Partai Demokrat kembali menegaskan bahwa posisinya akan terus berpihak pada rakyat. Hal itu disampaikan pada ulang tahun ke-20 berdirinya partai Demokrat, di Jakarta Convention Centre, Kamis (9/9/2021) lalu.
Menariknya, pada tema HUT ke-20, Partai Demokrat mengusung tema “Demokrat Berkoalisi dengan Rakyat”.
Tema tersebut bisa dimaknai bahwa partai Demokrat ingin menunjukan selalu berada di tengah rakyat dan akan siap sedia membela kepentingan rakyat. Cuma masalahnya, sikap ini bisa konsisten atau tidak?
Pasalnya, berada di tengah rakyat artinya harus selalu responsif terhadap berbagai permasalahan, tanpa pandang bulu, termasuk saat pandemi Covid-19 ini.
Ketika ada kebijakan yang tidak memihak pada rakyat, Partai Demokrat seharusnya berani bersuara lantang untuk menentang hal tersebut.
Memang harus diakui bahwa sistem pemerintahan kita tidak mengenal namanya oposisi. Sebab kita bukan menganut sistem parlementer. Akibatnya, tidak ada namanya faksi partai politik yang benar-benar berada di jalur oposisi.
Kendati demikian, dalam konteks demokrasi, bukan menjadi alasan utama untuk menyurutkan sikap oposisi politik bagi partai. Dengan kata lain, paling tidak, sikap politik dari Partai Demokrat harus berani menyatakan diri sebagai partai oposisi dan menjadi saluran suara rakyat.
Artinya, rakyat saat ini menantang partai Demokrat untuk menjadi oposisi. Mampukah Partai Demokrat berkoalisi dengan rakyat. Caranya dengan memperjuangan setiap persoalan yang dihadapi oleh rakyat. Inilah yang sangat dinantikan oleh rakyat.
Pasalnya, rakyat saat ini sangat membutuhkan partai yang benar-benar berani mengawal setiap persoalan riil di tengah masyarakat. Bukan partai yang menyatakan oposisi sejati, tapi berjalan setengah hati.
Hal itu tanpa alasan. Sebab mayoritas partai politik telah masuk dalam koalisi pemerintahan Joko Widodo. Oleh sebab itu, tentu akan sangat sulit mengharapkan partai politik yang menjadi koalisi pemerintahan untuk berani memperjuangkan nasib rakyat, atau setidaknya menolak kebijakan yang jelas-jelas akan merugikan rakyat.
Singkat kata, bila kemudian partai Demokrat bisa konsisten terus berada di jalur oposisi, tentu ini akan menutupi semua luka lama.
Artinya, ini juga dapat memberikan nilai elektoral bagi Demokrat ketika berkontestasi pada Pemilu 2024 mendatang. Oleh sebab itu, bukan tidak mungkin, sikap oposisi ini bisa mengantarkan partai Demokrat menjadi tiga besar dalam Pemilu 2024 mendatang.
Tag
Baca Juga
-
Ancaman Sanksi dari PDIP Soal Capres Terkesan Lebay
-
Mengapa Video Santri Tutup Telinga saat Dengar Musik Begitu Viral?
-
Gegara Bentangkan Poster ke Jokowi, Akhirnya Suroto Diundang ke Istana
-
Pejabat Negara Makin Kaya Raya Selama Pandemi, Bagaimana Sikap Publik?
-
Pantaskah Ganjar Pranowo Disebut Kepala Daerah Paling Partisipatif?
Artikel Terkait
Kolom
-
Sumatra Gelap Gulita, Harta Rp 110 Miliar Dirut PLN Jadi Sorotan Netizen
-
Kenapa Istirahat Laki-laki Dianggap Kebutuhan, Tapi Bagi Perempuan Itu Kemewahan?
-
Gertakan Menkeu Soal Rupiah Rp 15.000: Angin Segar atau Janji Manis?
-
Polymarket Diblokir: Saat "Gercep" Komdigi Hanya Berlaku Jika Mengusik Penguasa?
-
Perempuan Era Digital: Tampil Kece di Luar, Pusing Sendiri di Akhir Bulan
Terkini
-
Dibalik Wajah Sempurna: Mengupas Ain, Horor Psikologis Tentang Bahaya Menjadi Pusat Perhatian
-
4 HP Murah Baru 2026 yang Layak Dibeli: Baterai Besar, Kamera Tajam, dan Harga Bersahabat
-
Petualangan Lima Sekawan yang Ikonik di Buku Enid Blyton
-
Lewat Lensa Kamera, APC Angkat Cerita Kaum Marginal dalam Pameran Fotografi
-
Anime Grand Blue Season 3 Rilis Juli 2026, Petualangan ke Palau Dimulai