Beberapa bulan terakhir terjadi peristiwa viral yakni orang tua terlibat langsung dalam masalah anak-anak mereka. Akan tetapi sangat disayangkan tindakan para orang tua tersebut tampaknya berlebihan. Tindakan mereka bahkan menimbulkan permasalahan hukum serius.
Kita ingat ada kejadian seorang ayah pengusaha bernama Ivan Sugianto yang memaksa seorang siswa SMA, teman anak sekolahnya, untuk menggonggong dan meminta maaf di depan khalayak publik. Hal itu dipicu si pengusaha mendapat aduan dari anaknya yang tak terima anaknya dirundung oleh siswa tersebut.
Selain itu, ada kasus penganiayaan terhadap seorang dokter koas di Palembang diduga terkait masalah jadwal kerja. Si ibu dokter koas bertemu dengan teman anaknya tadi dan terjadi penganiayaan yang dilakukan si sopir keluarga mereka. Menurut rekaman suara beredar, si ibu rupanya juga tak terima anaknya yang tunggal dianggap manja.
Jika kita lihat, anak-anak tadi bisa dikatakan bukan lagi anak kecil. Namun tentu saja mereka adalah anak yang sedang proses menuju dewasa. Menjadi suatu keniscayaan jika suatu ketika anak-anak akan menghadapi masalah di kehidupannya. Dari peristiwa ini secara tidak langsung memberikan kita suatu pertanyaan penting: sejauh mana orang tua terlibat dalam masalah yang dihadapi anak-anak mereka? Apakah orangtua selalu menjadi "pahlawan" yang senantiasa hadir melindungi dan membela anak?
Setiap orang tua selalu merasa perlu melindungi anak-anak mereka dari segala bentuk kesulitan. Pernyataan ini saya rasa tidak salah. Itulah tugas dan tanggungjawab sebagai orang tua bagi anak.
Namun, meskipun niat ini baik, di sisi lain, orang tua terlalu banyak campur tangan justru dapat menghambat perkembangan anak. Kita tengok kembali permasalahan pengusaha yang memaksa anak SMA untuk menggonggong. Hal itu jelas tindakan emosional dan tidak manusiawi. Ingin melindungi anak sendiri, orang tua justru menjadi pelaku kekerasan terhadap anak lain. Orang tua tersebut malah memberi contoh buruk bagaimana penyelesaian suatu masalah dengan cara kasar dan menghina.
Dengan demikian, seharusnya orang tua mengajarkan anak untuk mengelola konflik dengan bijak. Misalnya, anak diberi ruang untuk menyelesaikan masalah dengan sesama antar teman. Atau, jika dirasa sudah sangat mengganggu, anak bisa melaporkan permasalahan tersebut kepada pihak-pihak seperti guru, guru BP, wali kelas atau sekolah agar dibantu penyelesaiannya.
Kita lihat lagi peristiwa lainnya adalah kasus penganiayaan terhadap seorang dokter koas, Muhammad Luthfi. Ibu dari seorang dokter koas bernama Lady Aurelia disebut tidak setuju dengan jadwal jaga. Ibu Lady langsung campur tangan dan mengajak Luthfi bertemu untuk membahas masalah tersebut.
Saya rasa, ini juga tindakan orang tua yang terlalu jauh dan berlebihan. Calon dokter yang menjalani koas seharusnya punya jiwa dan tanggungjawab utama terhadap pasien. Sehingga seharusnya bukan suatu beban jika jadwal tidak sesuai yang diinginkan. Terlebih, calon dokter juga adalah mahasiswa yang sudah dewasa. Tentu mereka memiliki kesempatan dan ruang untuk berdiskusi, berpendapat hingga menyelesaikan masalahnya. Komunikasi (pertemuan) antara orang tua dan teman anak rasanya justru semakin memperkeruh hingga menciptakan penganiayaan yang mestinya tidak perlu terjadi.
Dalam hal ini, sekali lagi, niat orang tua tentu baik. Orang tua juga harus menyadari bahwa kehidupan anak-anak tidak selalu mudah. Ada berbagai tantangan sepanjang hidup mereka, baik dari lingkup kecil hingga besar. Namun disitulah nilai dari pembelajaran hidup. Anak-anak diharapkan bisa belajar dari masalah dan tantangan. Ketika orang tua memberikan ruang bagi anak-anak untuk menyelesaikan masalah mereka secara mandiri, itu menjadi bagian dari proses pendidikan dan pembelajaran hidup.
Selama masalah yang dihadapi anak tidak melanggar hukum atau membahayakan mereka, sudah sepatutnya orang tua meminta anak-anak agar menghadapi dan menyelesaikan masalahnya. Hal itu bisa memberikan pemahaman pada anak tentang bertanggung jawab atas hidup mereka. Namun demikian, tak berhenti disana saja, orang tua tetap memberikan dukungan moral dan arahan.
Penutup
Berbagai peristiwa viral tentang keterlibatan orang tua dan anak yang selama ini terjadi memberikan kita suatu refleksi. Bahwa orang tua memiliki peran penting dalam pembentukan karakter anak. Namun demikian, orang tua harus memahami kapan waktu tepat mereka ikut andil dalam masalah anak. Kapan orang tua harus memberikan dukungan, dan kapan mereka harus memberikan ruang pada anak agar menyelesaikan dulu masalahnya.
Dengan memberikan kesempatan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, diharapkan anak-anak bisa belajar kemandirian, ketahanan mental, serta menyelesaikan masalah dengan antar tema. Sekali lagi, orang tua, tak ada salahnya orang tua memiliki niat dan tanggungjawab untuk melindungi anak. Tetapi, orang tidak bisa berlebihan dalam terlibat masalah anak hingga menyebabkan anak tidak berkembang dan berjiwa kesatria.
Baca Juga
-
Taruna Akmil Latih Sekolah Rakyat: Haruskah Militer Masuk Ranah Pendidikan?
-
Saat Anak SD Harus Ikut Aksi, Apakah Kita Sudah Benar-benar Mendengar Mereka?
-
Saat Jam Tidur Dilonggarkan: Nostalgia Masa Kecil Menonton Piala Dunia dengan Keluarga
-
Mahasiswa Demo Atas Nama Rakyat: Tapi Rakyat yang Mana?
-
Ketika Wapres Gibran Bicara AI: Apa yang Sebenarnya Dibutuhkan Rakyat?
Artikel Terkait
Kolom
-
Membongkar Rapuhnya Pendidikan Indonesia: Masihkah Kita Mau Menyangkal?
-
Kapan Nikah? Bukan Sekadar Basa-basi, Melainkan Beban Ekspektasi Tak Kasat Mata
-
Boro-boro Financial Freedom, Gen Z Masih Paycheck to Paycheck
-
Mekanisme Reshuffle Kabinet: Hak Prerogatif atau Batas Konstitusi?
-
Menolak Lupa September Hitam: Membedah Rentetan Pelanggaran HAM Indonesia
Terkini
-
SSS-Class Revival Hunter Dapat Adaptasi Anime, Tayang Januari 2027
-
Kulit Bebas Breakout! 5 Low pH Cleanser Tea Tree yang Ramah Skin Barrier
-
Review Practical Magic: The Book of Magic: Saat Perempuan Menulis Takdirnya
-
VR46 Rilis Buku Baru, Marc Marquez Ngaku Baru Mau Baca Kalau Sudah Pensiun
-
Sepatu Ajaib Menyeberangi Sungai