Indonesia merupakan negara yang kaya akan suku, bahasa, ras, agama, adat-istiadat, serta berbagai perbedaan lainnya yang menjadikan negara ini begitu kaya. Sehingga tidak mengeherankan jika Indonesia menjadi negara yang menjadi sorotan dunia untuk kategori keberagaman. Negara dengan kepulauan terbesar di dunia yakni sebanyak 17.508 pulau dan dihuni oleh 360 suku bangsa ini tentunya memberikan warna tersendiri dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya, termasuk dalam hal toleransi.
Barangkali toleransi menjadi budaya yang melekat pada denyut nadi bangsa ini. Karena melalui toleransi ini, keberagaman dapat disikapi secara dewasa dan saling menghargai satu sama lain, termasuk di lingkungan kampus. Dewasa ini, kampus menjadi salah satu tempat yang menjadi akses pertukaran budaya dan adat-istiadat dari berbagai daerah melalui mahasiswanya, termasuk di Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta yang tidak hanya memiliki mahasiswa dari berbagai daerah yang berbeda di Indonesia tetapi juga mahasiswa asing yang mengenyam ilmu di dalamnya dan membawa adat istiadat yang menambah warna keberagaman yang ada.
Beragamnya mahasiwa dengan perbedaan latar belakang yang begitu kompleks menyebabkan kampus menjadi rentan akan konflik. Namun sisi positifnya, kampus bisa menjadi sarana pertukaran informasi dan pengalaman antar mahasiswa dari berbagai daerah sehingga pengetahuan dan wawasan mahasiswa akan semakin kaya.
Bagi penulis, perbedaan latar belakang budaya menjadi salah satu bentuk keberagaman yang paling seksi diantara keberagaman lainnya. Yang mana perbedaan budaya akan terasa begitu indah ketika disatukan dalam toleransi kehidupan sehari-hari baik di meja perkuliahan maupun dalam lingkung tempat tinggal para mahasiswa.
Dari adanya budaya yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lain yang bertemu dalam ruang diskusi akademis akan menjadikan keberagaman satu ini sebagai topik yang sangat segar untuk dikupas. Apalagi jika dialog interaktif antar mahasiswa dalam ruang diskusi ini hidup sedemikian asyiknya. Maka bukan tidak mungkin kampus bisa menjadi satu wadah pemersatu budaya mahasiswa yang berbeda-beda menjadi satu kesatuan utuh yakni generasi muda Indonesia yang menjunjung tinggi toleransi.
Oleh karena itu, perlu adanya keterbukaan dalam berpikir dan keluasan dalam bertindak sehingga para mahasiswa mampu menyikapi setiap perbedaan yang ada. Dengan demikian, mahasiswa akan mampu memandang perbedaan sebagai suatu bentuk seksi dari keberagaman yang patut untuk disyukuri.
Tag
Baca Juga
-
Dear HRD, Ini 6 Cara Membangun Lingkungan Kerja yang Positif
-
Kamu Seorang Karyawan? Yuk Kenali 6 Jenis Izin Meninggalkan Pekerjaan ini!
-
Ketahui Waktu Istirahat dan Izin untuk Meninggalkan Pekerjaan Menurut UU Ketenagakerjaan dan Cipta Kerja
-
4 Tantangan yang Harus Dihadapi oleh HRD di Perusahaan, Kamu Harus Siap!
-
5 Tips untuk Mengatasi Overthinking di Kantor, Terapkan Mindfullness!
Artikel Terkait
-
Viral Polisi Suruh Pendemo Tolak UU TNI Cap Jari dan Foto, Publik Murka: Mereka Penjahat?
-
Demo Tolak UU TNI, Mahasiswi Ini Skakmat Annisa Mahesa: Diskusi Baik-baik Mau Didengar?
-
Pendaftaran UTBK Ditutup, Peserta Diminta Cek Kembali Lokasi Ujian dan Syarat Pembayaran
-
Aksi Tolak UU TNI di Jakarta Berakhir Ricuh
-
Massa Pendemo Tolak UU TNI di DPR Dipukul Mundur Aparat, Satu Motor Ludes Terbakar!
Kolom
-
AI Ghibli: Inovasi atau Ancaman Para Animator?
-
Menelisik Kiprah Ki Hadjar Dewantara dalam Pendidikan dan Politik Indonesia
-
Penurunan Harga BBM: Strategi Pertamina atau Sekadar Pengalihan Isu?
-
Jumbo: Langkah Berani Animasi Lokal di Tengah Dominasi Horor
-
Ketimpangan Ekonomi dan Pembangunan dalam Fenomena Urbanisasi Pasca-Lebaran
Terkini
-
Tayang Mei, Bae Doo Na Alami Cinta Tak Terkendali dalam Film Korea Virus
-
Tragedi di Pesta Pernikahan dalam Novel Something Read, Something Dead
-
Webtoon My Reason to Die: Kisah Haru Cinta Pertama dengan Alur Tak Terduga
-
Masjid Agung Sleman: Pusat Ibadah, Kajian, dan Kemakmuran Umat
-
3 Tahun Hiatus, Yook Sung Jae Beberkan Alasan Bintangi 'The Haunted Palace'