Kekerasan terhadap perempuan masih menjadi masalah yang besar di seluruh dunia, terutama di dunia daring seperti sekarang ini.
Untuk mengatasi masalah ini, kampanye digital telah menjadi salah satu upaya yang dipandang efektif membangun kesadaran dan mendorong partisipasi masyarakat mengambil tindakan nyata.
BACA JUGA: Hariati Sebut Venna Melinda Mohon-mohon ke Ferry Irawan Akui Tindakan KDRT
Kampanye digital untuk penghapusan kekerasan terhadap perempuan telah memperlihatkan tanda-tanda keberhasilan besar dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam kampanye ini, media sosial dan teknologi digital digunakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya mengatasi kekerasan terhadap perempuan dan mengajak orang untuk bertindak.
Salah satu contoh kampanye digital yang saat ini sedang berlangsung adalah #ThePowerofWe oleh #YoursayCampaign untuk #InternationalWomensDay di Indonesia yang melibatkan relawan penulis, kemudian menyebarkan ke seluruh penjuru nusantara.
Kampanye ini memanfaatkan media sosial untuk memperkuat suara perempuan yang telah menjadi korban kekerasan berbasis gender dan mengajak khalayak melakukan tindakan nyata dalam memerangi kekerasan.
Selain itu, kampanye digital juga memiliki peran penting dalam membantu individu-perempuan agar melaporkan tindakan kekerasan yang dialami.
Di banyak negara, stigma sosial dan kurangnya akses terhadap sistem peradilan sering membuat perempuan korban tampak enggan untuk melaporkan kekerasan.
Namun, kampanye digital dapat membantu melemahkan stigma ini dan memberikan akses yang lebih mudah dan anonim bagi perempuan untuk melaporkan kekerasan.
Namun, kampanye digital juga memiliki kelemahan dan tantangan yang perlu diatasi. Salah satu tantangan terbesar adalah terbatasnya akses dan kecakapan teknologi di kalangan perempuan yang berada di daerah terpencil atau miskin, karena dapat mengakibatkan kesenjangan dalam partisipasi dan mengurangi efektivitas kampanye digital dalam mencapai tujuannya.
Selain itu, kampanye digital juga dapat menjadi bahan candaan dan pelecehan di media sosial, terutama bagi perempuan yang memperjuangkan haknya. Hal ini dapat membuat perempuan merasa tidak aman dan kehilangan spirit-motivasi untuk berpartisipasi dalam kampanye.
BACA JUGA: CEK FAKTA: Bharada E Keracunan di Penjara Buntut Teror Sambo, Benarkah?
Kampanye digital ternyata telah membawa perubahan signifikan dalam memerangi kekerasan terhadap perempuan. Namun, tantangan dan "hambatan" yang ada perlu diatasi agar kampanye digital dapat mencapai tujuannya secara efektif-inklusif bagi seluruh perempuan dan lainnya.
Kampanye digital menjadi lebih penting untuk mengatasi masalah kekerasan terhadap perempuan dan membangun kesadaran terutama di Indonesia. Mulailah dengan tagar #ThePoweofWe, #YoursayCampaign.
Baca Juga
-
Urusan Energi Hijau dan Panasnya Bumi yang Bikin Cemas
-
Mengapa Keadilan Gender Sering Kali Kandas di Dapur Rumah Tangga
-
Demi Korban atau Selamatkan Muka? Menelanjangi Borok Penanganan Kasus di SMAN 1 Sentolo
-
Jalan Teknokratis Suahasil Nazara Menuju Kursi Menteri Keuangan
-
Menilik Survei Harvard-Gallup: Bahagia di Atas Kertas atau Sekadar Daya Tahan?
Artikel Terkait
Kolom
-
Ancaman RUU Penyiaran: Larang Investigasi hingga Pangkas Kode Etik Jurnalis
-
Tanpa Kita Sadari, Politik Mempengaruhi Kehidupan Lingkungan dan Satwa
-
Tidak Selalu Harus Hadir: Mengapa Memberi Ruang dalam Relasi Itu Penting?
-
Bukan Cuma Dua Musim, Laboratorium Sedusun Bongkar Mitos lewat Kearifan Gunungkidul
-
Ketika AI Jadi Jalan Pintas, Buku Makin Ditinggalkan
Terkini
-
Ulasan Film Pendek "Berdoa, Mulai": Mengurai Mayoritas di Sekolah Negeri
-
Sinopsis Life Trade, Drama Jepang Dibintangi Baba Fumika dan Maki Yoko
-
Stop Kebanyakan Scroll! Saatnya Kamu Memberi Jeda untuk Diri Sendiri
-
Exynos 2700 Sudah Diproduksi, Apakah Galaxy S27 Ultra akan Pakai Chip Ini?
-
Lebih Dewasa! NCT Wish Ungkap Pertumbuhan Musikalitas di Album Baru, I SPY