi anak buah yang mencari kedekatan, mencari muka, atau menyuap dengan cara apapun. Sementara di sisi atasan, mereka tidak boleh lagi menjatuhkan penilaian atas dasar suka dan tidak suka, faktor kedekatan dan kekariban, subyektifitas ataupun permainan politik kantor.
Dengan sistem ini, hubungan antara atasan dan bawahan tidak lagi bersifat layaknya juragan dan pesuruh, namun keduanya berjalan setara sebagai mitra kerja yang saling menumbuhkan serta membangun.
Dengan sistem ini, kemungkinan besar tidak akan ada lagi taktik mengambil hati atasan dengan prinsip Asal Bapak Senang (ABS) ,atau pengangkatan jabatan yang bersandar pada faktor kedekatan, politik identitas, serta alasan suka atau tidak suka.
Iklim bekerja macam inilah yang sebenarnya sejalan dengan kompetisi di era globalisasi dan revolusi industri generasi keempat, yang seolah ingin menjaring gen-gen pemenang serta yang terbaik di bidangnya masing masing. Dengan sistem ini, tentu akan memudahkan pula menempatkan orang yang tepat di tempat yang tepat.
Sementara bagi mereka yang belum memenuhi kualifikasi, masih bisa beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan banyak belajar serta menempa diri. Perlu juga keluar dari zona nyamannya.
Tentunya sistem meritokrasi bukan kartu mati bagi mereka yang masih dalam proses berkembang dan belajar. Pasalnya, masih terbuka peluang untuk mengejar perbaikan jika memiliki kemauan dan kemampuan.
Sistem ini pada akhirnya memihak kepada mereka yang memiliki kapasitas dan kompetensi di bidang pekerjaanya, baik dalam hal mendapatkan pengakuan, perlakuan setimpal, penghargaan, status kepegawaian hingga perjalanan karienya.
Harapannya tentu, sostem ini tak hanya menjadi mimpi indah dan pemanis di bibir semata, namun benar benar direalisasikan serta diwujudkan dengan keseriusan maupun keberanian.
Baca Juga
Artikel Terkait
Kolom
-
Tak Harus Selalu Upgrade Skill: Kita Juga Butuh Waktu Menjadi Diri Sendiri
-
Takut Menikah dan Pilih Childfree: Kebebasan atau Cermin Krisis Ekonomi?
-
Tak Semua Pesan Harus Dibalas Sekarang, Berhenti Jadi Terlalu Available!
-
Jebakan Phubbing: Ketika Layar HP Mengikis Kehangatan Hubungan Nyata
-
Di Balik Rekor Kunjungan Wisatawan: Saat Air Bersih Warga Dikorbankan untuk Vila Mewah
Terkini
-
Sinopsis Good Night, Dracin Terbaru Kevin Guo dan Zhang Xue Ying di Youku
-
Grand Hotel De Djokja Hadirkan Pengalaman Gastronomi Nusantara dalam WIG 2026
-
White Fox Garap Anime How I Became King by Eating Monsters, Tayang 2027
-
Sinopsis Wildwood: Animasi Stop-Motion Raih Skor Sempurna Rotten Tomatoes
-
Review Film The Social Reckoning: Mengkritik Kehancuran Etika Teknologi