Xavi datang ke Barcelona ketika Blaugrana sedang rerpuruk. Berada di bawah naungan Ronald Koemand, El Barca tersungkur lemas bagaikan orang berlari yang berhenti karena terengah. Barcelona tak menggila seperti yang kita lihat pada dulu.
Dan, sejak ditangani Xavi Hernandez, performa Bercelon mulai membaik. Intensitas dan gaya permainannya sangat jauh dengan taktikal Koeman. Arahan Xavi perlahan memperlihatkan bahwa El Barca akan kembali ke permainan Barcelona yang dulu. Tajam, sangar dan menakutkan.
Kembalinya Xavi ke Cam Nou sebagai pelatih, memberikan warna yang berbeda bagi Pedri dan kolega. Gaya permainan yang impresif, agresif dan dominan adalah tidak lepas dari gaya kepalatihan Xavi di Al-Sadd. Dan itu mulai dirasakan oleh kita ketika kita melihat Barcelona melakoni laga.
Apakah kepalatihan Koeman membawa Barcelona ke jurang hitam? Tidak. Semua penggemar sepak bola tentu sudah lazim dan paham bahwa seorang pelatih tidak mungkin menenggelamkan klub yang sedang ia tangani. Saya rasa, Koeman hanya kurang beruntung dan gagal memberikan yang terbaik bagi Bercelona.
Apakah Koeman tidak merekrut pemain berkelas? Saya rasa kontribusinya soal pemain lumayan dan cukup bagus. Luuk de Jong, Frenkie de Jong, Memphis Depay hinga pemain-pemain muda seperti Nico Gonzalez adalah tidak lepas dari peran mantan pemain Barcelona tahun 90-an itu. Sekali lagi, ia hanya gagal memainkan intensitas dan gaya permainan yang diinginkan oleh kita semua.
Masuknya Xavi di bangku kepalatihan El Barca sebagai pengganti Koeman memang berat. Betapa tidak, ia harus membangkitkan asa Barcelona yang nyaris terjun ke jurang degradasi. Dan Xavi menjawab dengan baik nasib Dembele dan kawan-kawannya. Kini, Barcelona sudah menginjakkan kakinya di empat besar klasemen sementara.
Apakah Xavi lebih baik dari Koeman? Sebab Koeman mampu membawa Barcelona juara Copa Del Rey. Sementara Xavi gagal di ajang itu. Begini. Barcelona juara Copa Del Rey bukan karena Koeman sepenuhnya. Hal itu tidak lepas dari sang mega bintang, Lionel Messi. Barca masih diperkuat La Pulga kala itu.
Sementara kini, Xavi banting tulang dengan pemain muda. Toh, saat Copa Del Rey kemarin, sejak ditangani Xavi, Aubameyang, Ferran dan Adama masih belum ada dan tak menjadi skuad Blaugrana. Andai mereka ada di situ, mungkin nasibnya juga berbeda. Jangankan Copa Del Rey, Liga Europa saja, Napoli dibungkam 5:3 dengan skor agregat oleh Xavi. Atletico Madrid dibungkam 4:2 oleh Barcelona.
Baca Juga
-
Final Piala Super Spanyol: Mengurai Benang Kusut Permasalahan Barcelona
-
Chat Dosen Pembimbing Harus Sopan biar Tugas Skripsi Lancar Itu Nggak Cukup
-
5 Tradisi yang Dulu Sering Dilakukan, tapi Kini Sudah Jarang, Apakah di Kampungmu Juga?
-
Wisata Goa Soekarno Sumenep: Dulu Berkawan Keramaian, Kini Berteman Kesepian
-
3 Cara agar Video TikTok Ditonton Banyak Orang meski Sedikit Pengikutnya, FYP Bos!
Artikel Terkait
Kolom
-
Jujur, Apakah Piala Dunia Benar-Benar Bikin Gen Z Jadi Kurang Produktif?
-
Piala Dunia 2026 Datang, Waktunya UMKM Panen Cuan Gila-gilaan dari Nobar!
-
100 Tahun Naar de Republiek Indonesia: Menelanjangi Neokolonialisme 2026, Republik untuk Siapa?
-
Kenapa La Copa de la Vida dan Waka Waka Masih Jadi Jawaranya Lagu Piala Dunia?
-
Cara Saya Menemukan Kembali Makna Proses di Balik Lembar Pengesahan Skripsi
Terkini
-
Ahmad Tohari dan Realisme Magis yang Sunyi dalam Lintang Kemukus Dini Hari
-
Yang Datang Setelah Menggosipkan Orang
-
Bukan Mistis! Ini Alasan Kenapa Kamu Sering Lihat Wajah Makhluk Hidup di Benda Mati
-
Review Dukun Magang: Komedi Absurd yang Sukses Bikin Merinding Sekaligus Ngakak!
-
Bukan Karena Malas, 5 Hal Ini Jadi Alasan Utama Kenapa Kamar Anak Kos Cepat Berantakan